Hobbes

Hobbes terlahir sebagai seorang penganut empirisme yang membuat dirinya mengimani materialisme. Bagi Hobbes, segala  yang nyata adalah apa yang bisa di tangkap oleh indera. Bahkan dengan berani sang filsuf asal Inggris itu berujar, “pikiran demikian juga tuhan tidak lebih dari susunan materi”!

Mencoba konsiten dengan iman manterialismenya, Thomas Hobbes membangun wujud ideal tentang negara. Salah satu ide  yang paling terkenal adalah kemutlakan kekuasaan negara atas rakyat. Bahkan wujud negara dalam pandangan Hobbes adalah sosok ‘Leviathan’ nama binatang yang menyeramkan yang berasal dari mitologi timur tengah.

Dalam pandangan sang Filsuf inggris ini, negara mesti menjadi kontrol atas ketakutan bagi setiap individu. Karena jika tidak, wujud asli manusia sebagai homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi sesamanya)  dan bellum omnium contra omnes (Perang semua- melawan semua) akan terus hadir dan akan berujung pada kekacauan.

Pendeknya, Hobbes sang materialis hanya percaya sebuah negara yang kuat mesti dibangun dengan kontrol mutlak negara atas individu. Itulah mengapa sosok Leviathan Negara mesti lebih kuat dari para serigala yang gemar berperang bagi sesamanya.

Leviathan Negara dan Tuhan di Indonesia

Berkaca pada konteks sejarah nasional indonesia, banyak pemimpin negeri ini yang juga pada akhirnya dihinggapi penyakit Hobbesian. Dimana pada akhirnya mereka yang awalnya mungkin mencita-citakan lahirnya sebuah tatanan demokrasi dengan berlandasankan semangat Bhineka Tunggal Ika kemudian berubah menjadi raksasa Leviathan dibalik tirai negara.

Sesuatu yang abai dalam pikiran Hobbes dan logika matarialismenya bahwa manusia juga memiliki ‘momen primordial ego’ yang oleh Lacan, dijelaskan sebagai 'hasrat memiliki identitas'. Bahwa pada dasarnya eksistensi individu menjadi sesuatu yang mutlak dan bisa jadi terlepas dari spektrum dan identitas negara.

Pada titik inilah, demokrasi menurut saya menjadi penting. Dimana individu-individu dalam negara tetap eksis dan negara tidak lebih dari sekedar sebuah perwujudan rekan perjanjian antara individu dengan individu yang luas lainya. Negara modern tidak boleh di citrakan sebagai binatang raksasa yang menyebar ketakutan dan terror atas rakyat.

Namun sebaliknya negera menjadi perlambang dari kesepakatan bersama yang pada momentum tertentu eksistensinya bisa berkurang atau bertambah. Demikian pula cita-cita ber-Tuhan, sangat naïf jika Tuhan kemudian dibangun dengan naluri Leviathan dengan alasan menengakan syariat dan hukum-hukumNya.

Citra Tuhan seperti inilah yang membuat pemeluknya berlari meninggalkan Tuhan yang menakutkan menuju Tuhan yang menyenangkan dan demokratis. Karena pada dasarnya sebagaimana sabda Rasulullah SAW; Wa antum a’lamu bi amri dunyakum; “dan kamu sekalian lebih mengetahui urusan-urusan duniamu”(HR. Muslim ;4358)

Untuk itulah  Tuhan dan Negara Leviathan harus disirnakan sebelum pada akhirnya mengancam kehidupan dan kehendak luas umat manusia. Karena jika tidak, baik pengusa negara maupun penguasa agama akan menjadi sosok-sosok binatang buas yang menyeramkan dan menakutkan.

Demikian pula negara dan Tuhan!









Posting Komentar

0 Komentar