"Drama akhir koalisi Capres”



Akhirnya, drama seputar koalisi partai untuk mengusung pasangan calon presiden dan wakil presiden hampir usai. Dimana hanya ada dua atau tiga kemungkinan koalisi besar yakni poros koalisi yang akan dibangun oleh PDIP, Nasdem, PKB dengan presentase mencapai 34, 71 % suara.

Kedua,  tentu saja koalisi “tenda besar” yang di usung oleh Gerindra, PAN,PKS dan kemungkinan  akan diikuti oleh PPP dengan jumlah presentase perolehan suara bisa mencapai 32,72 %. Kedua poros koalisi ini memang yang hampir pasti mengusung dua calon presiden yakni Joko widodo dan Prabowo Subianto.

Namun yang banyak tidak terungkap di permukaan adalah bagaimana skenario tiga partai politik yang belum menyatakan diri akan bergabung pada dua poros koalisi tersebut yakni Golkar, Demokrat, dan Hanura. Apakah tiga partai tersebut akan bergabung pada dua poros besar tersebut ? Ataukah akan membangun poros koalisi sendiri mengigat jika mengabungkan kekuatan suara tiga partai tersebut bisa mencapai 30,91%  suara dan dapat mengajukan calon Presiden dan Wakil Presiden sendiri.

Menanti Sikap Politik Demokrat

Siapakah yang sikap politiknya paling dinantikan kini oleh elit politik yang sudah berkoalisi ? Jawabanya adalah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ketua umum Partai Demokrat tersebut akan sangat menentukan konstelasi bagian akhir dari drama politik koalisi parpol yang sudah terbentuk.

SBY adalah aktor dibelakang layar yang kini sikap politiknya akan sangat menentukan bandul sejarah politik indonesia dimasa akan datang, selain tentu saja dinamika akhir internal partai Golkar yang juga masih terus bergolak. Skenario pertama SBY sudah berjalan mulus dengan membagi matahari kembar demokrat yakni Partai Amanat Nasional (PAN) pada poros koalisi Gerindra, dimana akhirnya sudah hampir dipastikan Hatta Rajasa besan SBY akan menjadi calon wakil presiden prabowo.

Kini yang sedang dinantikan apakah Demokrat akan bergabung dengan matahari kembarnya tersebut ? ataukah membagi diri dengan bergabung dengan koalisi PDIP? Atau justru bergabung dengan Golkar yang belum mampu menyelesaikan konflik internalnya apakah tetap mengusung Abu rizal bakrie sebagai calon presiden.

Nasib Golkar sendiri sangat tergantung pada sikap politik demokrat demikian pula Hanura. Jika Demokrat pada akhirnya akan memilih bergabung diantara dua poros koalisi, maka sudah dapat dipastikan Golkar tidak akan memajukan Abu rizal bakrie sebagai calon presiden.

Apalagi partai Hanura yang sedang memasrahkan diri pada ajakan poros politik yang akan terbentuk, mengingat posisi tawar Hanura yang begitu lemah dengan presentasi suara hanya mencapai 5,26%, apalagi tak bisa disangkal hanura sedang tersandera oleh komitmen duet politik Wiranto- Hary Tanoesoedibjo yang saling sandera menyandera.

Drama Akhir Koalisi parpol
Pada akhirnya drama koalisi parpol untuk calon presiden akan sangat ditentukan oleh dua aktor  besar, yakni Susilo Bambang Yudhoyono dan  poros Golkar dibawah kendali Akbar Tanjung, mengigat Abu rizal bakrie sendiri semakin hari semakin nampak telah kehilangan kendali atas partai beringin.

Jika Demokrat akan memilih opsi bergabung dengan poros PDIP maka sudah dipastikan Demokrat hanya akan menjadi ‘koalisi pelengkap’. Sedangkan jika membuat poros koalisi baru bersama Golkar, maka posisi tawar bagi demokrat menjadi semakin kuat dengan mengajukan salah satu peserta konvensinya sebagai calon wakil presiden mendampingi ARB.

Artinya akan lebih strategis bagi demokrat untuk melahirkan poros koalisi baru dibandingkan bergabung bersama PDIP. Sedangkan opsi lainya, yakni  bergabung dengan poros Gerindra juga bukanlah hal yang membawa banyak keuntungan, karena Hatta Rajasa sendiri sudah merupakan bagian dari representasi SBY dalam bentuk yang lain.

Faktor lainya yang juga penting menjadi pertimbangan SBY selama ini, dibalik belum adanya keputusan politik akhir partai demokrat adalah pertimbangan apakah hanya akan menjadi penonton diantara konstelasi politik yang berkembang ataukah akan menjadi penentu utama.

Karena jika dianalisis, pada akhirnya hanya  ada dua poros koalisi dengan dua pasang calon presiden yakni Joko Widodo- Jusuf Kalla misalnya, yang akan berhadapan dengan Prabowo- Hatta Rajasa, maka besar kemungkinan poros PDIP akan memiliki potensi yang besar memenangkan pertarungan dibandingkan jika SBY membentuk poros ketiga bersama Golkar.

“Potensi Poros Ketiga Ancaman Bagi PDIP dan Jokowi”

Semakin banyak calon presiden maka potensi irisan suara Jokowi beserta poros PDIP akan semakin mengecil, karena basis suara 10% lebih yang diperoleh demokrat dan 14% lebih suara golkar,  sebenarnya merupakan representasi basis dukungan suara real kedua partai politik tersebut.

Jika poros ketiga terbentuk, maka bisa dipastikan basis dukungan kekuatan Jokowi tidaklah sekuat  jika hanya menghadapi duet Prabowo –Hatta, sehingga potensi Pemilihan Presiden berlangsung dua putaran  atau setidaknya menghambat laju jokowi effect bisa berjalan mengigat elektabilitas Jokowi sebagai calon presiden memang masih diatas Prabowo-Hatta.

Namun jika pada akhirnya SBY memilih bergabung dengan menyatukan kekuatan bersama ‘tenda besar Gerindra’ sekali lagi potensi untuk menghambat Jokowi dalam hemat saya akan semakin sulit terbendung. Pasalnya ‘sentimen’ negatif sebagai bagian dari rezim lama akan dilekatkan pada diri koalisi Gerindra dan akan sangat mengangu citra publik akan sosok duet Prabowo-Hatta.

Karena tak bisa dinafikan jika SBY membawa demokrat bergabung bersama dengan Prabowo-Hatta, presepsi pertarungan atas  rezim lama melawan rezim baru akan semakin mengental sesuatu yang akan begitu mudah dimanfaatkan oleh tim jokowi untuk menghancurkan penantangnya di tengah euforia publik yang mengharapkan hadirnya sebuah rezim politik baru.

Pada akhirnya kita mesti kembali mengutip apa yang diungkapkan oleh  Abraham Lincoln; “Public sentiment is everything, with public sentiment nothing can fail, without it nothing can succeed”. Memang politik adalah soal presepsi dan presepsi publik itu kini berada ditangan Jokowi, sesuatu yang tak bisa disangkal sebagaimana diktum lama vox populi vox dei !


Posting Komentar

0 Komentar