Jokowi, Prabowo, dan Drama Kerajaan Singhasari


Tentu
 belum banyak yang lupa pada saat menjelang pemilihan Gubernur Jakarta, seingat saya hanya  ada satu iklan televisi yang mengkampanyekan pasangan Jokowi-Basuki yakni iklan Prabowo subianto yang secara terang-terangan memberikan dukunganya sebagai ketua dewan Pembina Partai Gerindra dan Ketua Asosiasi Perhimpunan Pedagang Pasar Seluruh Indonesia.


Pada ujung iklan yang sempat menuai protes dari tim foke-nara tersebut, bahkan dengan begitu percaya diri prabowo menegaskan “Saya Prabowo Subianto memilih Jokowi-Basuki untuk Jakarta yang lebih baik."! Tak hanya sampai disitu, sudah menjadi rahasia umum Prabowo adalah sosok dibelakang layar untuk membujuk megawati agar paket Joko Widodo- Basuki bisa tampil sebagai duet baru bagi Jakarta.

Kala itu Prabowo ibarat seorang Tunggul Ametung yang sedang membujuk kendedes yakni Megawati Soekarno Putri untuk menjadikan Jokowi sebagai pengawal mereka agar kelak mempertahankan duet pasangan singhasari.

Namun akhirnya, ibarat drama kisah kerjaan singhasari dalam bentuk sekuel yang berbeda, tunggul ametung pada belakangan hari baru sadar keputusan untuk mendukung Ken Arok yakni Jokowi adalah keputusan yang salah.

Ken Arok ternyata berhasil menarik hati Ken Dedes untuk bersepakat menghabisi Tunggul Ametung yang pernah menjadi pasangan pada pernikahan kendedes pada  pemilihan presiden 2009 yang lalu.

Rasa sebagai orang yang dikhianati telah membut Prabowo berang, tak ingin menjadi Tunggul Ametung sebagaimana dalam kisah singhasari membuat sang jenderal bertanya pada megawati, apa salah dirinya hingga akhirnya Mega tidak memperdulikan perjanjian pernikahan mereka pada masa lalu ?

Membaca tanya Prabowo tersebut telah membuka dua tafsir besar. Pertama, apakah mungkin rayuan Ken Arok telah berhasil membuat Ken Dedes begitu jatuh cinta sehingga tega melupakan janjinya? ataukah sebagaimana dalam drama singasari bahwa memang sebenarnya pernikahan Ken Dedes dan Tunggul Ametung adalah pernikahan paksa yang tidak didasari oleh janji untuk saling setia.

Politik  Singhasari dalam drama Pilpres 2014

Jika menyimak kisah kerajaan singasari yang penuh intrik selain Tunggul Ametung, Ken Dedes dan Ken Arok, kita juga pada akhirnya dikenalkan pada satu sosok yakni Anusapati  putra Ken Dedes yang akhirnya menjadi tokoh yang mengakhiri kisah kekuasaan Ken Arok.

Dalam babad tanah jawa karangan Suedjipto Abimanyu dikisahkan sepeninggal Tunggul Ametung, Ken Arok akhirnya menikahi Ken Dedes dan mengangkat dirinya sendiri sebagai akuwu Tumampel. Pada saat menikah tersebut, Ken Dedes sebenarnya sedang mengandung bayi Tunggul Ametung dialah Anusapati.

Saya sedang berkhayal Anusapati adalah sosok Puan Maharani yang merupakan trah langsung Soekarno,  walau dalam representasi dan versi yang berbeda, bukan sebagaimana dalam kisah kerajaan singasari dalam negara kertagama ataupun versi pararaton oleh ki J.Padmapuspita, dimana  Anusapati merupakan putra Tunggul Ametung. 

Puan merupakan sosok pelanjut Soekarno yang sedang dipersiapkan untuk tampil menjadi pemimpin, namun Ken Dedes sadar puan belum menemukan keris 'mpu gandring' yang selama ini dimiliki oleh Ken Arok ataupun ketidagdayaan dan kesaktian seperti ayahnya.

Faktor itulah yang menyebabkan mega begitu sadar, bahwa dirinya tidak bisa memaksakan sang putri untuk segera naik takhta. Barisan keluarga Bung Karno masih dibutuhkan sekian waktu untuk mempersiapkan sang pewaris untuk kelak tampil menjadi pemimpin. Singkat kata, Ken Arok masih “dibutuhkan sejenak” sembari mempersiapkan Anusapati untuk kelak tampil mengambil kepemimpinan politik dari Ken Arok.

 
Atau bisa jadi sebenarnya,  Ken Dedes memang akhirnya begitu jatuh cinta pada sosok Ken Arok lelaki yang kita bereinkarnasi dalam diri Joko Widodo, sehingga akhirnya dirinya lebih memilih Ken Arok dibandingkan menetapkan sang putri, Tunggul Ametung, atau dirinya sendiri sebagai raja singasari.

Namun dengan catatan, bahwa Joko Widodo harus tetap mematuhi perintahnya menjadi boneka dari Ken Dedes yang tahu betul, bagaimana menghadapi sosok Tunggul Ametung yang dahulu merupakan teman pernikahan politiknya, namun kini akan menjadi musuh utama dalam perjalanan politik mereka kelak.

Seperti juga babad singhasari kita kembali disadarkan realitas, bahwa didalam politik tidak pernah mengenal kata setia, politik senantiasa punya intrik dan mendewakan kepentingan.

Rivalitas Ken Arok dan Tunggul Ametung dalam jilid pilpres 2014

Drama singasari kemungkinan besar akan kembali berulang dalam pemilihan presiden 2014. Dimana akan ada dua tokoh yang saling bersaing yakni Prabowo dan Jokowi. Tanda-tanda rivalitas keduanya sudah semakin nampak, utamanya melihat babak –babak bagaimana keduanya bersaing merebut hati Megawati Soekarno Putri.


Peta pemilih juga sudah mulai membentuk dua polarisasi yang tajam, yakni mereka yang kecewa dan mereka yang mendukung jokowi. Barisan kelompok yang kecewa dengan ken arok akan semakin mengeraskan dukungan bagi Prabowo, sementara mereka yang mendukung Jokowi juga akan semakin mengental dan berada pada barisan yang berbeda. 

Membaca tanda-tanda zaman ini, sudah dapat kita simpulkan siapa yang akhirnya tampil menjadi pemenang, namun ada dua hal yang tak bisa dilupakan. Pertama,  apakah tuah kutukan mpu gandring sebagai sosok naas dibelakang kisah kerjaan singhasari kepada Ken Arok akan berjalan.

Kedua, bagaimana langkah selanjutnya dari barisan loyalis Anusapati kelak, apakah akan penuh mendukung ayah tirinya Ken Arok, ataukah menunggu waktu yang tepat sebagaimana keinginan mpu gandiring untuk menyelesaikan gurinda terakhir dari keris pusaka yang membawa petaka bagi Ken Arok dan kisah singhasari.



Selamat menyaksikan drama lengkap, kisah Singhasari dalam versi pemilihan presiden 2014...





Posting Komentar

0 Komentar