“Penumpang Gerbong 30”

Kadang saya merenung, hidup itu seperti perjalanan kereta.  Ketika kita masuk dalam sebuah gerbong lalu meluncur pada rel  yang sudah diatur oleh bilangan takdir. Masing-masing kita punya stasiun tujuan. Semua penumpang punya tempat dan titik berangkat dan berhentinya masing-masing, dimana mereka akan memulai dan dimana akan berakhir.

Dalam gerbong itu, kita berjumpa dengan sejumlah orang yang menjadi kawan sejenak dengan  pemberhentian yang berbeda-beda. Setiap kereta berhenti disebuah stasiun, ada yang naik dan ada pula yang turun begitulah kisah kehidupan dunia ini. 

Kereta, penumpang, dan gerbong, juga adalah perlambang dari waktu dan hari yang kita lalui. Dari dalam gerbong, kita menatap keluar hanya sebentar untuk sedikit mengalihkan pandangan dari manusia-manusia didalam gerbong yang berdesakan dan sibuk dengan rutinitas masing-masing.

Atau jika terlalu kelelahan, maka kita punya pilihan untuk tidur, tanpa peduli orang didalam maupun diluar gerbong, lalu akhirnya kita kehilangan waktu merenung, menyimak, atau sekedar menyapa mereka yang berada sangat dekat dengan kita, padahal kita bersama didalam sebuah gerbong.


Kini dengan kereta kehidupan yang berjalan begitu cepat, saya sudah masuk menjadi bagian dari gerbong kereta 30. Sebuah lambang dari kehidupan yang mestinya mulai menjalani real yang lebih lurus, karena setiap kelokan sebuah kereta membutuhkan energi yang tak sedikit, membutuhkan gaya dan massa yang lebih besar.

Sementara tenaga dan nyali tidak lagi sekuat dahulu. Karena senja tak bisa ditolak, sementara kita tak pernah tahu dimana stasiun akhir batas kehidupan yang meminta kita pulang dan keluar dari gerbong. 

Posting Komentar

0 Komentar