“Dinda Kartini masa Kini”



Dinda namanya remaja putri masa kini. Kisahnya seperti Kartini sama-sama senang menumpahkan isi hatinya melalui tulisan. Bedanya, Kartini menulis melalui surat sedangkan dinda menulis status di akun jejaring sosial path miliknya. Perbedaan selanjutnya, jika kartini menuliskan kegelisahan akan nasib kaum perempuan di negerinya, maka dinda menulis ke-kesalanya akan seorang ibu hamil yang meminta tempat duduknya di KRL Commuter Jabodetabek.

Berikut status di jejaring sosial Path dinda yang heboh itu ;

Benci sama ibu-ibu hamil yang tiba-tiba minta duduk. Ya gue tahu lw hamil tapi plis dong berangkat pagi. Ke stasiun yang jauh sekalian biar dapat duduk, gue aja enggak hamil bela-belain berangkat pagi demi dapat tempat duduk. Dasar emang enggak mau susah.. ckckck.. nyusahin orang. kalau enggak mau susah enggak usah kerja bu di rumah saja. mentang-mentang hamil maunya dingertiin terus. Tapi sendirinya enggak mau usaha.. cape dehh,”.

http://megapolitan.kompas.com/read/2014/04/17/0833498/Kecam.Ibu.Hamil.di.KRL.Dinda.Minta.Maaf


Bandingkan dengan kartini saat menuliskan surat kepada sahabatnya Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1901

Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam (sunatullah) sendiri ke dalam tangannya : menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”.

Sama-sama perempuan, namun berbeda generasi itulah dinda dan Kartini. Kartini mewakili sebuah zaman dimana perempuan sedang berjuang untuk mendapatkan hak-haknya atas pendidikan dan kesetaraan, sedangkan dinda sebagai seorang perempuan yang merasa mempertahankan haknya yang sangat sederhana “duduk di kursi KRL”.

Zaman memang telah berubah, demikian pula perempuan-perempuan indonesia.Jika kartini berpikir untuk sesuatu yang besar bagi bangsa ini dan kaum perempuan, maka dinda berbicara sesuatu yang amat sederhana “kursi KRL” dan kesulitan akan nasib dirinya sebagai perempuan untuk mendapatkan sarana transportasi yang nyaman.  Dua konteks yang amat berbeda yang menjelaskan sikap dan persoalan generasi.

Perbedaan Persoalan dan Cara menyikapi

Kartini adalah wakil dari salah satu perempuan masa lalu yang berpikir untuk sesuatu yang besar dengan tema seperti keadilan dan persamaan hak.  Sedangkan dinda adalah wakil generasi perempuan masa kini yang berpikir untuk dirinya sendiri, sebuah ciri dan penanda generasi perkotaan.

Apakah kita hanya akan menyalahkan dinda ? bagi saya tidak. Saya adalah salah seorang diantara ratusan ribu atau bahkan jutaan pengguna KRL ibu kota, saya bisa merasakan bagaimana rasanya tidak dapat tempat duduk pada jam-jam sibuk, ketika mesti bergelantungan dengan penumpang lainya yang membuat untuk bernapas saja mesti kesulitan. Mendapatkan kursi adalah sebuah kemewahan sederhana bagi para penumpang KRL.

Persoalan dinda bukanlah sekedar soal tempat duduk prioritas untuk ibu hamil, namun persoalan cara berpikir. Dinda adalah anak kandung dari ibu kota yang tumbuh dari semangat industrialisasi yang serba bergegas!

Mereka dididik untuk menjadi manusia-manusia individualistik yang kehilangan kebiasaan ‘berbagi’ dan kebiasaan “mendengar”. Bagi mereka soalnya adalah kompetisi, berjuang untuk lebih cepat, tegok saja ungkapan dinda masih di akun pathnya ;

 Oiya banyak juga ibu hamil yang gw lihat berangkat pagi juga. Nah, kenapa ga pada nyontoh merekaaaa. Mereka aja bisa koq. Kalau ga mau nyusahin ga usah minta-minta tempat duduk diem ajaa. Hahahah dasar aja pemalasss. Itu buktinya ada aja juga koq yang ga yang pemalas. Respect saya pada ibu-ibu hamil yang mandiri dan ga manja!!! Be though girl!!,” lanjutnya dalam postingan setelahnya.

Sejak hidup di ibu kota cara berpikir seperti ini sering sekali saya jumpai juga pada mahasiswa atau mahasiswi saya, mereka berpikir bahwa kesusahan timbul hanya karena persoalan tidak disiplin dan rasa malas.

Padahal apakah mereka tahu tidak semua orang berada pada kondisi yang sama dengan dirinya?

Cara berpikir masyarakat industri  yang kapitalistik ini semakin di tunjang oleh kepemilikan gadget yang telah menutup telinga dan mata mereka. Telinga mereka tak mendengar karena terpasangan headset, dan mata mereka sengaja ditutup pura-pura tidur atau pura-pura sibuk dengan smartphone padahal mungkin sekedar untuk update status.

Andaikan para generasi ibu kota seperti dinda belajar mendengar dan mengamati , pasti mereka akan lebih bijak menyikapi realitas. Dahulu ketika masih pacaran dengan istri saya, kami sering menghabiskan waktu dengan naik angkot keliling Makassar, di atas angkot kami menikmati dan menyimak pembicaraan orang-orang diatas angkot sambil belajar mengamati apa yang sedang terjadi.

Dinda kartini masa kini

Dinda adalah perwajahan perempuan generasi kita yang senang mengeluh di jejaring sosial. Mereka merasa dengan memasang status facebook, berkicau di twitter ataupun peth, akan membuat hati lebih lega, apalagi jika mendapatkan komentar yang banyak.

Ada sebuah penyakit besar generasi baru dimasa kini, yakni senang membagi persoalan pribadi mereka ke depan publik. Kemarahan, kesenangan, semuanya tumpah ruah di arena jejaring sosial, sebuah kondisi yang menjelaskan betapa  arena privat telah bercampur dengan arena publik.

Padahal persoalan-persoalan yang mereka ketengahkan juga bukanlah persoalan-persoalan yang penting diketahui oleh orang banyak. Apalagi memiliki dampak besar untuk mengubah nasib orang banyak, seperti kisah keluhan kartini. Karena dinda hidup di zaman dan generasi yang berbeda, di era industrialisasi yang kapitalistik bukan zaman feodalistik dan kolonialisasi seperti kartini!


Selamat datang generasi dinda kartini-kartini masa depan!

Posting Komentar

0 Komentar