Prolog dibalik Buku; "Perang Kota; Studi Politik Lokal dan Kontestasi Elite Boneka"


Perjuangan besar generasi  kita yang kini hidup dalam era banjir informasi, adalah upaya melawan lupa. Karena kini umat manusia telah  mengalami amnesia yang lebih cepat, hidup yang lebih sibuk, informasi baru yang datang setiap detik dan silih berganti berseliweran dikepala baik lewat jejaring sosial, berita online,  Televisi, radio atau billboard iklan di jalanan.

Sampai akhirnya tak ada lagi yang membekas, kecuali kelelahan karena hari dan  usia kita habiskan dijalanan...

                                                                             ****
Sebagai manusia, mungkin kita telah kehilangan hal yang paling esensial dari kehidupan yakni ingatan. Keseharian yang padat,  telah menyebabkan kita tak  punya banyak waktu untuk merenung dan memaknai! Kita menjadi manusia-manusia yang tak lagi memiliki momentum reflektif, penyelidikan, apalagi penelitian.

Demikian pula dalam kehidupan politik, sebagai warga negara kita terus diperhadapkan pada berbagai peristiwa politik, tokoh atau aktor politik dan event politik yang datang silih berganti, seperti parade baligho yang setiap hari kita lihat, ibarat virus muncul dan berkembang biak, dari satu titik menuju titik yang lain disetiap sudut kota.

Politik kita adalah politik yang amnesia, politik yang kehilangan gagasan dan pikiran, yang tersisa hanyalah peperangan mencari kemenangan. Tapi mengapa mesti berperang? mengapa mesti berkuasa? Rasanya jarang kita temukan pengakuan jujur dari mereka para kontestan politik yang ingin berkuasa.

                                                                               ***

Amnesia bukan hanya dirasakan oleh para politisi, namun juga oleh kita sebagai rakyat yang terus dipaksa berpartisipasi. Banyak dari pemilih yang tak mengenal siapa orang-orang yang muncul ? mengapa mereka muncul ? apa latar belakang mereka ? lantas mengapa mesti memilih mereka ? semuanya kabur, tak berbekas dan tak terselidiki, sampai akhirnya kita tergiring untuk menuju bilik suara. 

Maka tak heran, pada akhirnya ketika para tuan-tuan itu berkuasa, mereka juga lupa ingatan, lupa diri, termasuk lupa pada rakyat yang memilihnya...

                                                                           ***

Untuk itulah buku Perang Kota; Studi Politik Lokal dan Kontestasi Elit Boneka ini hadir, sebagai usaha merekam berbagai peristiwa politik di kota makassar jelang dan pasca pemilihan walikota  dengan sudut pandang penelitian yang mungkin bercampur dengan  renungan, sebuah upaya melawan amnesia massal dikemudian hari. 

Buku ini sekedar upaya melestarikan ingatan,  tentang sebuah proses politik tahun 2013 di sebuah kota yang menjadi gerbang indonesia timur. Bahwa di makassar, pernah ada satu masa jelang pemilihan walikota lebih dari 37 orang membanjiri kota dengan wajah mereka yang telah membuat pemilih menjadi bingung, siapakah orang-orang itu ? Mengapa begitu ramai, apakah ini pemilihan walikota atau pemilihan legislatif ?

Dalam buku ini juga bercerita, tentang suatu waktu, ketika sejumlah halaman media cetak di makassar hanya sekedar  dijadikan " sarana menempel poster " iklan politik 10 pasang calon walikota, yang beberapa diantaranya justru "membakar uang" dalam jumlah besar untuk memuaskan naluri menghancurkan mereka atas calon walikota lainya...

Buku sederhana ini juga mencatat, bahwa di kota yang bernama Makassar yang katanya dihuni oleh mereka yang  memiliki tingkat pendidikan dan rasa nasionalisme yang tinggi, manusia-manusia pancasilais yang menghargai kebinekaan dan keragaman, pernah tersebar secara terang-terangan selebaran rasisme yang jauh dari karakter manusia-manusia pancasilais.

Lewat karya biasa ini, saya juga  mengkaji sebuah fenomena menarik sebagaimana yang terjadi di beberapa daerah lain yakni kebangkitan para kepala daerah yang lahir dari trah "para manager kaum kerah putih” yang bukan berlatar belakang politisi, namun akhirnya tampil menjadi pemenang, mereka bertarung, berhadapan dengan dinasti politik dan kekuasaan politik yang mapan. 


Mereka dipercaya karena dipandang lebih mampu berbuat dibandingkan para politisi yang kadang sekedar berakhir retoris. Walaupun pada akhirnya, kita sadar politik senantiasa punya panggung belakang, karena sang manager tidak lebih dari boneka yang dikendalikan oleh "seorang elit penentu"!


selamat membaca, mari melawan amnesia politik...








Posting Komentar

0 Komentar