Sulteng; Ide besar VS Ide Sejajar ? (Catatan Kecil untuk Bapak Gubernur)

2# Jelajah Timur Sulawesi 

Saya paham tidak mudah menjadi seorang gubernur. Apalagi menjadi gubernur disebuah propinsi terbesar di kepulauan sulawesi yang luasnya tidak main-main 68,033 kilo meter persegi dengan luas wilayah laut 189,480 kilometer. Jumlah penduduknya memang  hanya  sedikit  2,635 juta, sesuai sensus penduduk 2010.

Masih besarnya luas wilayah dan jumlah populasi yang terbatas, pada satu sisi adalah potensi namun pada sisi yang lain dalam hemat saya juga menjadi soal karena keterbatasan sumber daya manusia dalam mengelola sumber daya alam. Apalagi penduduk yang sedikit itupun, tak berhenti dilanda berbagai konflik.

Keadaan ini, tentu saja memaksa bapak gubernur mesti bekerja ekstra untuk berkordinasi dengan para kepala daerah sebagaimana tugas seorang Gubernur sesuai dengan  UU No 32 Tahun 2004 dan PP No 19 Tahun 2010 dimana kewenangan gubernur hanya sebatas membina, mengawasi, dan mengkoordinasi penyelenggaraan pemerintahan daerah.

Ide besar VS ide sejajar

Bapak Gubernur saya yang saya banggakan, saya mungkin hanya seorang anak muda yang gelisah melihat daerahnya. Ari-ari saya yang ditanam di sulawesi tengah, seolah terus memangil ‘lihat kampung halamanmu’! Karena itulah, beberapa tahun ini saya terus melakukan perjalanan ke timur sulawesi tengah, menjelajahi beberapa kabupaten menyaksikan kehidupan warga dari dekat.

Jujur saya miris, bahwa disana-sini jalan-jalan kita masih rusak, beberapa wilayah yang belum memiliki listrik, saudara-saudara saya masih banyak yang belum hidup layak, serta tentu saja saya bersedih melihat anak –anak tak sekolah dan pengangguran masih banyak .



Sekali lagi saya paham, adalah tidak adil melimpahkan berbagai hal yang saya lihat tersebut hanya pada seorang gubernur, apalagi sekarang zaman ‘otonomi daerah’ dimana otoritas yang besar pada para bupati dan walikota. Namun bapak Gubernur, saat saya berbincang dengan sejumlah orang di perjalanan mereka bicara tentang harapan besar kepada bapak, harapan yang pernah mereka tunjukan dengan 54,43 persen suara kemenangan untuk bapak.


Bapak Gubernur, saya senang karena bapak seorang yang sangat rasional dan terukur dalam segala hal. Termasuk dalam soal visi bapak 2011-2016; “Sulawesi Tengah Sejajar dengan Provinsi maju dikawasan Timur Indonesia melalui pengembangan Agribisnis dan  kelautan dengan peningkatan sumber daya manusia yang berdaya saing tahun 2020”.

Namun, setelah berkeliling sulawesi tengah, saya berpikir sepertinya yang dibutuhkan oleh daerah ini bukan sekedar sejajar tapi melampaui! Karena dimana-mana disetiap tempat, semuanya bergerak termasuk provinsi lain yang kita definisikan “maju” tiga tahun lalu.

Untuk bisa sejajar, kita butuhkan lompatan dan aksi yang lebih besar dibandingkan provinsi lain. Program yang mampu mendorong potensi agribisnis kita lebih baik, pengelolaan sumber daya laut kita yang lebih maksimal, dan tentu saja akselerasi daya saing pendidikan yang tidak main-main.

Bapak Gubernur, terus terang saya kagum pada bapak seorang putra daerah lulusan MIPA universitas Indonesia. Terukur, Terjangkau, dan Terimplementasi (3T) mungkin itulah diri bapak Gubernur yang saya kenali. 

Namun, sepertinya kita tidak hanya butuh "Empirisme rasional mekanis yang demikian, kita mungkin butuh sprit besar yakni  Tercepat, Termaju, dan Terdepan!

Kita butuh gagasan besar agar ‘jantung sulawesi’ bisa berdetak. Kita butuh mimpi besar bukan sekedar rasionalitas mesin, mimpi yang bisa membuat kita bangun, berlari, untuk bisa lebih cepat. Bapak gubernur, provinsi kita kaya kita punya nikel, emas dan potensi pertambangan lainya.

Provinsi ini, juga punya beragam potensi laut dan sumber daya alam yang masih begitu luas. Untuk itu, kita butuh kepemimpinan yang mampu menularkan ‘harapan’ agar semua orang mau memacu diri untuk bergerak lebih cepat bukan sekedar berusaha untuk sejajar dengan yang lainya.


Bapak Gubernur, mungkin saya belum pernah merasakan asam garam menjadi seorang Gubernur dan pernah menjadi bupati seperti bapak. Namun izinkan saya, anak kemarin sore ini ingin mengutip satu kisah dari Mao Zedong pemimpin cina yang menjadi peletak kemajuan cina hari ini ;

Suatu hari terjadi perselisihan paham antara Mao Zedong dengan pemimpin Sovyet.Perselisihan begitu panas sampai keluar peryataan dari pemimpin Sovyet, yang begitu menghina  "Sampai rakyat Cina harus berbagi 1 celana dalam untuk 2 orang pun, Cina tetap tidak akan mampu membayar hutangnya." 

Ucapan itu membuat Mao Marah, sang presiden kemudian menyampaikan penghinaan
tersebut lewat siaran radio, penghinaan dari pemimpin Sovyet itu, secara terus menerus dari pagi hingga malam ke seluruh negeri sambil mengajak segenap rakyat Cina untuk bangkit dan melawan penghinaan tersebut dengan cara berkorban. 

Mao terus membangkitkan mimpi kepada rakyat,  kita bangsa besar, alam kaya, tunjukkan kepada dunia kita bisa bangkit dan membayar hutang dengan hanya menyisihkan 1 butir beras, ya, hanya 1 butir beras untuk setiap anggota keluarga, setiap kali mereka akan memasak.

Maka rakyat bergerak, karena sadar bahwa mimpi cina akan menjadi pemimpin dunia dapat terwujudkan sebagaimana mimpi ketua Mao, akhirnya setiap  1 rumah tangga terdiri dari 3 orang menyisihkan 3 butir beras perhari. Beras yang disisihkan dari 1 miliar penduduk Cina tersebut, menghasilkan 1 miliar butir beras setiap hari.

Hasilnya dikumpulkan ke pemerintah untuk dijual. Uangnya digunakan untuk membayar hutang kepada negara pemberi hutang, yang telah menghina mereka. Akhirnya Cina berhasil melunasi hutang mereka ke Sovyet dalam waktu yang sangat cepat. 

Itulah contoh sebuah kekuatan ide besar, Mao tak hanya terpaku pada Anggaran Belanja Negara(APBN) yang terbatas, tak hanya berpikir melakukan efisiensi birokrasi pemerintahan, Mao mampu membangkitkan sesuatu yang besar, yakni “kesadaran rakyat untuk berbuat dan bergerak bersama-sama”.

Hal itu bisa terjadi karena kepercayaan rakyat atas pemimpinya, yang membuat mereka percaya akan mimpi besar sang pemimpin besar. Karena bukankah tugas seorang pemimpin adalah membawa impian kepada rakyatnya menjadi mimpi bersama ? Karena  saya percaya bapak Gubernur punya itu untuk sulawesi tengah!


Posting Komentar

0 Komentar