Idul Adha dan Pelajaran untuk Para Orang Tua


Setiap hari raya Idul Adha tiba, kita senantiasa diajak merenung perjalanan dua manusia suci. Apalagi kalau bukan kisah Nabi Ibrahim dan Ismail. Keduanya adalah dua tokoh yang menjadi simbolisasi dari pesan-pesan Tuhan kepada manusia, untuk dijadikan sebagai bahan pelajaran kehidupan.

Pagi tadi, saya kembali diantarkan untuk merenungi makna hari raya idul adha, beserta epik kisah kehidupan antara ayah dan anak tersebut. Karena bukankah puncak Idul Adha itu sendiri,  sebagaimana mereka yang menjalankan  ibadah haji adalah wukuf yang berasal dari kata waqafa-yaqifu artinya berhenti atau berdiam.

Dalam perenungan diam saya pagi ini, saya kemudian terkenang potongan pelajaran bersama Guru saya.  Suatu kali, sang mursyid pernah berpesan

“Ananda, jadikanlah kisah Ibrahim dan Ismail sebagai jalan bagi para orang tua untuk belajar”

Apa pelajaran yang kami bisa dapatkan dari kisah Ibrahim dan Ismail? Tanya saya penasaran.

Mursyid saya tersenyum lalu melanjutkan pelajaran,

“bahwa terkadang sebagai orang tua, kita  senantiasa diliputi rasa cinta yang berlebihan atas harta, istri, anak, dan keluarga sehingga melupakan Tuhan”.

Bukankah Allah pernah berfirman :

innamaa amwaalukum wa-awlaadukum fitnatun waallaahu 'indahu ajrun 'azhiimun. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. (surah At-Taghaabun Ayat 15)

Salah satu pelajaran dari kisah Ibrahim , adalah pelajaran tentang hal tersebut. Ketika Ibrahim sebagai nabi sedang diuji kesetiannya oleh Allah, apakah dia lebih mencintai putranya ataukah mencintai TuhanNya. Sebagaimana diceritakan dalam Al-quran sendiri ketika terjadi dialog antara ayah dan anak tersebut ;

 “Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?…” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 102).

 Lalu apa jawab ismail ? 

“Ia (Ismail) menjawab, ‘Hai bapakku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah! Kamu mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 102).

Ibrahim masih dilanda kegalauan,ketakutan dan rasa was-was. Itulah rasa kita, yang dicontohkan oleh Allah, rasa kepemilikan yang senantiasa dimiliki oleh para orang tua. Bandingkan dengan jawaban ismail yang penuh dengan penerimaan, kepatuhan.

Tapi, bukankah Allah juga mengajarkan kepada kita untuk menjaga titipannya sebaik mungkin ? tanya saya kembali.

Ya, tugas kita  sebagai orang tua  adalah mengutamakan pengembangan karakter, moral , mental, serta etika untuk masa depan anak-anak. Karena masa depan anak-anaknya sudah terikat dengan Takdirnya masing-masing. Namun karakter, moral , mental dan etika anak-anak harus dibentuk oleh para orang tua dan lingkungan, agar sang anak dapat mampu, kuat dan sadar dalam menyambut masa depannya sesuai dengan Takdirnya masing-masing.

Karena itulah lewat kisah Ibrahim dan Ismail kita sedang belajar hakikat puncak dari  ibadah qurban, yakni  memberikan segala cinta hanya kepada  Tuhan sebagaimana kisah ketabahan dan kesabaran Ismail!


Air mata saya jatuh, dan saya sadar bahwa saya masih jauh dari kepatuhan Ibrahim apalagi kesabaran Ismail. 

Posting Komentar

0 Komentar