“Mahasiswa Makassar; Buku, Pesta dan Cinta”



Sumber Foto : www.identitasonline.net
Hampir lima tahun saya di ibu kota, bergulat dengan kehidupan kampus dari kampus negeri sampai kampus swasta. Menjelajahi sejumlah kampus ternama, dari bandung sampai jakarta. Namun rasanya, kerinduan untuk kembali ke makassar tidaklah pernah bisa tergantikan.

Karena kampus di makassar, masih menyisakan ruang bagi kehidupan romantisme ala; 'buku, pesta, dan cinta'. Setiap satu bulan sekali ketika pulang ke makassar, diam-diam pasti saya menyempatkan diri ke kampus untuk mengobati rindu.

Walau sekedar duduk dikantin kaki lima yang biasa kami sebut sebagai 'mace pasar', sambil menyeruput kopi sachet yang rasanya campur-campur. Dari sanalah saya meneropong kehidupan kampus, menyaksikan bagaimana denyut  potret kehidupan mahasiswa-mahasiswi Makassar dari tahun ke tahun.

Pasti ada yang berubah seiring dengan zaman, seperti juga ketika saya kekampus semakin  lama semakin sedikit yang saya kenali. Namun tiga hal tadi rasanya masih tetap ada dan bertahan dalam gerak kehidupan mahasiswa dan mahasiswi Makassar; 'buku, pesta, dan cinta'!

Buku, Pesta, dan Cinta ala Mahasiswa Makassar

Setiap masuk kampus, diantara sekian puluh mahasiswa saya masih bisa menjumpai beberapa orang mahasiswa yang tangannya memegang buku. Walau buku tersebut hanya beberapa lembar yang tuntas terbaca. Karena layaknya saya dahulu, buku bukan untuk sekedar sebagai sarana mencari pengetahuan, namun buku adalah pintu masuk untuk ‘berdiskusi  dan melatih seni berdealektika’.

sumber foto : Antaranews.com

Ketika ada  kawan mahasiswa lainya yang bertanya sedang membaca apa ? maka mahasiswa tadi dengan lancar menjelaskan seolah-olah telah menyelesaiakan seluruh bacaanya, lalu dari sanalah forum diskusi bermula. Perdebatan yang awalnya berlangsung antar dua orang, biasanya akan menjadi meluas seolah forum jejak pendapat.

Tak jarang dari diskusi kecil dua orang, berubah menjadi diskusi antar dua kubu kelompok yang saling serang, seolah ingin menerkam tapi itu biasa karena ini makassar! Mereka sedang melatih diri beradu argumentasi, bukan menyusun literature review layaknya kelompok peneliti.

Soal pesta, jangan berpikir pesta ala mahasiswa makassar seperti pestanya mahasiswa-mahasiswi ibu kota. Mahasiswa-mahasiswi makassar  jarang yang mengenal prom naight, diskotik, apalagi heng out ke kafe dan restoran yang mahal bersama alunan musik yang menghentak jantung.


Pesta mereka biasanya dilakukan di alam terbuka, bakar-bakar ikan di pinggir pantai, di iringi petikan gitar lagu-lagu perlawanan. Lalu biasanya pesta lagi-lagi akan berubah dengan diskusi tentang realitas sosial. Pesta yang bermula untuk melepas penat, akhirnya akan kembali berujung panas.

Dari‘pesta ikan bakar’ menjadi rapat demonstrasi. Begitulah cara mahasiswa-mahasiswi Makassar mengisi waktu luang. Karena, ketika matahari terbit maka jalanan harus kembali ramai oleh pesta yang sebenarnya, pesta merayakan kemerdekaan berpikir, menumpahkan hasil konsolidasi dari perjamuan ikan bakar segar.

Mahasiswa-mahasiswi di Makassar, memang terbiasa menumpahkan pikiran dijalanan. Ada satu ungkapan senior saya  yang selalu saya ingat ketika masih kuliah; ‘belum sah menjadi mahasiswa kalau tak pernah ikut demonstrasi’!Dari demonstrasi mahasiswa-mahasiwi di Makassar berlatih menguji nyali ketika berhadapan dengan aparat kepolisian atau tentara.

Para aktivisnya belajar public speking dari megaphone atau mic saat berorasi ketika demonstrasi. Itulah cara mahasiswa-mahasiswi makassar melatih diri dalam melakukan komunikasi massa, bukan lewat lembaga kursus  public speking dan lembaga keperibadian yang menjamur di ibu kota.

Keperibadian mereka adalah keperibadian yang tumbuh dan besar dari didikan matahari dan sengatan panas aspal jalanan. Makanya jangan heran mereka tak mengenal table maner dan segala bentuk pelajaran etiket, didikan kaum kolonial.

Kalau soal cinta? Jangan kira kehidupan bermahasiswa yang dihiasi oleh buku dan pesta demonstrasi membuat mereka jauh dari kesan romantis. Banyak dari mahasiswa-mahasiswi Makassar terbiasa dengan sajak-sajak romantis semisal puisi sapardi djoko damono.

Biasanya, sajak ‘aku ingin mencintaimu dengan sederhana’ karya sapardi adalah puisi wajib bagi seorang mahasiswa senior. Pasalnya lewat ‘aku ingin mencintaimu dengan sederhana’ mereka mencari bunga-bunga kampus yang bermekaran dengan teknik gombal yang begitu sederhana.

Apalagi jika bulan November seperti saat ini, ketika hujan menyapa Makassar dan pohon-pohon sedang basah, aroma khas tanah sisa hujan begitu terasa.Maka baris puisi  ini akan banyak ditemui, aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”!


Mahasiswa yang dekat dengan realitas

Saya tak percaya jika warga sekitar kampus akan menyerang para mahasiswa yang melakukan demonstrasi. Sebagaimana yang kini sering diberitakan. Pasalnya di Makassar antara mahasiswa dan warga sekitar kampus ibarat ibu dan anak.

sumber foto ; http://whotalking.com/flickr/Libur ; Gambar pondokan mahasiswa
Hampir diseluruh kampus Makassar,  mahasiswa tinggal di pemukiman warga yang sering disebut sebagai ‘pondokan mahasiswa’. Proses simbiosis mutualisme antara mahasiswa dan warga sangat dekat. Dimana warga menyediakan kamar kontrakan, berjualan makanan, sampai laundry.


Sementara mahasiswa, hidup, makan, dan mencuci bersama warga. Inilah alasan utama mengapa mahasiswa-mahasiswi Makassar begitu peka dengan realitas sosial. Pondokan mahasiswa yang menyatu dengan kehidupan warga adalah cara mahasiswa-mahasiswi Makassar, untuk  tetap akrab dengan realitas sosial yang terjadi.

Segala keresahan sosial warga  dapat mereka rasakan dan kemudian refleksikan dalam bentuk gerakan. Karena mereka bukanlah mahasiswa yang besar di gedung-gedung tinggi apartemen mewah yang membuat mahasiswa-mahasiswi ibu kota yang semakin individualistik dan tidak paham akan realitas sosial.

sumber foto :http://www.adlienerz.com/2010_01_01_archive.html gambar

Mahasiswa dan mahasiswi Makassar mengerti betul arti kemiskinan dan kesulitan, bukan seperti para anak mami yang tak pernah belajar akan realitas kesulitan hidup mayoritas rakyat negeri ini. Karena di makassar ruang bagi ; buku, pesta, dan cinta memang masih ada. Begitulah cara mereka mencintai negeri ini sebagaimana puisi sapardi, ‘mencintai dengan sederhana’. Dengan buku, pesta jalanan dan cinta!

Posting Komentar

0 Komentar