Jelajah Timur Sulawesi

1#Warna Warni Morowali Utara


Saya selalu senang melakukan traveling atau jalan-jalan. Mengapa? Ada banyak alasan, namun alasan yang paling utama karena dengan melakukan banyak perjalanan, membuat hidup yang kita jalani menjadi lebih berwarna.


Poso menuju Morowali utara

Dalam urusan jalan-jalan, saya menambah kriteria baru bagi diri sendiri. Yakni, agenda traveling yang saya lakukan sebaiknya bukan sekedar jalan-jalan biasa, namun bernilai plus-plus, yakni jalan-jalan yang menghasilkan, mengasyikan, dan mampu menambah pengetahuan baru.


Yup, untuk bisa mencapai traveling plus-plus, ada dua profesi yang paling memungkinkan.Pertama, menjadi seorang penulis dan kedua, menjadi peneliti. Kedua profesi tersebut identik dengan jalan-jalan yang menghasilkan.

Apalagi disaat sekarang, dunia tulis menulis semenjak perkembangan media online dan jejaring sosial kini memunculkan sebuah trend baru, yakni profesi penulis travel writer.

Profesi seorang penulis catatan perjalanan tak bisa lagi dipandang remeh, berbagai paket plus-plus bisa didapat ketika kita menjadi seorang travel writer mulai dari sekedar honor tulisan di majalah sampai  famtrip (Familirization trip: sebuah undangan peliputan trip dari perusahaan atau orang tertentu).

Kedua, peneliti ? seorang peneliti ketika sudah dipercaya dan memiliki nama serta kredibilitas yang baik, biasanya akan sering mendapatkan sejumlah paket kegiatan penelitian baik yang dibiyai oleh pemerintah maupun swasta.

Nah, selama ini saya selalu senang jika diberikan kegiatan penelitian ke daerah-daerah yang menantang dan bentang alam yang keren. Karena selain menikmati perjalanan yang warna warni, tentu saja bisa menyaksikan berbagai kekuasaan Tuhan akan ciptaanya.

Karena menurut saya, semakin sulit kondisi bentang alam sebuah daerah, biasanya berbanding lurus dengan keaslian dan eksotisme sebuah daerah.


Kali ini saya ingin menyusun seri perjalanan timur indonesia, tepatnya di daerah bagian timur sulawesi tengah. Yang dimulai dari kabupaten morowali utara. Lalu mengapa morowali utara ? sederhana karena job awal riset yang diberikan adalah disana, hehe.

###

Perjalanan ke morowali utara kami mulai dari palu, selain dari palu untuk mencapai kabupaten termuda sulawesi tengah, yang merupakan hasil pemekaran kabupaten morowali ini bisa ditempuh pula lewat Makassar dengan jalur melalui sorowako,lantas menyebrang melalui nuha ke ibu kota kabupaten morowali utara yakni kolonodale.

Karena dari palu, maka saya dan tim harus melalui sejumlah daerah yakni parigi mautong-poso tentena- taripa. Setelah itu masuk di kabupaten morowali utara yakni Lembontonara, tomata, beteleme, tompira dan akhirnya kolonodale.


Waktu yang ditempuh dalam kondisi normal kurang lebih 12 jam, namun karena kondisi hujan dan berkabut saat berada diatas kelokan gunung perbatasan poso -morowali, memaksa perjalanan kami akhirnya terhenti selama 4 jam lebih, karena mesti menunggu perbaikan jalan oleh alat berat.





Saat berada di kemacetan gunung tersebut, saya akhirnya mengeluarkan istilah kepada team. “kalau di kota jalan bagus, kenderaan banyak akhirnya macet, kalau di gunung kenderaan bagus jalan rusak juga macet, oh indonesiaku”.

Setelah melalui berbagai ujian kesabaran dan ujian nyali, perjalanan kemudian dilanjutkan ke kolonodale dengan waktu hampir 4 jam sampai akhirnya segala ujian dan warna-warni perjalanan dapat terbalaskan ketika sampai dikabupaten morowali utara.

Sepanjang perjalanan memasuki kabupaten morowali utara saya begitu menikmati berbagai warna-warni kehidupan sosial warganya, kabupaten dengan penduduk hanya berkisar diantara 200.000 ribu lebih jiwa ini,  merupakan salah satu kabupaten dengan keragaman kepercayaan, adat istiadat, dan budaya.

Tak jauh berbeda dengan kabupaten induk semangnya dahulu yakni poso, di morowali utara selama di perjalanan kita bisa menyaksikan gereja, masjid dan pure. Sama halnya mata dipuaskan oleh bentang alam yang beragam, ada gunung, lautan dan daratan yang menjadi pemukiman warga. Beragam orang dengan perbedaan latar belakang suku mendiami kabupaten ini, setidaknya dari berbagai cerita yang saya dapatkan ketika berbicara sejumlah orang yang dijumpai, mulai dari suku Mori, wana yang katanya warga asli, bugis, kaili (suku dari lembah palu), menado, gorontalo dan bali serta banyak lagi yang lainya seluruhnya ada disini.

###

Kehidupan sosial warga morowali utara juga beragam, ada petani, nelayan, pedagang, dan plus satu lagi penambang. Memang, kabupaten morowali dan morowali utara dikenal memiliki sejumlah potensi tambang yang besar selain ada pula potensi gas dan minyak bumi.

Bukan hanya itu, dikabupaten morowali utara juga terdapat hamparan kebun kelapa sawit yang maha luas yang dikelola oleh beragam perusahaan. Dengan segala potensi yang dimiliki dan telah diekspolrasi, wajar saja banyak yang menuliskan bahwa kabupaten morowali adalah salah satu kabupaten terkaya disulawesi tengah.


Namun sayangnya dengan kekayaan yang dimiliki oleh daerah ini, setelah menyaksikan dari dekat kehidupan sosial warganya justru menimbulkan pertanyaan besar yang tiba-tiba singgah di kepala saya, apakah rakyatnya sejahtera ?

Adakah perubahan yang dirasakan oleh masyarakat setelah kabupaten morowali dimekarkan dari kabupaten poso, lalu dipecah lagi menjadi kabupaten morowali utara?  

Bagaimana dengan bencana alam yang selalu terjadi didaerah ini, yang diduga akibat ekspolitasi berlebihan atas alam ?

Apakah pemekaran dengan niat mendekatkan akses atas pembangunan kepada masyarakat terjadi ? atau justru membuat para tuan-tuan penguasa semakin menjadi ?

sambil menarik nafas saya berbisik dalam hati, bukankah itu yang hendak saya jawab dari penelitian ini ? baru saja saya hendak melanjutkan pertanyaan dikepala, lampu sudah padam...



Posting Komentar

0 Komentar