Ilusi Pilpres, dan Sikap Saya!

Sekarang minggu tenang, tapi apakah negara ini betul-betul sedang tenang? Jejaring sosial tak henti-hentinya menebar saling fitnah, bohong, dan teriakan-teriakan ejekan. Minggu tenang adalah ilusi, karena dibalik ketenangan itu polusi informasi lewat televisi masih menyala-nyala.

Tiap elit dan tim sukses juga tak tenang, mereka malah memanfaatkan ketenangan ini untuk saling bisik dan atur sterategi, dibalik syahdunya rakyat yang sedang tenang berpuasa.

Ya, minggu tenang bagi saya hanya ilusi dari sebuah birokratisasi formal politik yang bernama pemilu.

Karena selama ini, saya tak pernah melihat ada “tenang” didalam ‘politik’. Karena politik itu sendiri adalah sebuah gerak, sekalipun dalam diam! Seperti juga beragam alasan dibalik dukung mendukung masing-masing capres, bagi saya hanyalah “ilusi kebenaran” untuk disebarkan, yang dalam titik tertentu menemukan persentuhan kepentingan atas setiap individu.

Politik era ini di negeri yang bernama indonesia, bukanlah “politik perjuangan gagasan” karena gagasan tidaklah lebih berharga dibandingkan berbagai pertunjukan untuk mempengaruhi psikologi massa. Karena bukankah kita sudah menerima praktek "demokrasi populis" sebagai jalan memilih pemimpin?

Kalaupun ada, maka gagasan yang bertebaran bukanlah sebuah gagasan yang benar-benar hadir atas pembacaan setiap calon beserta timnya akan realitas persoalan rakyat. Tenggok saja, bagaimana manipulasi gagasan ini dibuat menjadi peluru-peluru populisme dari jutaan berita, status, sampai twitt!

Dari dua pasangan capres saya tak melihat ada gagasan besar yang dibawa, kecuali “gagasan seolah-olah” demi memuaskan hasrat populisme yang menjadi senjata para buzzer maupun mereka yang menjadi simpatisan.
Bagi saya, pilpres kali ini juga bukanlah pertarungan antara orde baru melawan orde harapan baru. Karena baik dipasangan nomor satu maupun dua, tetap dihuni oleh barisan yang dahulu mendirikan orde lama, orde baru, sampai orde SBY.
Pilpres kali ini juga bukanlah perlawanan antara rezim militer dan kekuatan sipil. Karena sekalipun Jokowi-Jk bukanlah berlatar belakang militer, tegok saja berapa banyak jenderal orde baru dan orde SBY berkutat dan berpengaruh disana? Pada kubu Prabowo tak perlu ditanyakan pula soal dukungan militer dan loyalitas sesama jenderal.
Pemilihan presiden kali ini bukan pula perang ideologi apalagi agama, karena bagi saya ‘agama dan politik’ lebih sering dipakai untuk mendulang suara pemilih, karena “Tuhan”adalah hal yang paling laku untuk dijual, apalagi dalam arena politik.

Saya juga adalah orang yang tak yakin bahwa diantara kedua pasangan tersebut bebas dari para mafia. Bagaimana mungkin mereka bisa membayar iklan televisi, dukungan parpol, mencetak alat peraga kampanye, dan oprasional tim sukses ? tanpa disokong oleh para pengusaha yang berjuang untuk mendapatkan sejumlah regulasi bagi keuntungan bisnis mereka setelah calon jagoanya terpilih.

Lantas apa alasan kita mendukung dan memilih ? jawabannya sederhana ; Ilusi dan hasrat individu dari masing-masing kita akan masa depan!

Posting Komentar

0 Komentar