5 Tahun IDEC, Show Must Go On...

Buku yang Menjadi Inspirasi IDEC
Kata orang kehidupan senantiasa berhubungan dengan angka lima. Lihat saja masing-masing jari tangan dan kaki, baik kiri dan kanan semuanya ada lima. Dasar negara kita pancasila juga lima, rukun islam juga lima, bahkan sebuah pernikahan yang akan abadi kata kawan saya setelah melewati lima tahun.

Tahun depan, lembaga kami IDEC (Indonesia Development Engineering Consultant) tak terasa menuju usia lima tahun. lembaga yang lima tahun lalu hadir tanpa rencana. Saya masih ingat betul dari mana ide membuat lembaga itu datang, ketika itu sahabat saya Andi Madukelleng (akel) datang membawa sebuah buku yang berisi kumpulan ide-ide segar anak-anak muda jogja.

Satu pertanyaan saya ketika dia datang, ‘ini maksudnya apa’ ? sementara ketika itu saya sendiri belum berpikir apa-apa soal membuat lembaga, apalagi jasa konsultan. Sahabat saya, akel hanya berkata, saya yakin kamu pasti punya ide setelah membaca buku itu. 

Benar saja, setelah dua hari saya menghubunginya, ‘broo saya punya ide’!

*****
Tuhan selalu punya jalan, saat ide itu masih terlalu abstrak, sahabat saya yang lain Syah Ali Ahmad (rega) yang baru pulang berkeliling eropa, bersama guru tempat kami belajar yang idenya tak pernah habis seseorang yang kini menjadi walikota Makassar, pak Danny Pomanto.

Syah ali atau rega, menceritakan kepada saya bagaimana perjalanannya besama pak dani dalam mengikuti pertemuan global change , dari Prancis sampai Jerman rega bercerita bagaimana negara-negara itu bisa berkembang melalui pengembangan budaya riset.

Saat sebelum menjadi Walikota, Belajar dengan Pak Dani adalah hal menyenangkan

Lalu diskusi bertiga dimulai, saya, akel dan rega lantas bersepakat kami ingin membuat lembaga riset. Lantas bagaimana membuat sebuah lembaga riset, namanya apa ? apakah kita sanggup ? Pertanyaan demi pertanyaan datang silih berganti.

*****
Belum juga lembaga ini rampung secara ide, kakak saya, Gunawan M. Arsyad dari palu datang dan bercerita tentang agenda kota palu yang akan menggelar PILKADA kota palu. Bukankah kamu bisa survei dek ?

Ya, pengalaman menjadi surveyor lapangan dan menjadi penangung jawab utama bagi enumerator survey sebuah lembaga nasional membuat saya percaya diri.
lantas dengan enteng, saya meyakinkan kakak saya. Insya Allah bisa, apalagi modal ketika kuliah baik saat S1 maupun S2, dengan nilai statistik lumayan baik membuat saya sedikit percaya diri hehehe.

Akhirnya kami ke palu, untuk menggelar uji coba ide dan ilmu yang sama sekali belum matang. Survey pertama dimulai, namun karena lembaga kami belum punya nama, maka secara serampangan lembaga orang lain kami pinjam, kalau tidak salah namannya LIMADIK.

Pelatihan bagi tenaga survei  dimulai dari jazz hotel kota palu. Bermodal nekat dan sedikit kepercayaan diri yang kelebihan dosisnya, saya bersama rega mulai memandu uji coba ilmu tersebut. Setelah survei awal, kami pulang ke Makassar dengan kepercayaan diri yang mulai semakin bertambah, ternyata kami bisa!

*****
Diskusi yang belum selesai, untuk melahirkan sebuah lembaga riset belum juga berakhir, bagaimana cara membuat lembaga yang berbadan hukum? Kalaupun akan membuat lembaga riset, kita akan fokus dimana ? Apa nama lembaga itu ?

Kami masih sibuk mencari identitas, lantas kak gun datang kembali ke Makassar, beliau meyakinkan ayolah adik-adik kalian pasti bisa membuat lembaga jangan takut, show must go on …
Jangan terlalu lama berpikir, buat saja dan saya akan kenalkan kalian pada guru saya namanya Zen Ibrahim Bajamal.

Dua orang yang berperan besar bagi IDEC  Bang Zen kemeja Merah & Walikota Palu (k cudi) beserta Istri 
Benar saja, setelah berdiskusi dengan bang Zen, kami mendapatkan pencerahan. Kala itu pikiran kami yang masih tertutupi tembok kampus menjadi sedikit terbuka. Beliau seperti juga pak dani adalah seorang pemimpi dengan ide-ide segar dan besar.

