“Renungan-renungan Gaza”



Ini bulan ramadan, ketika sebuah situs kantor berita asing  melaporkan sudah 100 korban meninggal dunia akibat agresi Israel atas Palestina. Tak perlu lagi kita menceritakan berapa banyak air mata yang terus tumpah karena sebuah perang yang tak berkesudahan.

Lantas mengapa mesti ada perang, darah, dan air mata. Pada ramadan kali ini saya merenung, apakah semua soal agama ? ataukah ini soal nafsu okupasi (pendudukan) yang tak pernah berhenti ? atau bisa jadi  ini soal naluri leviathan (monster) ala nasionalisme Hobbesian yang direfleksikan oleh sekelompok manusia yang kita sebut sebagai zionisme?

Karena saya percaya, Tuhan dalam wujud kepercayaan apapun juga tak pernah meminta umatNya untuk saling menumpahkan darah.  Apalagi hanya untuk membela diriNya dihadapan manusia yang begitu lemah. Karena segalanya terlalu mudah bagi Tuhan untuk menghancurkan sebuah kaum sebagaimana pesan dalam Al-Qur’an (surah al-Isra’: 16)

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu,maka sudah sepatutnya berlaku keputusan Kami terhadap mereka, kemudian Kami hancurkan negeri itusehancur-hancurnya.

Lantas apa yang menyebabkan dunia senantias dihiasi perang dan darah? hasil renungan sederhana saya, bisa jadi nafsu penaklukan dan naluri monster yang ada dalam diri manusialah penyebabnya. Maka kita sebutlah itu sebagai “zionisme” yang jika ditelusuri berasal dari bahasa Ibrani yaitu “Tsiyonut” yang bermakna “batu karang” yang menjadi simbolisasi dari keteguhan sekelompok ras yang memiliki impian untuk mendirikan “rumah nasional mereka”.

Zionisme sendiri sepengetahuan saya baru dikenal luas sejak Nathan Bernbaum  seorang penulis jerman yang mengungkapkanya pada tahun 1893 dan  kemudian di lanjutkan oleh  Theodor Herzl yang menerbitkan bukunya yang terkenal Der Judenstaat yang berarti negara Yahudi!

Dari sinilah saya menjadi mengerti, bahwa zionisme lahir sebagai upaya pendudukan, kolonialisme, dan  naluri kejahatan manusia atas se-sama, maka untuk itu dia harus dikutuk dan dilawan, karena bukankah seluruh ajaran agama melarang manusia untuk saling menindas dan mengambil yang bukan hak-haknya.

Maka persoalan palestina adalah persoalan kemanusiaan yang bersifat universal yakni melawan penindasan sesama manusia oleh manusia lainya. Itulah alasan untuk membenci ‘karakter para zionis yang penindas’, kejadian palestina adalah momentum yang baik untuk menghidupkan kembali kesadaran dalam diri kita untuk menjauhi karakter para zionis yang rasis, fasis , yang dibungkus dengan berbagai kemasan citra nasionalisme Yahudi!

Ramadan kali ini juga membuka hati saya, bahwa nafsu kekuasaan sebagaimana yang dimunculkan oleh para zionis dibelakang negara Israel adalah sebuah pertunjukan kebodohan dan angkara. Maka adalah kebodohan yang sama jika kita umat muslim juga melakukan berbagai agresi dan  okupasi layaknya para zionis yahudi.

Membunuh sesama manusia adalah tindakan intoleran, yang biasanya didasari motif meneguhkan berbagai kepentingan pribadi yang dijalankan dengan manipulasi atas nama kepentingan negara dan agama. Sesuatu yang  harusnya kita benci dari watak monster yang senantiasa begerak dalam alam bawah sadar setiap manusia.

Maka ramadhan adalah waktu yang baik untuk mengutuk diri sendiri. Jalan untuk menghidari berbagai sifat binatang yang masih hidup di dalam alam bawah sadar yang haus akan naluri penghancuran. Ramadan datang untuk meleburkan segala ego manusia dengan latihan kesabaran dan kesederhanaan.

Karena saya percaya perang hadir karena rasa kepemilikan dan ego diri.  Padahal bukankah ada dua  pelajaran Ramadan yang paling menonjol, pertama membentuk pribadi yang senantiasa merasa cukup atau dalam bahasa Al-Qur’an dikenal dengan sebutan qonaah dan  yang kedua, tentu saja melahirkan manusia yang  pandai bersyukur?

Bukankah kita mengerti secara bersama-sama, perang palestina adalah bukti bahwa sifat qonaah jauh dari pikiran kalangan zionis? Dimana mereka tak pernah merasa cukup atas tanah yang dimiliki dan telah dibagi, mereka terus saja merawat sifat sengketa dan tak pernah puas atas apa yang dimiliki. Sesungguhnya hal yang layak kita benci dari kalangan zionisme adalah sifat tak pandai bersyukur!

Maka mari mengutuk segala keburukan Israel atas palestina, membenci segala kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh para zionis, dan pada waktu yang sama dibulan ramadan ini kita juga menghukum diri sendiri yang belum lagi lepas dari berbagai sifat-sifat zionisme, mari juga menggutuk diri sendiri!


Posting Komentar

0 Komentar