“Sahabatku Malaikat Pemegang Sumpah Hippocrates”

Namanya Muh.Ilham Iskandar. Kami sering menyapanya dengan sebutan dr. Ilang. Bagi mereka yang tak mengenalnya mungkin akan sulit percaya bahwa Ilang seorang dokter. Penampilanya yang senantiasa berkaos oblong dengan gaya yang lebih mirip ABG tanggung, membuatnya jauh dari kesan lazimnya seorang dokter yang biasanya berkacamata, balutan kemeja putih rapi, dengan wajah yang selalu serius.

dr.Muh.Ilham Iskandar

Bukan hanya soal penampilan yang membuat sahabat saya ini menjadi berbeda dengan dokter lainya.Ketika masih mahasiswa, Ilang adalah ketua Unit Kegiatan Liga Film Mahasiswa Universitas Hasanuddin. Sebuah lembaga minat dan bakat yang jarang disinggahi oleh mahasiswa kedokteran.

Karena biasanya para calon dokter akan lebih tertarik bergabung bersama Korps Sukarela Palang Merah  Indonesia (KSR PMI) Unhas, lembaga kemahasiswaan yang mungkin lebih memiliki hubungan dengan profesi  yang mereka geluti kelak. Namun itulah sahabat saya,  Ilham Iskandar yang “pencinta film dan juga seorang pelukis storyboard yang baik”.

Tapi jangan kira dibalik penampilanya yang sedikit bohemian dan lebih mirip seniman  itu ilang menjadi sosok individualistik. Justru dari hobi selama bermahasiswa  itulah ilang  menjadi sosok berbeda dari dokter-dokter yang pernah saya temui. Karena melalui kegemarannya akan film membuatnya mudah bergaul dan diterima dalam banyak komunitas.

Bagi mahasiswa nomaden seperti saya yang tak punya tempat tinggal tetap dan hanya mengandalkan Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) sebagai tempat untuk tidur, Ilang adalah ‘malaikat penolong’ karena sering mengajarkan tips sederhana menjaga kesehatan,  plus obat atau multivitamin gratis jika kami sedang sakit.

Bukan itu saja, jika saya renungkan dengan caranya sendiri ilang sebenarnya menyelamatkan banyak mahasiswa-mahasiswa seperti saya dan sahabat-sahabat lain dari suramnya kehidupan. Ilang  selalu berpesan agar tidak melakukan hubungan sex sebelum nikah,  karena efek traumatis yang bisa ditimbulkan baik bagi wanita maupun pria.


“Mari menikmati masa muda, namun jagan sampai kenikmatan itu ditukar dengan kesengsaraan panjang pada masa akan datang. Kondom juga bisa bocor, lebih baik menghindari sebelum terjadi”, begitulah salah satu pesan Ilang yang senantiasa saya kenang.

 
Pada belakangan hari, baru saya ketahui ternyata Ilang yang ‘anak gaul itu’ anak salah seorang ulama terkenal di Makassar. Dalam hati saya tertawa, mungkin Ilang telah memilih cara dakwah dan bahasanya sendiri, ibarat seorang Nabi yang sedang berdakwah Ilang telah memilih menjadi pembawa pesan-pesan Tuhan kepada kami  dengan bahasa yang mudah dimengerti dan dicerna bagi kami pada masa itu.

Tetap Setia Menjadi Malaikat Penolong

Kini sudah enam tahun saya dan Ilang meninggalkan kampus merah Universitas Hasanuddin. Namun sebagai sahabat hampir setiap pekan kami bertemu, atau sekedar bertukar kabar lewat jejaring sosial atau blacberry masenger.  Tak ada yang berubah dari sahabat saya dr. Ilang, selain kini dirinya memang sudah mengabdikan dirinya menjadi dokter dirumah sakit “Sayang Rakyat”, sebuah  rumah sakit milik pemerintah yang memberikan  pelayanan kesehatan gratis di sulawesi selatan.

Ilang masih menjadi malaikat penolong bagi saya dan banyak orang. Jika putra saya atau ada keluarga dari kampung istri saya yang sedang sakit,  maka dengan senang hati dirinya akan datang memeriksa secara cuma-cuma, lengkap dengan catatan resep obat-obat murah lagi mujarab.