Setelah sekian lama berdiskusi, dengan lugu saya dan rega bertanya, bagaimana mendirikan sebuah lembaga berbadan hukum ? Bang zen tertawa, kalian benar-benar masih anak-anak kampus! Ternyata bang zen bukan hanya mengompori, beliau bahkan memberikan pinjaman Rp.500.000 kepada kami untuk membuat akte notaris sekaligus menghubungkan notaris yang juga kawannya.


Semuanya terlalu cepat, kala itu. Belum lagi selesai dengan urusan lembaga, walikota palu datang menemui kami di Makassar, bapak Rusdy Mastura atau biasa kami sebut k cudi dengan bersemangat menularkan spiritnya, ‘ayo kita bertarung buktikan kalian bisa’!

Rasanya, saya, rega tak punya jeda untuk berpikir panjang. Saat akte notaris lembaga baru saja ingin dibuat kami sudah harus memulai. Maka bertempat di liga film mahasiswa unhas, yang dahulu adalah tempat kami belajar film dan menularkan ide-ide gila, saya mengajak teman-teman kembali berkumpul kala itu saya, syah ali ahmad, andi madukelleng, bersama dua sahabat lainnya dr. Ilang dan juandi bin lukman. Kami kembali lagi berdiskusi, namun setelah beberapa jam belum juga menemukan nama apa-apa.

Lantas, datanglah ketua liga film ketika itu, adik kami maman ashari atau biasa disebut coke memecah kebuntuan. Dengan enteng dia menunjukan Koran kepada saya, seputar pemilihan bupati bone.

Lalu coke memberi ide, ‘kak bagaimana kalau idisi’ (kita lagi)!
Seperti inspirasi baru, saya kemudian sadar bahwa kami bisa punya nama bagus IDE! Bagaimana kalau IDE, tanya saya kepada yang lain ?
Rega segera namambahkan, ‘bagaimana kalau IDE Consultan’?
Atau disebut IDEC!
‘Masak kita namanya hanya IDEC’ , kurang keren kata saya.
Entah jin dari mana rega langsung memeberi nama, Indonesia Development Engineering Consultant, kita bisa melakukan rekayasa sosial bagi kemajuan indonesia, kata rega bersemangat.

Singkat kata akhirnya hari itu, kami punya nama dan seluruh peserta rapat akhirnya sepakat dengan nama IDEC.

*****
Setelah nama ditemukan, masalah selanjutnya adalah mengisi posisi masing-masing, maka kelima peserta rapat kemudian bersepakat bagaimana kalau k gun akhirnya menjadi direktur IDEC, dan membawa usulan itu kepada bang zen sebagai orang yang memberikan jalan bahwa kami bisa mewujudkan mimpi-mimpi yang dimiliki.

Laporan Akhir Pasca Kemenangan Gubernur Sulteng Longki Djanggola (Tengah)
Saya ditunjuk menjadi direktur riset, syah ali ahmad sebagai sekertaris lembaga, dr ilang menjadi bendahara, lalu akel direktur sumber daya manusia serta juan sebagai devisi program. Singkatnya, mulai hari itu di awal januari 2010 kami sudah punya nama lembaga, IDEC!

2010-2012 Aksi di Tahun Awal

Akhirnya IDEC resmi berdiri secara hukum dan kami mulai menata langkah, serangkaian survei politik kota palu dilaksanakan, lalu berlanjut pada pemilihan gubernur sulawesi tengah tahun 2011. Setelah dua proses yang terbukti berhasil tersebut, maka muncul kembali ide, bahwa kami tak bisa terus larut dalam survei politik, cita-cita kami adalah menjadi lembaga riset sosial , ekonomi , dan politik dikawasan timur indonesia sekaligus menjadi sentral data bese KTI.

K Aswin saudo & K gun masing-masing menggunakan Kaos Green & Clean

Maka berkat bantuan beberapa orang, di jajaran pemerintah kota palu ketika itu IDEC dipercaya untuk mengelola sejumlah program riset dan kajian sosial, ekonomi, politik, dan lingkungan. Oleh Kepala Dinas kebersihan dan Pertamanan kota palu, yang kini menjadi pejabat Bupati Banggai Laut, bapak Hidayat Lamakarate atau sering kami panggil k dayat, kami dipercaya melakukan riset dan pendampingan program  green & clean kota palu.

K Dayat, saat masih menjadi kadis kebersihan dengan program Green & Clean
Bergelut dengan kajian lingkungan dan gerakan sosial, tanpa biaya pemerintah akhirnya program ini berbuah manis dengan kota palu mendapatkan sertifikat adipura . Tak hanya itu, pihak Badan Perencanaan dan pembangunan kota palu juga mendorong IDEC melakukan kajian bagi pengembangan kawasan pesisir, seseorang yang sangat berjasa pula bagi kami yakni pak darma gunawan, atau sering juga kami sebut k gun, akhirnya sejumlah riset sosial dan ekonomi kawasan pesisir kota palu dilaksanakan. Puncaknya IDEC akhirnya mewujudkan mimpi yang dititipkan oleh bang zen, east Indonesian Week (EIW) sebagai sarana mendorong investasi bagi kawasan timur indoenesia.

