Membaca Peluang Pasangan Capres !

Tensi politik semakin naik, dua pasang kandidat telah ditetapkan beserta nomor urutnya. Pasangan Prabowo- Hatta mendapat nomor urut satu, sedangkan Jokowi-JK di nomor urut dua. Kedua pasangan capres dan cawapres beserta tim sukses masing-masing percaya diri akan memenangkan pertarungan, apalagi hampir dipastikan pemilihan presiden kali ini hanya akan berakhir satu putaran.

Dari hasil survei sejumlah lembaga, telah nampak betapa persaingan antara kedua pasang kandidat ini akan berlangsung sangat dekat dengan kemungkinan jarak interval suara dukungan antar kandidat diprediksikan berkisar 10-17%.  Sebagaimana hasil survei LSI misalnya yang dilakukan dibulan mei pasangan Joko Widodo-Jusuf Kala mencapai 35,42 persen, sementara pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa 22,75 persen (kompas/ 18/5/2014). 

Tak jauh berbeda dengan survei LSI pada bulan maret 2014, gambaran dukungan atas individu masing-masing capres dari hasil survei Indikator Politik menunjukan Joko Widodo masih lebih unggul dibandingkan Parabowo Subianto, walau semakin hari trend positif dukungan atas prabowo semakin meningkat dimana antar kedua pasangan terpaut angka 26,1 % untuk prabowo dan 43,7 % untuk Jokowi.

Pada dasarnya jika berkaca pada hasil survei tersebut, elektabilitas Jokowi memang masih berada diatas Prabowo. Mengapa demikian ? ada tiga jawaban membuat duet Jokowi-Jk sedikit masih lebih  unggul diatas Prabowo- Hatta. Pertama, Jokowi-Jk adalah dua tokoh yang mewakili representasi dukungan geopolitik yakni barat-timur, jawa dan luar jawa.

Untuk konteks pemilihan presiden dimana jarak pemilih dan masing-masing calon presiden memiliki rentang yang sangat jauh, maka pertimbangan geopolitik biasanya dijadikan alasan oleh pemilih untuk menetapkan dukungan. Terlepas dari segala argumentasi ilmiah menyangkut kelebihan para capres dan cawapres, serta visi dan misi mereka, polarisasi geopolitik ini akan tetap sangat menentukan pada basis pemilih grass root. Apalagi representasi keterwakilan tersebut sudah terlanjur melekat pada pasangan Jokowi-JK.

Kedua, mesin politik. Bicara soal mesin politik duet pasangan Jokowi-Jk memang kalah jumlah dengan partai politik pendukung Prabowo-Hatta. Namun, yang patut diingat dan  jika dilihat secara seksama dari efektivitas kerja mesin politik pendukung Jokowi-JK maka  PDIP, Nasdem, PKB adalah tiga partai yang telah menunjukan kinerja signifikan mereka pada pemilu legislatif yang lalu selain tentu saja Gerindra.

Ketiga, model pencitraan. Kelebihan lainya pasangan Jokowi-Jk adalah kemampuan membentuk representasi politik sebagai  bagian dari rakyat mayoritas. Pencitraan sebagai pemimpin rakyat telah berhasil dicuri dan mampu dikelola sebagai bagian dari momentum politik Jokowi-JK.

Juni bulan penentu

Bulan juni adalah bulan penentu akhir dari keputusan rakyat, siapakah yang akan mendapatkan mandat rakyat akhirnya akan diputuskan pada bulan juni utamanya satu bulan menjelang masa pemilihan presiden. Pasangan Jokowi-JK dengan hasil survei yang masih diatas saat ini tidak boleh juga telalu over confidence.

Karena patut diakui bahwa polarisasi kelas menengah yang memberikan dukungan pada pasangan Prabowo-Hatta kini telah  membentuk voter confidence dari pemilih utamanya dari kalangan kelas menengah. Jika jokowi mendapatkan dukungan dari basis kelas bawah, maka perlahan tapi pasti prabowo-hatta terus mengalang kepercayaan kelompok pekerja kantoran, anak muda perkotaan, kelompok industri kreatif serta  sebahagian kelompok pengusaha.

Fakta yang tak bisa dibantah kelompok kelas menengah adalah kelompok yang selama ini memiliki pengaruh besar bagi pembentukan wacana ditengah publik karena kemampuan penetrasi kepada pemilih yang mereka miliki. Namun pertanyaan selanjutnya untuk pasangan dan tim sukses pasangan ini, mampukah kelas menengah tersebut ikut dalam mengiring opini kepada pemilih yang menjadi bagian dari jejaring  mereka ?

Mengigat selama ini kelas menengah indonesia senantiasa sulit terpercaya dalam memberikan dukungan politik, karena bisa jadi mereka mendukung lewat berbagai komentar, petisi baik di media massa maupun media sosial, namun tidak datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) sehingga dukungan hanya akan berakhir pada wacana bukan pada hitung-hitungan suara di TPS.

Momentum dukungan yang terus menanjak bagi pasangan prabowo-hatta saat ini, mestinya juga dikelola dengan baik, mengigat musuh utama dari Prabowo-Hatta “untuk dapat menyaingi elektabilitas Jokowi- JK adalah waktu”. Seberapa besar penetrasi yang mereka lakukan kini untuk mendapatkan dukungan bisa dikonversi menjadi keputusan rakyat untuk  memilih menjatuhkan kepercayaan atas pasangan ini di TPS nantinya,  sementara jarak interval dengan Jokowi-JK  masih terpaut pada angka 10-17 %.

Menghindari Polemik

Melihat diskursus politik yang kini berkembang utamanya melalui media sosial dan televisi menyangkut persaingan tim sukses para capres dan cawapres dari pengamatan saya lebih sibuk membentuk polemik. Tentu saja dampak dari polemik tersebut adalah menonjolkan kelebihan kandidat dan menunjukan kelemahan pihak lawan.

Namun pertanyaanya apakah hal itu dapat efektif mempengaruhi pemilih ? Patut tetap disadari,  tipologi dramaturgi pemilih indonesia amatlah berbeda dengan negara seperti Amerika. Untuk konteks indonesia yang terbiasa dengan budaya sinetron yang cenderung melankolis, mereka akan lebih bersimpati mendukung sosok yang dipandang lemah, tak berdaya, dan tertindas.

Semakin tak berdaya seseorang maka simpati publik akan semakin mengalir. Maka adalah kesalahan jika pada akhirnya para tim sukses sibuk saling serang atas kandidat lain, karena bisa jadi bukan simpati yang diraih namun anti pati yang besar atas kandidat yang mereka perjuangkan.

Maka dari pada sibuk berpolemik di televisi ataupun jejaring sosial bukankah lebih baik para tim kandidat membentuk citra positif kandidatnya, mengemas cerita menarik seputar kehidupan pribadi mereka,  dan  membentuk kesan yang mendalam atas diri kandidat yang menjadi jagoanya. Dari pada sibuk berperang diudara dengan segala rumor dan isue negatif atas pasangan kandidat lawan yang justru akan membentuk penolakan masyarakat.  


Karena tentu saja kita berharap indonesia dapat berdemokrasi dengan damai, menuju indonesia yang lebih baik dan sejahtera, karena momentum pilpres hanyalah cara memilih pemimpin bukan akhir dari tujuan bernegara. Salam demokrasi!

Rahmad M. Arsyad
Direktur riset IDEC

Posting Komentar

0 Komentar