Bukan hanya untuk para sahabatnya dr. Ilham Iskandar berbuat seperti itu, hampir pada setiap kesempatan berjumpa dengannya, saya senantiasa melihat Ilang mesti menerima telpon dari pasien rumah sakit tempat dirinya bekerja atau dari orang-orang yang butuh pertolongan.

Karena itulah, mengapa Ilang tak berhenti memasang cas portable untuk handphonenya. “Saya tidak ingin mengkhianati sumpah”, kata-kata yang selalu diulanginya saat saya mulai protes karena pembicaraan kami senantiasa terpotong karena dirinya harus menerima telepon.

Pemegang Sumpah Hippocrates

Pada sebuah kesempatan,  saya dan dr. Ilang terlibat sebuah diskusi seru. Saya memulai dengan sebuah pertanyaan, bro kenapa sampai sekarang masih ada saja kasus pasien y
www.blogfpkr.wordpress.com;
ang tidak terlayani oleh rumah sakit?

Karena semua orang kalau sakit pasti masuk rumah sakit, jawabnya se-enaknya.

Ah itu bukan jawaban ilmiah, tuntut saya yang tidak puas.

Begini, harusnya berbicara soal  kesehatan bukan hanya soal rumah sakit dan dokter atau perawat. Menjaga kesehatan mesti dimulai dari lingkungan dan rumah kita masing-masing.

Terus , tanya saya yang masih penasaran.

Kalau kita memperbaikinya dari lingkungan dan rumah kita masing-masing, maka  pelayanan kesehatan mestinya tidak bertumpu di rumah sakit. Tapi lebih dari itu perlu dipikirkan model pelayanan kesehatan yang berbasis rumah tangga,  dimana pemerintah perlu memikirkan memberikan jaminan bagi setiap warga negara untuk memiliki dokter keluarga yang bisa mereka hubungi setiap saat.

Hehe… seperti kamu yah bagi keluarga saya, potong saya setengah bercanda.

Yup, karena tidak semua pasien sebenarnya harus masuk rumah sakit,  pelayanan kesehatan itu  bisa dilakukan pada skala rumah tangga atau puskesmas.

Lantas antara perbandingan jumlah dokter dan penduduk yang butuh dilayani khan tidak berimbang, apa yang mesti dilakukan kata saya coba mendebat ?

Kata kuncinya ada pada jumlah dokter. Harusnya pendidikan kedokteran mesti murah bukan hanya di monopoli oleh mereka yang berpunya, bila perlu di subsidi oleh pemerintah secara penuh. Sebagaimana beberapa profesi lain seperti STPDN atau pendidikan kedinasan lainya.

Betul, terus apa yang buat kamu mau jadi dokter ?

Saya ingin berbuat baik bagi sesama, sebagaimana salah satu petikan sumpah Hippocrates, “kedalam rumah siapa pun yang saya masuki, saya akan masuk untuk menolong yang sakit”

                                                                             ***
Saya  hanya bisa diam lantas merenung, mendengarkan pernyataan sahabat saya itu, dirinya benar-benar telah memilih menjadi malaikat penolong bagi banyak orang, untuk berbuat baik bagi sesama. Termasuk usul sederhana untuk memberikan kesempatan bagi banyak putra-putri negeri ini, agar bisa sekolah menjadi dokter dalam bentuk ikatan dinas yang dibiayai penuh oleh pemerintah. 

Sesuatu yang alpa dari negara ini, seperti juga ada banyak dokter yang lupa akan sumpah Hippocrates.


Semoga inspirasi dari sahabatku ini bisa memenangkan kompetisi lomba;  www.blogfpkr.wordpress.com;

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Terharu membaca postingan anda kanda. Saya panggil anda kanda karena dr. Illang itu senior saya. Memang betul yg kanda tuliskan di atas, dr. Illang itu benar bagai malaikat penolong untuk mereka yg membutuhkan. Beliau senantiasa membantu siapa saja termasuk saya, saat susah maupun senang.

    semoga semua yg Beliau lakukan mendapat ridho dari Sang Pencipta dan terus mempertahankan idealisme yg beliau pegang.

    terima kasih atas tulisan kanda. Semoga menjadi inspirasi bagi orang yg membacanya.

    BalasHapus