Setelah Prabowo Pidato ?

Setelah prabowo pidato, ada banyak hal yang terjadi. Pidato yang dibaca kurang lebih lima belas menit dengan paragraf yang kurang dari lima belas paragraf tersebut, membawa dampak yang luar biasa besar. Buktinya beberapa jam setelah prabowo pidato, Jakarta yang biasanya macet langsung menjadi lancar bebas hambatan.



Elit-elit parpol yang dahulu menjadi barisan pendukung dengan janji setia dibawah panji koalisi merah putih segera tancap gas mencari posisi aman. Setelah prabowo pidato, bursa saham segera bereaksi negatif, media sosial juga langsung heboh oleh mereka yang menyerang prabowo bersama pendukungnya dengan berbagai bullying yang menyeramkan.

Maka bagi saya, tak benar jika ada pendapat pidato Prabowo Subianto tidak ampuh mempengaruhi suasana. Tengok saja, bagaimana para pakar hukum tata negara dibuat sibuk untuk segera memberikan tinjauan dan analisis hukum akan dampak dari pidato penolakan dan penarikan diri prabowo.

Tak hanya itu, kubu pasangan nomor urut dua Jokowi-JK yang akhirnya di daulat sebagai pemenang resmi pemilihan umum versi Komisi Pemilihan Umum (KPU) buktinya juga segera memberikan reaksi. Presiden terpilih Joko Widodo dalam pidato kemenangan nya, bahkan terus mengulang kalimat “indonesia yang satu” bahkan dengan sangat manis memberikan salam baru untuk indonesia, salam tiga jari yang bermakna persatuan indonesia sebagaimana sila ketiga pancasila.

Jokowi juga tanpa sungkan memuji rivalnya Prabowo-Hatta sebagai dua tokoh yang memberikan kontribusi besar bagi bangsa dan negara indonesia. Menurut saya, inilah pidato prabowo yang paling banyak dibicarakan dibandingkan puluhan pidato yang selama ini kita dengar dan saksikan dari prabowo subianto.

Efek Pidato Prabowo

Jika dilihat dari sudut pandang komunikasi politik, pidato prabowo membawa sejumlah implikasi yang besar setidaknya dapat dilihat dari tiga efek pesan. Pertama, jika dilihat dari dampak kognitif yakni informasi baru yang timbul dalam benak khalayak pasca prabowo pidato.

Menurut saya, setelah pidato prabowo 22 juli yang disampaikan dengan nada emosional dan sejumlah luapan kekecewaan yang meledak-ledak tersebut, tak dapat dipungkiri justru membenarkan opini publik selama ini, akan kesan Prabowo sebagai sosok yang terlalu berambisi kekuasaan dan tak siap menerima kekalahan.

Kedua, dampak afektif yaitu efek pesan yang lebih tinggi dibanding aspek pesan kognitif. Pada level ini sebuah pesan bukan hanya bermakna informasi, namun melibatkan perasaan dan situasi emosional penerimanya. Pada level kedua inilah menurut saya, kecelakaan pidato prabowo menjadi begitu fatal, karena pidato tersebut bukannya menarik simpati, namun justru akan membuat antipati.

Tak dapat dipungkiri, rakyat sudah begitu lelah mendengarkan berbagai diskursus dan pertarungan argumentasi seputar pemilihan presiden. Dalam hemat saya, energi rakyat tidak lagi kuat untuk terus dipaksa membentuk polarisasi politik. Pada dasarnya baik pendukung kubu prabowo maupun pendukung kubu jokowi, sudah tidak lagi memiliki energi yang sama untuk terus membahas berbagai urusan pilpres. Sederhanya, rakyat ingin persoalan pilpres ini segera berlalu.

Sebagaimana kutipan pidato Joko Widodo yang kelihatanya lebih paham akan kondisi afektif rakyat; “petani kembali ke sawah, nelayan kebali melaut, karyawan kembali ke kantor! Sudah waktunya kita mengakhiri segalanya kita kembali ke indonesia raya. Pulihkan kembali hubungan keluarga dengan keluarga, tetangga dengan tetangga, serta teman dengan teman yang sempat renggang,

Sedangkan jika dikaji dari aspek pesan ketiga, yakni efek pesan behavioral yang ditimbulkan dalam bentuk prilaku masyarakat pasca pidato prabowo, dalam hemat saya prabowo justru akan semakin membentuk antipati atas politik. Karena sepanjang tahun 2014 “rakyat terus dipaksa tanpa jeda untuk terus terlibat dalam berbagai persoalan politik”.

Ibarat sebuah balon gas, jika proses politik ini tidak berkesudahan dan terus saja diwarnai perang opini dan perbincangan seputar kecurangan, maka jangan salahkan jika pada akhirnya ledakan kekecewan rakyat akan semakin membesar atas kehidupan politik di tanah air.

Gugatan ke Mahkamah Konstitusi

Setelah prabowo pidato, maka akhirnya kita menyaksikan tim hukum koalisi merah putih mengajukan gugatan ke KPU sebagaimana lima poin yang dipersoalkan prabowo dalam pidatonya. Lantas apakah hal ini akan mempengaruhi proses politik dan opini publik yang sudah terbentuk ?

Menurut pendapat saya, gugatan tim prabowo kepada mahkamah konstitusi tidak akan signifikan mengubah apapun. Karena dalam politik sebagaimana kata-kata Abraham Lincoln, “Public sentiment is everything, with public sentiment nothing can fail, without it nothing can succeed”.

Opini publik sudah terlanjur terbentuk, dan rakyat mayoritas juga sudah sama-sama percaya bahwa Jokowi-Jk adalah pemenang pemilu, ketika mahkamah konstitusi atau siapapun hendak bermain-main dengan kepercayaan tersebut publik yang lelah bisa jadi akan semakin marah.

Posting Komentar

0 Komentar