“Anak”


Benarlah kata banyak orang, anak adalah sumber kecemasan. Sesuatu yang dahulu selalu saya sangka sekedar apologi teman-teman saya yang telah berstatus sebagai ayah.

Namun kini, setelah hampir lima tahun menikah dan memiliki seorang anak dengan usia hampir empat tahun,rasa-rasanya saya sedang dilanda sebuah sindrom “kecemasan para ayah!”

Melihat anak saya, Mohamad Ali ridha yang terus tumbuh semakin besar ada banyak kecemasan yang saya rasakan. Kecemasan yang terus berujung tanya. Bagaimana nasibnya kelak ? Seperti apa dia tumbuh dan besar ? Bisakah saya memenuhi kebutuhan hidupnya ? mampukah saya mempersiapkan sekolah dan kuliahnya kelak ?



Apakah  saya dapat segera memberikan sebuah rumah sebagai tempat berteduh dan berlindung hingga Ali dewasa? Bagaimana jika pada akhirnya dirinya justru memusuhi saya karena dipandang gagal sebagai ayah? Atau  jika kelak saya terlalu berlebihan dalam mencampuri jalan hidupnya?

Kita mungkin bisa bicara bijak, adil, bahkan terbuka pada banyak orang. Namun rasa-rasanya sulit untuk menjadi bijak, adil, dan terbuka bagi anak sendiri. Saya pernah membaca ketika Gandhi menulis kepada anaknya, engkau bukan tawananku, tetapi kawanku.

Berhasilkah Gandhi akan ucapanya itu ? Ternyata Gandhi sang manusia suci tetap gagal, karena pada akhirnya dirinya terjebak dengan standar kesucian  sendiri. Maka istri Gandhi Kasturba berseru, sebagaimana dikutip oleh Gunawan Muhamad dalam catatan pinggirnya (Caping; 3 halaman 85); ‘Kau ingin anak-anakku jadi orang suci sebelum menjadi orang!’

Benar kata Kasturba, Gandhi yang mulia hatinya juga pada akhirnya terlalu mencemaskan akhlak anak-anaknya. Tanpa sadar, Gadhi telah menjadi para ayah biasa, yang menjadikan anak-anaknya sebagai proyek dari harapan dan cita-cita diri mereka sendiri.

Saya bukanlah seorang Gandhi, saya hanyalah seorang ayah biasa yang menikah di usia 25 tahun dengan status sebagai seorang anak yatim piatu. Pada saat hendak menikah, saya masih memiliki banyak keberanian dan nyali yang cukup, ketika melamar seorang anak mantan kepala desa di bone dengan hanya bermodalkan kenekatan.

Tak pernah terbayangkan kecemasan seperti yang saya alami saat ini, dimasa ketika saya berani melamar istri saya kala itu.

Sama halnya, saat masih menjadi mahasiswa dengan gagah berani dan sombong, ketika banyak  aksi mahasiswa yang saya lakukan dengan hanya bersenjatakan megaphone dan bambu bendera organisasi mesti berhadapan dengan laras senapan polisi atau tentara. Ketika itu, jujur saya tak sedikitpun cemas, apalagi takut.

Namun, kini setelah empat tahun berlalu, perlahan tapi pasti saya menjadi manusia penakut. Saya takut membayangkan akan masa depan Ali dan mungkin adiknya kelak. Buktinya semakin lama, saya menjadi begitu cepat cemas ketika hal yang berhubungan dengan putra kami itu.

Jika mendengar dirinya sakit, dalam kondisi apapun dan dimanapun, saya akan segera mencari bandara terdekat jika saya berada diluar kota, untuk pulang se-cepat mungkin  hanya untuk melihat dan memeluk putra kecilku itu.

Melihat Ali mulai bermain bersama kawan-kawan kecilnya yang lain, saya mulai sering merasa cemburu ketika dirinya mengabaikan kehadiran saya, padahal bukankah saya tak selalu bersama dirinya dan ibunya ?

Pada banyak kesempatan lain, ibunya sering menertawakan saya ketika membelikan sejumlah mainan hanya karena ada anak tetangga yang memamerkan mainan baru dihadapan Ali. Sementara saya melihat mata anak saya itu berbinar dan tertarik pada mainan itu.

Ibunya sering menasehati saya, sebenarnya bisa jadi Ali sendiri tak ingin atau telah lupa akan mainan temannya. Namun sepertinya itu adalah gambaran dari keinginan papa sendiri yang banyak tertahan saat masih kecil, hanya karena tak ingin meminta kepada orang tua.

Bukankah papa sering bicara teori sigmund freud menyangkut katarsis ? sebuah kondisi endapan emosional.

Dan kini endapan keinginan itu  ditumpahkan kepada  Ali. Jujur saya takut, papa akhirnya akan menjadikan Ali sebagai proyek visual dari ambisi papa sendiri!

Saya hanya diam, setiap kali istri saya menasehati demikian. Mungkin mom, memang benar tanpa sadar saya telah menjadikan Ali sebagai tawanan keinginan saya sendiri, maka akhirnya kecemasan itu terus lahir.

Bukankah, Allah sendiri telah menetapkan rezeki setiap manusia sesuai dengan qada dan qadarnya? Lantas mengapa kita masih cemas, sebagaimana gugatan puisi Kahlil Gibran anakmu bukan anakmu!  Namun jujur saja, rasa-rasanya saya belum mampu mencapai tahapan itu di hari ini.  Sebagaimana saya masih ingat dengan baik, sebuah judul buku Imam Ghazali,  O’Anak yang terbaca seperti “Oh, kecemasan dan ketakutanku!"



Posting Komentar

0 Komentar