“Surat Tabayyun untuk Abdurrahman Qayyum”


Bapak ustadz yang saya hormati, pertama-tama saya memohon maaf ikut menanggapi berita tentang saudara, karena jujur saya tidak pernah mengenal bapak Ustadz dan mungkin demikian pula sebaliknya. Semoga melalui surat ini, Allah menjadikan jalan Ta’aruf (kenal mengenal di antara kita), utamanya dalam hal persentuhan pemikiran karena saya percaya dari saling kenal maka manusia akan belajar untuk saling percaya.

Bapak ustadz yang saya hormati, maka anggaplah surat saya ini sekedar berusaha untuk Tabayyun (mencari kejelasan) akan kabar yang beredar di jejaring sosial dan berita yang saya baca, atas pernyataan ustadz yang menyampaikan profesi Jurnalis adalah profesi yang mesti dihindari ? Benarkah ucapan tersebut bapak Ustadz sampaikan ?

http://rakyatsulsel.com/jurnalis-ramai-ramai-sindir-ustaz-abdurrahman-qayyum.html












Sebab dalam foto berita yang sudah beredar luas dijejaring sosial (ujung panjang ekspress; kamis 17 Juli 2014) pada paragraf pertama dan kedua tertulis seperti ini;

Ustadz asal Makassar, Abdull Rahman Qayyum, MA saat ceramah di masjid Taqwa Enrekang sindir wartawan.  Profesi wartawan adalah pilihan profesi yang mesti dihindari sebagai pilihan kerja. Bukan karena bentuk pekerjaanya bersentuhan dengan barang kotor, tapi nilai manfaat pekerjaanya lebih kecil dibandingkan mudharatnya.

Kalau benar bapak ustadz menyebutkan sebagaimana yang dituliskan dalam berita tersebut, rasanya saya ingin bertanya apakah maksud dari manfaat pekerjaanya lebih kecil dibandingkan mudharatnya?

Karena rasa-rasanya semua pekerjaan memiliki nilai manfaat dan mudharat.  Dalam pikiran saya yang bodoh ini, tak ada satupun profesi  di dunia ini yang lepas dari kemungkinan membawa mudharat termasuk seorang penceramah seperti bapak ustadz.
Bahkan bisa jadi seorang ustadz, lebih banyak membawa mudharat ketika isi ceramahnya justru menimbulkan perpecahan dan kebencian di tenggah umat.

Bahkan bisa jadi pula, dalam pandangan saya ancaman bagi seorang ustadz lebih besar, sebagaimana dalam ayat Al-Qur’an surah at-Taubah ayat 9 ;

Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit (dari faedah-faedah dunia), lalu mereka menghalangi (dirinya dan orang-orang lain) dari agama Allah sesungguhnya amatlah buruknya apa yang mereka telah kerjakan.

Kedua, sebagai orang yang pernah belajar dunia jurnalistik, bagi saya profesi sebagai jurnalis adalah profesi yang amat mulia karena tugas seorang jurnalis atau wartawan adalah seorang pemberi kabar dan pembawa berita. Bukankah seorang Nabi juga melakukan hal yang sama, karena Nabi itu sendiri dalam bahasa arab sepengetahuan saya berasal dari kata naba yang berarti orang yang menceritakan suatu berita atau kabar.

Perbedaanya Nabi mendapatkan wahyu langsung dari Allah sementara wartawan atau jurnalis berangkat dari fakta sosiologis dan psikologis yang didapatkan dan ditemuinya.  Demikian pula profesi seorang ustadz, bukankah fungsi utamanya sebagai seorang guru atau pendidik di tengah umat yang  menjelaskan dan membawa kabar dari ayat-ayat Allah dan hadits rasulullah .

Lantas manakah yang bapak ustadz sebut sebagai nilai manfaatnya lebih kecil ?

Karena sekali lagi pekerjaan apapun selama dilakukan dengan niat dan prilaku yang benar tentu saja akan sangat bermanfaat dan bernilai ibadah. Bukankah seperti itu bapak ustadz ? Semuanya menurut saya, kembali pada prilaku dan tanggung jawab profesi kita masing-masing.

Saya tak bisa membayangkan dunia tanpa para wartawan.Mungkin kita tak akan tahu bahwa di palestina sedang terjadi penindasan atas saudara-saudara kita yang muslim oleh kelompok zionis Israel.

Tanpa para wartawan, kita tak pernah tau bahwa banyak para koruptor yang mengambil uang negara dan merampas hak-hak rakyat ? Bahkan mungkin, tanpa wartawan dakwah bapak ustadz tidak bisa dikenal luas?

Ketiga, bapak ustadz yang saya hormati dan semoga selalu dalam lindungan Allah SWT. Saat ini dunia berkembang begitu cepat, profesi wartawan yang berarti pembawa berita tidaklah se-sempit dahulu. Perkembangan Teknologi infomasi telah melahirkan begitu banyak saluan media, bahkan semua orang bisa menjadi pewarta itu sendiri termasuk bapak ustadz Abdull Rahman Qayyum sendiri.


Demikian surat tabyyun ini, semoga pada bulan Ramadan yang penuh berkah kita bisa saling berpesan dan saling membawa kabar kebaikan serta kebahagiaan bagi sesama, bukan fitnah dan angkara murka.

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Anonim1:19 PM

    Yaelah...gitu aja ditanggepin. Ustadz lagi keseleo lidah...kan udah minta maaf dan kehilangan job. gak usah diperpanjang.

    BalasHapus