Renungan-Renungan Ramadhan

Pada hakikatnya, semua ibadah dilandasi oleh dua spirit utama. Pertama, merupakan bagian dari perjalanan hamba menuju Tuhan-Nya atau Hablum minallah (Tali hubungan hamba dengan Allah) sedangkan hikmah kedua adalah  hablum minannas (hubungan sesama manusia).

Tak terkecuali dengan shiyam atau shawm  yang di Indonesia sering disebut dengan ‘puasa’. Ibadah ini bermakna sebagai upaya menahan diri, merefleksikan perlawanan atas zhulm (kegelapan) hati atas segala cahaya Tuhan yang datang menghampiri jiwa dan ruh kita.  

Kedua, puasa juga berarti menahan segala prilaku zalim kita kepada sesama manusia yang secara sadar maupun tidak menghiasi prilaku keseharian. Dua aspek inilah yang menjadi landasan hikmah di balik puasa. Pesan tentang perjalanan menuju cahaya iman dan pesan menuju prilaku lemah lembut atau ahsan bagi sesama.

Oleh sebab itulah, mengapa setelah bulan ramadhan kita merayakan idul fitri yang bermakna ‘kembali kepada siklus fitrah’. Sudah menjadi fitrah manusia untuk memiliki kerinduan kepada Rabbnya yang dimanifestasikan pada cahaya iman dan demikian pula fitrah manusia sebagai mahluk yang lemah lembut hatinya.

Melalui ramadhan, setiap hamba yang berpuasa melakukan perjalanan spiritual pensucian diri. Sebuah kegiatan berkala untuk menghapuskan segala tindakan zalim yang selama ini luput dari keseharian dunia yang dijalani. Dante Aligiri dalam Devina Comedia ( Nurcholis Madjid; 2000) menjelaskan dua aspek penting dibalik alam kehidupan manusia yakni, alam paradiso (alam kebahagian) dan inferno (alam kesengsaraaan).

Bahwa pada hakekatnya setiap manusia pada awalnya terlahir dalam situasi kebahagiaan (paradiso) namun karena kelemahan jiwanya maka manusia cenderung terjebak pada kondisi kesengsaraan(inferno). Ramadhan datang sebagai rahmat Allah kepada manusia  untuk memberikan kesempatan membersihkan diri dan bertobat yang oleh Dante disebut sebagai Purgatorio sebuah kondisi menuju Darus Salam, negeri yang penuh perdamaian.

Ramadhan Bulan Manifestasi Cinta

Ramadhan adalah bulan di mana cinta dimanifestasikan dalam gerak dan prilaku hamba kepada Tuhan-Nya. Apa alasannya ummat yang berpuasa, rela menahan lapar dan dahaga dalam waktu yang panjang. Menghindari berbagai aktivitas berat yang bisa  membuat ibadah menjadi terganggu?

Semuanya demi satu tujuan untuk menyampaikan pesan ketaatan dan cinta hamba kepada Tuhan-Nya. Demikian pula manifestasi cinta ini diwujudkan dalam bentuk sedekah, menghindari amarah, dan menjaga prilaku pada sesama, semuanya merupakan pesan bagi mereka yang mencintai Tuhan-Nya juga mencintai ciptaan-Nya.

Manifestasi cinta inilah yang menjadi hikmah utama bagi mereka yang berpuasa. Sehingga adalah hal yang sangat jauh dari prilaku seorang yang hendak berpuasa ketika ada sekelompok orang yang menyatakan diri sebagai pencinta Tuhan dengan tega menyerang orang lain, merazia tanpa otoritas berbagai tempat perkumpulan umat-umat yang berbeda agama dengan alasan iman dan hendak berpuasa.

Sesungguhnya letak kedamaian puasa adalah dalam wujud prilaku cinta pada sesama. Bukan kebrutalan dan kekasaran dengan alasan menghormati bulan suci. Jika kita menghormati bulan suci maka prilaku cinta itu diwujudkan dengan keramahan, kedamaian  dan penuh suka cita sebagaimana pesan utama ramadhan yakni perwujudan rahmat Tuhan di muka bumi.

Ramadhan Bulan Muhasabah

Ramadhan juga merupakan bulan muhasabah.  Dimana setiap diri kita menghisab atau menghitung segala apa yang telah kita lakukan. Momentum Ramadhan adalah momentum reflektif bagi perjalanan kehidupan selama sebelas bulan yang dijalani, sembari melakukan evaluasi atas segala kebiasaan baik dan buruk agar kita bisa menjadi pribadi baru setelah ramadhan.

Karena selama sebelas bulan lamanya kita mungkin kehilangan kesempatan untuk melakukan refleksi keseharian dengan tuntutan kecepatan dan akselerasi kehidupan modern. Kita telah menjadi para pemburu waktu yang saling berkompetisi dan berlomba menuju pencapaian-pencapaian material.

Melalui ramadhan dengan segala keterbatasan fisik dan psikis selama menjalani ibadah baik siang maupun malam hari, setiap insan beriman melakukan gerak lambat yang berjalan sebaliknya dari gerak mesin perlombaan kehidupan selama ini.

Setiap detik dari ramadhan mengajarkan kita untuk mencari hikmah di balik setiap peristiwa, menghitung langkah termasuk mencari jejak-jejak kemanusian. Jika di luar ramadhan kita akan disibukkan dengan berbagai peristiwa koran yang mengantarkan kita pada ramalan kondisi kekinian dan ke depan, maka momentum ramadhan mengajarkan kita merenungi berbagai pelajaran qur'ani dari umat-umat terdahulu, kisah-kisah para nabi, agar kita sadar kita sedang berada pada titik mana dan hendak kemana.

Sebagaimana juga ramadhan sebagai bulan renungan, jalan pensucian, rumah ruhani bagi manifestasi cinta  menuju fitrah kemanusiaan yang hakiki yakni pribadi-pribadi yang menjadi wakil Tuhan di muka bumi yang terus akan berupaya mewujudkan kehidupan Darus Salam dimuka bumi.

Selamat Berpuasa!



Posting Komentar

0 Komentar