“Mark Zuckerberg dan Pesan Revolusi Ilmu Komunikasi Indonesia”


Rene Descartes filsuf berkebangsaan prancis pernah menyampaikan sebuah risalah yang terkenal "aku berpikir maka aku ada". Dalam bahasa latin diktum ini kemudian dikenal dengan istilah ‘cogito ergo sum’. Descartes ingin menyampaikan bahwa dengan berpikir maka eksistensi manusia diakui kehadiran sekaligus keberadaanya.

Namun jika descartes hadir pada zaman ini, mungkin dirinya akan menambah atau bahkan mengubah pendapatnya, “Aku ada, karena Aku menggunakan jejaring sosial” ! Karena konteks zaman abad ke 21, telah menyebabkan eksistensi dan kehadiran seorang manusia baru diakui ketika dirinya hadir dan menjadi bagian dari dunia jejaring sosial.


sumber  foto ; www.antaranews.com

Ya, bagian dari dunia baru yang salah satunya dipelopori oleh seorang anak muda yang baru saja berkunjung ke indonesia Mark Zuckerberg, pencetus lahirnya situs jejaring sosial facebook. Karena jika Descartes merupakan  salah satu filsuf yang dikenal sebagai pembawa tradisi rasionalisme kontinental. Maka Mark dan sejumlah pengembang situs jejaring sosial, bisa dikategorikan sebagai pembawa ‘revolusi interaksi baru komunikasi’.

Mark Zuckerberg dan Revolusi Ilmu Komunikasi Indonesia

Mungkin sudah waktunya para ilmuwan komunikasi indonesia, mulai melakukan penyegaraan dalam melihat prespektif kontemporer perkembangan ilmu komunikasi. Utamanya dalam mengkaji secara serius fenomena perkembangan media baru serta teknologi komunikasi dan informasi. 

Saya masih ingat betul, pada awal tahun 2010 ketika menulis thesis yang berjudul; Facebook; dari jejaring sosial, menuju jejaring perlawanan”, mulanya banyak dari pembimbing thesis saya meragukan apakah jejaring sosial seperti facebook layak dijadikan sebagai objek studi komunikasi?


Bahkan, ada seorang doktor yang menjadi penguji sambil tertawa menyampaikan kepada saya,  ‘Facebook dan sejumlah situs jejaring sosial  adalah mainan anak SMP dan tidak memiliki pengaruh besar bagi kajian komunikasi, apalagi sampai mampu mendorong perubahan sosial ’!

Jujur saja, dalam hati ketika itu saya cukup tersinggung dengan peryataan dosen saya tersebut. Tapi akhirnya setelah memberikan penjelasan yang cukup panjang lebar, saya bersyukur thesis saya diloloskan dan mendapatkan nilai sangat baik pada ujian akhir.

Bahkan kini, saya menemukan bahwa dosen saya yang meragukan penelitian tersebut sangat aktif dalam menggunakan jejaring sosial. Berangkat dari pengalaman pribadi saya tersebut,  telah membuktikan bahwa suka atau tidak, pada akhirnya kehadiran jejaring sosial telah memaksa manusia-manusia abad ini untuk hadir dan eksis didalamnya. Termasuk dosen saya yang menyampaikan bahwa jejaring sosial adalah mainan anak SMP!

Begitu besarnya eksistensi media sosial dalam kehidupan manusia modern, utamanya  dengan hadirnya platform  generasi jejaring sosial dengan beragam jenis dan fitur mulai dari facebook, myspace, twitter, linkend, google +, youtube, path serta sejumlah situs jejaring sosial lainya, telah membawa sejumlah implikasi dalam ruang kehidupan sosial dan pribadi manusia-manusia pasca modern.

Jejaring sosial bukan lagi sekedar sebagai sarana untuk melakukan interaksi komunikasi sebagaimana niat awalnya. Kini jejaring sosial  telah menjadi bagian utama dari representasi produksi  ‘gaya hidup generasi jejaring sosial’.

Dengan perkembangan seperti saat ini, maka mungkin sudah waktunya program studi ilmu komunikasi di berbagai universitas di indonesia yang masih sibuk mengukuhkan teori era tahun 1930-1940 seperti Hypodermic Needle, Bullet Theory (teori peluru) transmition belt theory (teori sabuk transmisi) rasa-rasanya mesti menyesuaikan kembali kajianya.

Karena terkadang masih banyak dosen ataupun mereka yang menyebutkan dirinya sebagai pakar komunikasi, memandang komunikasi adalah sebuah proses linear yang berlangsung dalam satu atau dua arah, dari seorang komunikator menuju komunikan.

Demikian pula dalam melihat dimesi  studi kajian media yang selama ini diajarkan diberbagai kampus, saya masih menemukan sejumlah bahan kuliah yang menyampaikan bahwa  media cetak maupun elektronik sebagai sebuah kekuatan allpowerfull. Seolah-olah khalayak adalah kerbau yang bisa  ditarik hidungnya sesuka hati oleh sang penggembala ?

Bukan kiri atau kanan tapi Relativisme


Studi ilmu komunikasi dalam pandangan saya tidak bisa lagi hanya dilihat pada dua realitas yakni ‘kiri dan kanan’. Utamanya dalam melakukan kajian studi media. Menempatkan media sebagai sebuah ruang yang bersifat diterminis ala Denis Mq Quail sudah terlampau tertinggal.

Kajian ilmu komunikasi di era jejaring sosial sedang diperhadapkan pada realitas zaman yang penuh relativisme. Pada satu sisi media  mampu mengendalikan khalayak, namun pada sisi yang lainya khalayak mampu mendorong agendanya sendiri melalui serangkaian aksi tweet, status facebook, sampai gambar-gambar parodi yang sering disebut sebagai meme.

Relativisme ini terjadi karena kekuatan media tidak lagi berlangsung sentralistik sebagaimana yang di jelaskan dalam pendekatan klasik, jejaring sosial dan media sosial telah mendorong hadirnya kekuatan publik yang bisa berdiri sendiri dan bisa saja mengambil jalan berseberangan dari sikap media konvensional.

Walau tentu saja, resikonya dengan kultur kebebasan seperti yang kini berlangsung di arena jejaring sosial, telah berdampak pada berkembangnya sebuah generasi baru yang tidak tahu lagi membedakan mana  ruang publik dan mana ruang privat, karena semuanya telah menjadi satu dalam arena jejaring sosial.

Bahkan pada trend terbaru, saya sedang melihat dua penyakit sosial dari generasi jejaring sosial. Pertama, mereka yang mengidap kaum psikopat yang senang melakukan teror atas orang lain melalui serangkain prilaku bullying. Kedua, prilaku narcissistic moderen yang ingin eksis melalui jejaring sosial, dengan serangkain representasi citra diri yang jauh dari realitas asli mereka.

Namun itulah relativitas dunia jejaring sosial yang dibawa oleh Mark Zuckerberg, yang menjadi pesan bagi warga dunia  termasuk pula bagi para penggiat kajian komunikasi indonesia, bahwa zaman sudah berubah, kini kita sedang berada pada zaman baru, era generasi jejaring sosial dengan gaya dan kultur bahkan teori yang sudah harusnya berubah!


Posting Komentar

0 Komentar