“Pesan dari Timur untuk Jokowi-JK”


(Tulisan ini telah dimuat diharian Tribun Timur; sabtu, 25 Oktober 2014)

Pesta sudah usai, saatnya kerja, kerja, dan kerja!  Setelah perayaan yang riuh, kini ‘saatnya mulai bekerja’, itulah pesan inti dari Presiden Joko Widodo kepada segenap bangsa indonesia saat dirinya diambil sumpah menjadi presiden ke- 7 negara ini.

Pertanyaan sederhana yang layak  kita ajukan, kerja  akan dimulai dari mana? Apa yang menjadi fokus awal dari pekerjaan yang akan dilakukan oleh presiden dan wakil presiden baru Jokowi- JK? Kemanakah negara dengan jumlah penduduk lebih dari dua ratus juta ini akan diantarkan?

Jika berkaca pada berbagai komunikasi simbolik yang coba dilakukan oleh Jokowi –Jk, baik pasca terpilih dan saat rencana pengumuman kabinet yang batal dilakukan di Pelabuhan Tanjung Priok,  Jokowi sepertinya ingin serius memberikan pesan semuanya dimulai dari laut!

Apalagi Jokowi dalam pidato pengukuhannya sebagai presiden, mengungkapkan pesan Bung Karno, untuk membangun Indonesia jadi negara yang besar, kuat, makmur, damai, kita harus punya jiwa cakra bakti samudra, jiwa pelaut yang berani menahan empasan ombak.

 "Kita telah lama memunggungi samudra, laut, selat, dan teluk. Maka, mulai hari ini, kita kembalikan kejayaan nenek moyang sebagai pelaut pemberani. Menghadapi badai dan gelombang di atas kapal bernama Republik Indonesia, tutup pidato jokowi yang memukau" 

Pesan dari timur Untuk Jokowi  

Pada agustus 2012 silam, IDEC (indonesia development engineering consultant) bersama kementerian ekonomi pernah menyelenggarakan simposium nasional dengan menggumpulkan para guru besar dari berbagai kampus di kawasan timur indonesia.

Acara tersebut bertajuk ; ‘timur yang kaya yang merana’. Satu persoalan penting dibahas dalam simposium tersebut, menyangkut sebuah pertanyaan sederhana mengapa kita merana, padahal kita kaya ? Sejumlah Indikator potensi kekayaan ekonomi kawasan timur indonesia tak lagi bisa disangkal.

Apalagi bicara soal potensi sumber daya kelautan Indonesia timur yang mencapai 70 persen dari total potensi perikanan nasional, belum lagi sejumlah potensi lainya, namun sekali lagi mengapa timur masih identik dengan kemiskinan dan ketertinggalan ?

Catatan kekayaan alam kawasan timur ternyata tidak mampu memperbaiki kualitas hidup rakyatnya. Bahkan dari rilis BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2013, menjelaskan terjadi kesenjangan besar Produk Domestik Bruto (PDB) antara dua kawasan.

Kawasan barat indonesia menyumbangkan 81,47 % dari PDB nasional, sedangkan untuk Maluku dan Papua 2,18 %, Sulawesi 4,82 %, serta Bali dan NTT hanya sebesar 2,53 %. Bahkan parahnya,  tiga tertinggi jumlah penduduk miskin di Indonesia selama 2010 – 2014 diisi oleh Papua Barat, Papua, dan Maluku.

Dari simposium tersebut berkembang sejumlah hipotesis mengapa kita masih miskin, sementara kita punya laut dan tanah yang kaya ? Ada dua  argumentasi yang mengemuka. Argumentasi pertama, melihat persoalanya adalah infrastruktur dan transportasi yang begitu mahal dan tertinggal.

Sehingga potensi besar KTI tidak dapat terkelola dengan baik, apalagi sektor industri kurang berkembang dikawasan timur  yang diperburuk oleh  daya dukung investasi yang masih terkonsentrasi di daerah jawa dan belum menyebar merata di kawasan timur.

Hipotesis kedua, menyampaikan hal yang berbeda yakni persoalannya ada pada kemampuan sumber daya manusia kawasan timur yang tergolong masih tertinggal. Hal ini bisa dilihat dari rata-rata Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dimana kawasan seperti sumatra, jawa, dan bali selalu berada diatas rata-rata nasional dengan kisaran 72,77 sementara kawasan timur masih berkisar diangka 70,22.  

Dari dua argumentasi tersebut, saya mungkin akan lebih bersepakat pada argumentasi kedua, bahwa soalnya ada pada kualitas sumber daya manusia kawasan timur yang masih lemah. Pasalnya, kekayaan tidak akan berguna jika tidak mampu untuk diolah.

Potensi hanya akan berakhir sekedar potensi, ketika tidak ada aktor yang menggerakan. Korea selatan atau singapura sebenarnya dapat menjadi contoh bagaimana sebuah negara yang sumberdaya alamnya terbatas, karena mampu mengoptimalkan sumber daya manusiannya dengan baik kini bisa tampil menjadi bagian dari negara industri yang maju.

Jadi jika Jokowi-JK ingin serius membangun sektor maritim, saya pikir segalanya mesti dimulai dari melakukan perbaikan kualitas sumberdaya manusia yang unggul yang mampu mengubah potensi menjadi manfaat, mengubah bencana menjadi sesuatu yang bernilai guna.

Memahami spirit Para Pelaut

Dari buku Adrian B.Lapian saya menemukan banyak fakta menarik akan berbagai hal menyangkut sejarah maritim di nusantara. Walau buku ini tidak berfokus pada potret sejarah nusantara secara luas, namun lebih memilih setting kepulauan sulawesi, rasanya membaca buku yang merupakan disertasi dari Adrian sudah memberikan banyak penjelasan bagaimana kepingan keperkasaan bahari nusantara pada Abad XIX.

Setelah membaca buku tersebut tiba-tiba dua pertanyaan baru muncul dikepala saya, pertama, nusantara kita yang diceritakan oleh Adrian  masihkah ada ? Karena, rasa-rasanya generasi saya lebih mengenal batas peta daratan dibandingkan alur kehidupan archipelago?

Karena orde baru, berhasil membangun keyakinan dikepala banyak orang indonesia, bahwa kita sebagai negara agraris. Saya mungkin, lebih paham bagaimana bertani dibandingkan melaut. Lebih mengerti banyak tentang cangkul dan bedeng sawah,  dibandingkan jala, layar, dan ombak.

Jika akhirnya Jokowi dan JK benar-benar akan membangkitkan indonesia sebagai raja laut, maka sudah waktunya dimulai dengan membangkitkan semangat dan spirit pelaut-pelaut dari timur, sprit yang dalam bahasa bugis sering di ungkapkan   “Kualleangi Tallanga Natowalia"  yang sering ditafsirkan "Sekali Layar Terkembang, Pantang Biduk Surut Ke Pantai" atau  "Lebih Kupilih Tenggelam (di lautan) daripada Harus Kembali Lagi (ke pantai)".

Untuk itu, mungkin sudah waktunya kita kembali ke laut karena kita memang putra-putra pantai. Semoga mimpi Jokowi-JK mencapai cakra bakti samudra dapat terwujud, namun semuanya saya pikir mesti dimulai dari revolusi mental para putra-putra pantai dari timur, salam Jalesveva Jayamahe!

Posting Komentar

0 Komentar