“Ahok si Bengal dari Belitung”

Sumber foto :Deniel HT Kompasiana
Terus terang,  saya sering dibuat jengkel melihat gaya lelaki cina yang bernama Zhōng Wànxué  itu dilayar kaca. Apalagi jika menyaksikan aksinya saat sedang marah, seolah memang sengaja memancing perang dan keributan. Kata-kata kasar seperti ‘bajingan’, dan sejumlah umpatan lainya kerap keluar dari mulutnya tanpa beban.

Saya bisa membayangkan, bagaimana rasanya menjadi bawahanya. Pasti senantiasa berada dibawah tekanan dengan pola ‘manajemen ketakutan’sang wakil gubernur. Apalagi, kini  mantan bupati belitung timur tersebut akan duduk sebagai Gubernur Jakarta menggantikan pasanganya yang sukses menjadi presiden.

Namun, apakah Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama tidak memiliki sisi lain ? Justru setelah membaca lebih jauh siapa lelaki bengal dari belitung timur  itu, saya diajak belajar ‘melihat  banyak pesan’ dibalik gaya komunikasi ahok yang memang terkesan lugas, langsung, dan bergaya bak seorang preman.

Membaca Ahok si Bengal dari Belitung


Setiap orang memiliki karakter dasar yang berbeda-beda, semuanya dimulai dari lingkungan yang membentuknya. Demikian kesimpulan seorang psikiater dan filsuf kenamaan Sigmund Freud. Filsluf pendiri aliran psikoanalisis ini menjelaskan proses pembentukan karakter dasar manusia dibentuk oleh tiga aspek yakni sadar (conscious), prasadar (preconscious), dan tak-sadar (unconscious).

Dalam pandangan Freud, unconscious atau keadaan tak sadarlah yang paling banyak membentuk karakter dan prilaku dasar seseorang. Dalam unsconscious tersimpan ingatan masa lalu, energy psikis yang besar dan insting. Singkatnya, jika ingin mempelajari karakter seseorang lihatlah bagaimana trauma masa lalu yang membentuknya.


Melihat Ahok saat ini, mempelajari mengapa dirinya terlihat begitu sering marah kepada para pejabat birokrasi yang dipimpinya membuat saya penasaran. Ada apa dengan masa lalu Ahok ? Sampai akhirnya saya membaca sejumlah buku tentang suami Veronica Tan tersebut, melakukan penelusuran di berbagai situs yang mengantarkan saya pada sepenggal kisah :

Saat di belitung, Ahok pernah mendirikan sebuah perusahaan dan ternyata perusahaan tersebut terpaksa berhenti karena terbentur kebijakan pejabat yang senantisa meminta komisi.Basuki Tjahaja Purnama begitu kecewa, ilmu yang didapatkan dibangku kuliah ternyata tak berguna dan kalah menghadapi kekuasaan para birokrat yang terbiasa mengatur tender proyek berdasarkan setoran.

Lalu dengan frustasi, Basuki Tjahaja Purnama meminta izin pada ayahnya untuk pergi dari indonesia dan ingin membangun karir ke luar negeri. Namun sang ayah justru memiliki pandangan berbeda dengan menasehati putranya;“Orang miskin jangan lawan orang kaya, orang kaya jangan lawan pejabat.” Begitu kata ayahnya mengutip ajaran kong hu cu. Sebagus apapun orang kaya bisa menolong orang miskin, tapi yg bisa membantu mereka secara hakiki adalah pejabat melalui kebijakannya.

(sumber berbagai catatan kompasiana  dalam buku ; Ahok Untuk Indonesia april 2014)


Menurut saya inilah kunci kotak Pandora ahok yang menjelaskan berbagai persoalan tentang dirinya. Bahwa ahok pernah mengalami traumatis pada dua hal. Pertama, ahok sangat benci dengan para pejabat yang korup yang memperlakukanya dengan tidak adil.
 
Kedua, ahok tidak senang pada pengusaha yang menyogok penguasa sebagaimana dirinya yang pernah tersingkir oleh para penyogok. Pejabat yang menerima sogok dan pengusaha yang memberi sogok, itulah musuh yang diperangi oleh Ahok lewat pesan-pesan kemarahannya yang ditebar lewat layar televisi atau youtube.

Selanjutnya mengapa ahok sampai harus  menyampaikan kemarahannya tersebut kepada media secara terbuka? Inilah yang dijelaskan oleh Freud sebagai  Fase Phalic, dimana pada bagian tertentu bahwa anak laki-laki melihat ayahnya sebagai sebuah saingan.

Nah, menurut hemat saya dalam alam bawah sadarnya Ahok sebenarnya ingin melakukan pemberontakan atas ayahnya yang dipandang cenderung terlalu humanis dan pasrah, pemberontakan itupun dapat dicapainya setelah dirinya berkuasa.

Ahok dalam ingin menegaskan kepada sang ayah, bahwa seorang penguasa bisa membasmi pejabat lainya yang korup, menghancurkan  para orang kaya yang senang menyogok,mampu memberikan kesempatan bagi orang miskin untuk mengkritik dan melawan para pejabat.

Ahok Pecahkan Batunya


Sumber Ilustrasi ; Harian Aceh.com

Rhenald Kasali pernah menuliskan kegelisahanya dalam kolom Koran sindo yang berjudul ; Ahok, jangan pecahkan batu! Pakar manajemen tersebut menyarankan seperti ini (Koran sindo November; 2014): 

Saya ingin mengajak Ahok berpikir lebih strategis karena saya yakin Ahok mewakili kegemasan kita semua.Tapi kita perlu mengingatkan Ahok, cara yang ditempuh bisa rawan bagi organisasi. Sudah sering kita saksikan perubahan yang dilakukan dengan cara membelah batu berujung pada kesulitan demi kesulitan,bahkan sangat dialektis.


Apa yang diungkapkan rhenald sebenarnya juga mewakili kegemasan banyak orang atas Ahok saat ini.Pada satu sisi, banyak yang berharap Ahok mampu melakukan perubahan,tetapi pada sisi yang lain, banyak yang begitu games dengan gaya ahok yang 'terkesan kasar' dalam memaksa perubahan yang dalam bahasa Rhenald dengan ‘memecahkan batu.

Namun saya punya pendapat berbeda, apakah mungkinkah berbagai persoalan kritis yang kini terjadi di Jakarta, bisa selesai hanya dengan diskusi  dan sekedar berbagi motivasi ?Kita membutuhkan orang-orang bengal seperti ahok yang berani memecahkan batu-batu yang terlalu lama menghalangi jalan-jalan Jakarta.

Mereka yang selama ini berkuasa tidak resmi dengan berbagai dalih,bersurban namun bertindak seperti preman.Tersenyum lembut ibarat malaikat yang ternyata sekelompok mafia,motivator yang berjualan fantasi dan khayalan dengan janji investasi dunia bahkan tanah kavling surga. Untuk mengelola ibu kota yang kini sedang sakit mungkin kita memang membutuhkan pria bengal dan ‘sedikit sakit’ seperti ahok. 

Ayo Pecahkan batunya, Ahok!

Posting Komentar

0 Komentar