“Paranoia Capres Superhero”

Superhero senantiasa hidup dalam berbagai waktu, ruang,  zaman dan nama. Dunia rasanya tak lengkap tanpa sosok-sosok manusia super. Baik sosok yang nyata maupun fiksi. Mereka yang diceritakan memiliki “kelebihan” dari manusia kebanyakan. Dalam berbagai epos tokoh-tokoh superhero hadir dengan dua sifat khas, yakni keberanian dan keinginan untuk rela berkorban demi manusia lainya.


Tanpa  Superman, Hulk, Batman, Robin atau Satria Baja Hitam, mungkin fantasi masa kecil generasi saya akan kehilangan keceriaan. Demikian pula tanpa Nietzsche, Sartre, Foucault, ataupun Kierkegaard, masa bermahasiswa tak akan pernah lengkap rasanya jika tidak mengutip berbagai imajinasi nakal para filsuf eksistensialisme yang penuh gairah dan kebebasan tersebut.
Superhero  hadir disegala sisi kehidupan. Bukan hanya pada komik , kartun, film atau pemikiran para filsuf. Superhero juga berakar dari arena kultural misalnya saja tokoh pewayangan Gatot kaca, sosok Lutung Kasarung, sampai kisah Si Pitung. Dalam islam dikenal pula kepercayaan akan datangnya Imam Mahdi dan kebangkitan Isa al masih yang akan memimpin peperangan mewan  Dajjal pada akhir zaman.
Dunia kita memang adalah dunia yang dibentuk pencampuran imajinasi dan kepercayaan akan akan hadirnya superhero. Manusia dalam berbagai zaman selalu membutuhkan sosok yang lebih dari sekedar manusia biasa, mereka yang memiliki tubuh manusia namun dengan kemampuan super ibarat putra Zeussosok manusia setengah dewa Hercules.
Oleh Jacques Lacan fenomena kebutuhan superhero ini disebut sebagai paranoia! Kehadiran paranoia dalam tinjauan psikoanalisa Lacanian, disebabkan oleh ketakutan manusia menghadapi kondisi eksternal dimana mayoritas manusia senantiasa ingin sosok pelindung, hero yang mampu melawan kejahatan, serta tentu saja mampu membuat kebahagian dan mewujudkan mimpi akan ketentraman dunia.
“Capres Superhero”

Kini indonesia sedang dilanda paranoia calon presiden. Lewat berbagai jejaring sosial dan media massa kita bisa menyaksikan bagaimana paranoia itu disebar dan ditanamkan ke dalam benak rakyat. Para tim sukses ataupun sekedar simpatisan pendukung masing-masing capres tak henti-hentinya menyampaikan informasi, wacana, serta menggiring opini dan propaganda, menyangkut kelebihan calon presiden yang mereka dukung dan dengan bersemangat menyerang kelemahan calon presiden lawan.
Dengan politik bawang putih melawan bawang merah, si jahat dan si baik, antagonis dan protagonis, media sosial telah berubah ibarat perang kurusetra  dengan para  buzzer sebagai prajuritnya. Para pasukan buzzer tak henti-hentinya terus meniupkan sinisme atas lawan dan membentuk ‘kesan hiperbolik’ atas kandidat yang mereka dukung.
Para calon presiden muncul menjadi representasi dari sosok superhero dengan beragam bentuk dan kesan. Bahkan ironisnya, sosok kedua capres yang kini saling berebut perhatian rakyat, mulai dilekatkan dengan berbagai ramalan dari ratu adil sampai satrio piningit!
Dalam politik marketing,  membentuk representasi memang menjadi hal yang sangat penting untuk melekatkan citra diri personal dalam benak khalayak. Namun kesan berlebihan yang jauh dari unsur-unsur kenyataan dan realitas keseharian, justru hanya akan menciptakan pseudo (kepalsuan) realitas para capres superhero.

 “Memanusiakan Superhero”
Mengapa kisah para superhero menjadi menarik? Bagi saya justru bukan karena kelebihan yang mereka miliki, namun karena kenyataan hidup keseharian yang mereka lalui. Saya senang dengan Spider Man karena dirinya adalah seorang fotografer biasa yang senantiasa mesti berhadapan dengan kemarahan sang bos.
Demikian pula ketika masih kecil saya begitu tergila-gila pada sosok Hulk, raksasa hijau dengan kekuatan luar biasa. Bruce Benner sosok yang didalam dirinya terdapat kekuatan raksasa Hulk tak pernah meminta dirinya untuk menjadi hero, bahkan dirinya sesungguhnya lebih nyaman dengan menjadi ilmuwan dan mengajar dibandingkan menjadi sosok menyeramkan melawan para tentara Jendral Thunderbolt Ross ayah dari kekasihnya Betty.
Sekali lagi, pada dasarnya konsep superhero menjadi sesuatu yang bermakna karena sisi kemanusian dan humanisme yang mereka miliki. Bukan oleh kekuatan, keperkasaan, yang ada dalam diri mereka. Karena para superhero, pahlawan, ratu adil, tak pernah memberikan diri mereka sendiri gelar superhero. Kitalah pengagum, pencinta yang memberikan mereka gelar superhero.
Karena dalam episode tertentu, para superhero senantiasa merindukan diri mereka untuk menjadi manusia biasa. Tengok saja Wolverine, Spider Man, dan Hulk, mereka adalah manusia-manusia yang merindukan hidup normal, jatuh cinta, dekat bersama keluarga dan akhirnya mati secara wajar.
Saya teringat John Woo, salah satu sutradara film Hongkong yang film-filmnya selalu membuat decak kagum karena mampu menghadirkan para pahlawan secara manusiawi.
Dalam sebuah  wawancaranya bersama Robert K. Elder (2005), John Woo  pernah menceritakan mengapa dirinya menghadirkan para superhero dalam wajah manusiawi dan tidak berlebihan. “Saya bukanlah seorang filsuf. Akan tetapi saya selalu merasa bahwa tidak ada manusia yang sungguh-sungguh jahat dan manusia yang sungguh-sungguh baik. Maka saya mencoba mencintai yang jahat sebagaimana saya mencintai tokoh-tokoh yang baik”, demikian ungkap Woo.
Lewat John Woo kita belajar banyak bahwa para superhero sekalipun tak ada yang sempurna, mereka memiliki sisi baik dan buruk, hal  yang sama juga berlaku bagi para calon presiden. Bahwa masing-masing capres memiliki kelemahan dan kekurangan, karena mereka hanya manusia biasa.
Maka hendaknya para tim sukses dan pendukung fanatik masing-masing calon presiden, jadikanlah capres superhero yang anda kagumi, cintai, dan dukung menjadi manusia biasa yang memiliki kebaikan dan keburukan masing-masing. Karena pada dasarnya setiap calon presiden hanyalah manusia biasa, mereka bukanlah superhero, Nabi, apalagi Tuhan, agar kita semua terhindar dari paranoia capres superhero!

Posting Komentar

0 Komentar