Terima Kasih Bapak Guru Besar...


(Tulisan ini telah dimuat di opini harian tribun timur; senin 24/11/2014)

Ditengah berbagai kecaman publik di media sosial atas kasus yang menimpa Prof Dr Musakkir SH, MH yang kini jadi tenar di media sosial dengan julukan ‘guru besar narkoba’, saya justru memiliki pikiran yang berbeda. Bagi saya, beliau tetaplah ‘seorang guru’ yang telah memilih menjadi lampu alarm peringatan bagi banyak orang.

Saya tak mengenal beliau, apalagi sempat akrab dengan guru besar hukum tersebut. Demikian pula beliau pasti tidak mengenal saya, karena memang tembok fakultas memisahkan kami, apalagi beliau menjadi pembantu rektor ketika saya sudah lama meninggalkan kampus.

Namun, dari apa yang terjadi pada kasus pesta sabu dan dua mahasiswi cantik di kamar 312 hotel Grand Malibu tersebut, hendaknya bukan hanya dilihat dalam bingkai kemarahan. Jujur saja pada awalnya, setelah membaca berita tersebut saya juga sangat kecewa, apalagi sejumlah kawan saya dari kampus lain mengejek almamater saya dengan lebel “ kampus ayam sakit”.

Setelah beberapa saat, saya coba merenung, apakah bijak saya ikut pula menghakimi beliau? Bagaimana perasaan anak, istri, dan keluarga beliau? Bukankah sangsi sosial dan sangsi hukum sudah dan akan beliau terima? lantas apa pula untungnya jika kita terus membicarakan aib dirinya ?

Kemudian saya teringat pesan “Rasulullah SAW, ketika pada suatu saat beliau  naik ke atas mimbar dan menyeru dengan suara yang tinggi, "Janganlah kalian menyakiti kaum Muslim, janganlah menjelekkan mereka, janganlah mencari-cari aurat mereka.

Karena orang yang suka mencari-cari aurat saudara sesama Muslim, Allah akan mencari-cari auratnya. Dan, siapa yang dicari-cari auratnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya walaupun ia berada di tengah tempat tinggalnya." (dari Abdullah bin 'Umar).

Bukan Cobaan tapi Pelajaran

Bagi saya, peristiwa ini juga bukanlah cobaan, sebagaimana kata-kata yang berusaha dibuat bijak oleh sekelompok orang. Namun peristiwa yang menimpa sang guru besar sekali lagi adalah adalah lampu alaram bagi kita semua, bahwa status, kehormatan, dan gelar hanyalah simbolisasi dunia semata.

Sangat mudah bagi Allah untuk mengungkap aib diri kita sebenarnya. Bahwa topeng-topeng dunia begitu sering kita mainkan. Dalam waktu sekejab berbagai usaha dan kerja keras untuk menutupinya, terlalu mudah bagi Allah untuk menyibak diri kita yang sebenarnya. Lalu menghempaskan kita pada drajat yang se rendah-rendahnya.

Maka hendaknya kita semua, utamanya mereka yang hidup dalam dunia kampus yang memiliki gelar sebagai kaum terpelajar, pendidik, untuk kembali menarik banyak pelajaran besar dari peristiwa sang guru besar. Sudah waktunya kita mengedepankan kejujuran yakni  sesuainya ‘kata dan perbuatan’.

Bagaimana mungkin kita berbicara dihadapan para mahasiswa dan mahasiswi tentang moralitas dan prinsip-prinsip kebenaran, namun pada saat yang sama kita adalah pelaku amoral, nurani yang suka berbohong dan jauh dari prinsip-prinsip kejujuran?

Beliau, Prof Dr Musakkir melalui kejadian yang menimpanya sebenarnya sedang memberikan kuliah ‘hukum kehidupan’ bagi kita semua, bahwa kebenaran pada saatnya akan terungkap, bahwa ‘topeng-topeng moralitas dan gelar tidaklah mampu menutupi diri kita yang sebenarnya.

Maka hendaknya, para guru-guru besar lainya yang masih berselimut topeng-topeng kebohongan dan keponggahan sebaiknya segera melepaskannya. Bahwa status yang kini dimiliki bukanlah sebuah hal yang mesti dibanggakan namun harusnya menjadi sarana untuk ‘menjaga kehormatan’.

Terima Kasih Bapak Guru Besar

Setelah merenung sekian hari, akhirnya saya justru ingin mengucapkan terima kasih kepada guru besar Fakultas hukum Unhas Prof Dr Musakkir SH, MH atas kuliah kehidupan yang beliau berikan saat ini. Terima kasih telah mengigatkan saya dan mungkin bagi banyak orang lain bahwa pendidikan yang tinggi memiliki konsekuensi bagi upaya menjaga kehormatan yang sama tingginya.

Dengan kemajuan teknologi informasi seperti saat ini, setiap prilaku kita akan mudah tersebar dan menjadi perbincanggan banyak orang. Maka menghindari berbagai tempat-tempat yang menjerumuskan kita pada tindakan yang tidak terpuji adalah sebuah hal yang menjadi kemestian.

Melalui momentum kuliah kehidupan Prof Dr Musakkir ini pula,  sudah menjadi keharusan bagi pimpinan  Universitas untuk dapat melakukan perbaikan dan revolusi mental kepada para dosennya. Jika selama ini, mereka senantiasa berkhotbah ‘moralitas’ untuk mahasiswa maka sudah waktunya para dosen yang terhormat mulai bercermin diri.

Universitas Hasanuddin sebagai kawah Candara dimuka bagi jagad intelektual kawasan timur indonesia, harus segera mengembalikan kehormatannya dengan tindakan bukan sekedar berpidato. Apalagi kini unhas dipimpin oleh seorang ibu rektor yang juga seorang sosiolog.

Saya yakin ibu rektor mahfum betul, bagaimana cara mengembalikan kepercayaan dalam sebuah masyarakat rasional. Tentu saja dengan memberikan bukti yang logis, misalnya saja sangat baik jika ibu rektor yang terhormat melakukan tes urine bagi seluruh dosen untuk membuktikan kepada para mahasiswa dan publik bahwa apa meninpa seorang dosen mereka adalah hal yang bersifat kasuistik, bukan hal yang bisa digeneralisir bahwa banyak dosen adalah pengguna narkoba.

Ibu rektor harus membuktikan hal ini secara terbuka, agar kepercayaan tersebut dapat kembali dengan mengajak lembaga seperti BNN untuk masuk kampus dan mulai melakukan pemeriksaan kepada para dosen lainya, para pegawai akademik, serta mahasiswa.

Karena jika tidak dan sekedar menjatuhkan sangsi bagi mereka yang sudah tertangkap, rasanya publik akan tetap curiga bukan hanya Prof Dr Musakkir dan kawan-kawan kamar 312 yang terlibat bisa jadi ada banyak dosen lain yang mungkin berprilaku sama.

Maka tantangan ini sepertinya tantangan yang masuk akal buat ibu rektor Unhas untuk membangun kembali kepercayaan para orang tua yang mulai gelisah, jangan sampai pepatah lama benar adanya guru kencing berdiri, murid kencing berlari.


Mungkin unhas mesti melakukan revolusi ini segera, revolusi yang dimulai dari momentum lampu alaram Prof Dr Musakkir, terima kasih pak guru besar!

Posting Komentar

0 Komentar