Ayah

Ayah
(Sebuah catatan kecil dari karya Buku Menetak Sunyi; Damang Averroes)  



Mengenal Damang, seolah memasuki misteri. Itulah pengalaman pribadi saya, semenjak berkenalan dengan salah seorang penulis muda produktif dari Fakultas hukum unhas itu. Dahulu saya tak tahu siapa namanya, yang saya tahu setiap kali saya mengisi kajian di forum-forum lembaga mahasiswa, seperti hantu tiba-tiba saja dia muncul dihadapan saya.

Persentuhan saya dengan dirinya menjadi intensif beberapa tahun terakhir, setelah saya bahkan tidak lagi terlalu sering di makassar. Tulisan opininya yang rutin di salah satu media lokal di kota Makassar, membuat saya semakin penasaran lalu entah bagaimana akhirnya kami terhubung dan bersahabat.

Saya begitu menikmati ketika berdiskusi dengan alumni fakultas hukum ini, ada banyak ide segar dikepalanya yang membuat saya terkagum-kagum. Damang, selalu berusaha memberikan wacana tanding, menyuguhkan pikiran berbeda, dan yang paling utama memaksa saya terus belajar memahami banyak hal.

Kemarin, damang menjumpai saya disalah satu warung kopi di Makassar, dia memberikan sebuah buku kumpulan cerpen karyanya dan tiga penulis Makassar. Judulnya; “menetak sunyi”. Membaca judul sampul buku ini, jujur awalanya membuat saya bertanya, karena kata ‘menetak’ adalah hal yang jarang digunakan.

Setelah membuka kamus dan beberapa situs  pencari di internet, saya menemukan sedikit penjelasan tentang arti menetak yakni ;  memotong, atau menghantam’ ? lantas apa hubunganya dengan sunyi ?

Sebuah karya memang penuh dengan hubungan personalisasi sang penulis dan anak kandungnya, maka akhirnya saya cukup menyerahkan pada damang apa maksud kata menetak dan sunyi disampul karyanya dan kawan-kawanya tersebut.

***
Dari dua puluh kumpulan cerpen dalam buku yang ditulis oleh  tiga penulis Menetak sunyi yakni ; Dipta 354, Irhyl R. Makkatutu dan Damang saya sungguh menyenangi salah satu cerpen karya Damang yang berjudul “memori kematian”(hal 81). 

Mengapa ? karena dari sana saya seolah memasuki ‘perjalanan kembali’, sebuah peristiwa sentimentil yang juga sama saya alami.     

Saya yakin cerpen tersebut adalah pengalaman pribadi damang yang kembali dituliskanya. Kisah seorang mahasiswa yang berjuang menyelesaikan studinya dengan segala keterbatasan yang dimiliki, lalu ditengah perjuanganya bertemu dengan seorang dosen yang menjadi sosok pengganti ayah.

Ya, seperti damang, saya dan mungkin sejumlah anak-anak zaman dari universitas Hasanuddin kami bersyukur  masih bisa menjumpai sejumlah pengajar yang mau menjadi sosok pengganti ayah bagi yatim seperti kami. Beruntung jika Damang memiliki penasehat akademik seperti almarhum Prof. Mas Bakar dan saya punya seorang Dr. Mansyur Semma.

Bersama Damang
Mereka ibarat mata air, yang mengisi embun kesunyian dan kegelisahan masa bermahasiswa kami. Allah telah mengirimkan malaikat yang memberikan kami pesan-pesan kehidupan, nasehat, sekaligus peta jalan dalam menghadapi kerasnya dunia. 

Para guru yang mulia itu, seolah mengerti bahwa mereka memiliki tugas lebih selain mengajar dikelas, mereka telah menjadi ayah ideologis bagi jiwa-jiwa muda yang gelisah seperti seperti kami.

***

Ketika seorang ayah itu pergi. Rasanya sakit. Amat sakit. Walau ketetapan dan sunnatullah tak ada yang bisa melawannya. Nukilan kalimat diatas adalah sebuah penggambaran dari damang tentang arti kehilangan seorang ayah, benar kehilangan seorang ayah adalah hal yang tidak mudah.

Namun dibalik kisah hidup tersebut, saya coba menarik pelajaran Tuhan mengapa kami diyatimkan saat kami sedang butuh tempat bersandar dari seorang ayah. Kesimpulan sederhana saya,  agar kami belajar lebih kasih sayang dan  kelembutan seorang ibu.

Saya coba menarik kesimpulan dari banyak pengalaman yang saya jumpai, begitu banyak para penulis yang berpisah dengan ayahnya ketika mereka masih kecil atau masih dalam usia remaja. Mereka itu, pada umumnya bukan dibesarkan oleh ayahnya namun oleh kasih ibunya!

Lalu saat remaja, Tuhan mempertemukan mereka dengan ayah-ayah ideologis yang menjadi pengganti ayah biologisnya. Mereka inilah yang kelak akan menjadi pembimbing dan penuntun dari kehidupan anak-anak zaman dalam menetak sunyi!










           







Posting Komentar

0 Komentar