Tanggapan atas Tanggapan PKS (Iqbal Djalil; survei IDEC mengada-ada)

Tanggapan atas Tanggapan PKS 
(Iqbal Djalil; survei IDEC mengada-ada)

http://rakyatsulsel.com/pks-survei-idec-mengada-ada.html 


Bismillahirrahmanirrahim

Rasanya ini untuk pertama kalinya, saya merasa perlu memberikan tanggapan atas apa yang disampaikan kepada lembaga kami, yakni IDEC yang katanya mengada-ada. 

Sebagai seorang politisi dari Partai islam seperti PKS yang mengajarkan untuk tabayyun ( mencari kejelasan), sudah sepantasnya saudara Iqbal Djalil perlu melakukan klarifikasi sebelum memberikan peryataan. Tapi, baiklah untuk memenuhi rasa penasaran saudara, saya akan menjawab apa yang saudara sampaikan; "Survei ini terkesan dipaksakan. Dimana logikanya, sedangkan PKS saja suaranya 4%. Jadi otomatis suaranya pak tamsil sudah tidak dibawah 4% (kutipan; rakyatsulsel.com)."

Hal ini, teramat mudah untuk dibantah. Bahkan cenderung merugikan citra saudara sebagai politisi. Pertama, tidak bisa disamakan antara perolehan suara Partai dan Suara pemilih seperti Pilwali.

Sebagai contoh langsung, PKS di DKI memperoleh suara legislatif 18% dan pada Pilgub DKI setelah bergabung dengan PAN hanya meraih 11, 7% suara pemilih. ini fakta, Apakah saudara Iqbal bisa menyebut ini mengada-ada? Selanjutnya kalau saudara dan team hadir dan menyimak alur presentasi penelitian kami, menunjukkan popularitas kandidat Tamsil Linrung - Das'ad Latif 4,2 %. Tapi yang perlu saudara ketahui, popularitas tidak selamanya berbanding lurus dengan elektabilitas (tingkat keterpilihan) kandidat.

Kedua, jika saudara Iqbal Djalil dan saudara-saudara saya di PKS mendengarkan langsung apa yang saya sampaikan, bahwa makassar sedang dilanda fenomena bubble politics (pemilih yang memiliki kecenderungan berpindah yang besar) termasuk potensi Swing Vooter (pemilih mengambang) yang berada di 33,1 % pasti saudara bisa paham mengapa presentase suara kandidat menjadi mengecil.

Ketiga, IDEC tidak pernah melakukan rekayasa survei. Apa yang kami sampaikan merupakan potret yang ditemukan peneliti kami di lapangan sesuai dengan kondisi, waktu, persepsi, sikap, dan ekspektasi publik (pemilih) saat survei dilaksanakan 20-30 juni 2013.

Karena bagi IDEC, adalah kejahatan intelektual untuk melakukan rekayasa atau kebohongan Ilmiah. Kami lahir dari kampus, dibesarkan oleh idealisme intelektual bukan idealisme oportunis yang senantiasa "gagap menghadapi kondisi yang berbeda".

Keempat, bagaimana kami melakukan survei? survei yang kami lakukan adalah dengan menggunakan metode multistage random sampling dengan proporsi keterwakilan sampel merata berdasarkan besaran suara pemilih dari Kecamatan, kelurahan sampai pada tingkat RT yang menggunakan basis data suara DPT. Kalau sudara ingin mempelajari lebih dalam, silahkan saudara berkunjung ke IDEC. Kami selalu siap berbagi ilmu dan pengetahuan.

Kelima, semoga Ustadz Iqbal Djalil diberikan Rahmat oleh Allah SWT untuk bisa mengedepankan akhlak dengan lebih banyak mendengar daripada berbicara, bukan prasangka dan rasa suudzon kepada sesama.

Posting Komentar

0 Komentar