Catatan Dokumentasi bersama para Guru yang mendukung EIW


EIW adalah forum nasional untuk mempertemukan para pihak penting bagi kemajuan kawasan timur, kelompok akademisi, pengusaha, NGO serta pemerintah agar ‘timur yang kaya, tapi merana bisa berubah menjadi timur yang kaya, yang sejahtera’ dengan mekanisme kolaborasi bersama.

Hasilnya menko prekonomian ketika itu Hattarajasa berkenan hadir, dan lewat acara tersebut tim pemerintah kota palu yang dipimpin oleh wakil walikota palu mendorong hadirnya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) kota palu.










Ketika itu, jasa dan peran seorang lelaki tangguh kader IDEC, Edi Djunaedi tak bisa disepelekan beliau bekerja keras untuk mewujudkan mimpi tersebut sampai menjadi nyata. Seseorang yang juga berperan besar dalam merangkai dan memfasilitasi kegiatan tersebut dan hampir seluruh kegiatan kami, adalah guru kami, ayah ideologis kami yang kami hormati beliau adalah Abang Bulganon Amir yang turun langsung memberikan bantuanya tanpa ragu-ragu sampai saat ini.

IDEC Team EIW ; dari kanan Edi, Chirol, Aci, Cokke, Yusuf


2012-2014

Setelah event nasional EIW 2012, patut diakui IDEC seolah kehabisan energi. Kelelahan mengerjakan berbagai program riset dan kapasitas daya tahan segenap Tim tanpa dukungan budget yang kuat membuat kami mesti sedikit menurunkan tensi. Maka, solusinya adalah berpencar. Masing-masing kami harus mencari jalan untuk bertahan hidup dan mulai menata diri.
Menko Hattarajasa saat Hadir pada Acara EIW

Saya beserta rega, akel dan Asri Abdullah kemudian berpikir untuk mencari tempat kembali ke Makassar kebetulah pada saat itu di akhir tahun 2012 dan memasuki tahun 2013 sejumlah pilkada digelar disulawesi selatan yakni takalar dan Makassar. Hasilnya, setelah pertemuan rutin, kami bersepakat membuat sekolah riset sebagai sarana rekrutmen jaringan peneliti IDEC.

Akhirnya, IDEC kemudian menemukan formulasinya sendiri selain sekolah riset yang sudah tiga angkatan, IDEC kemudian menggagas hadirnya sekolah politik rutin bagi diskusi politik dan sosial. Dengan sedikit nekat kami kemudian membentuk yayasan timur indonesia sebagai cikal bakal selanjutnya bagi kampus yang ingin kami dirikan yang entah kapan terwujut.













Mendorong hadirnya situs portal berita wartatimur.com dan sejumlah riset-riset lainya di dua kota yakni Makassar dan palu, lalu kini di banggai laut. Dalam berbagai perjalanan tersebut, patut kami akui kami selalu saja mendapatkan dukungan moril dan semangat dari kakak kami yang lain, sosok yang senantiasa mengajarkan kesabaran dan semangat tak boleh berhenti yakni kakanda Aswin saudo.

Belajar bersama para Guru besar dari Kiri Asri Abdullah, Prof Ilmar, Prof Dedy, Prof. Ananto


Menuju usia lima tahun, era transformasi


Tak terasa bilangan waktu telah berjalan begitu jauh, lembaga ini menuju usia lima tahun. Tentu sudah banyak yang kami lakukan namun banyak pula yang terbengkalai. Banyak yang datang dan banyak yang pergi, sebuah konsekuensi yang saya, k gun, rega dan akel sadari sebagai sebuah hal yang pasti terjadi.

Alumni Sekolah Riset 

Banyak yang bahagia dan banyak pula yang kecewa selama berada dijalan IDEC, bagi saya itu hal biasa. Namun, diakhir tahun 2014 ini saya dilanda gairah yang besar dan kesadaran besar bahwa pertujukan harus dilanjutkan. Bahwa lembaga kami tidak boleh berhenti, kami sudah memulai dan tak akan berakhir.

Mereka yang merayakan IDEC menuju Lima Tahun duduk di meja depan dari kiri DR. Hasanuddin Aco, biru Ketum Qumindo & Walikota Palu 

Lima tahun ditengah berbagai krisis yang terjadi, harusnya menjadi momentum kebangkitan bagi IDEC, momentum IDEC menuju era baru dimana mungkin sudah waktunya IDEC menjadi sebuah perusahaan professional, konsultan riset yang mampu menampung para peneliti-peneliti terbaik, membantu berbagai daerah untuk memecahkan masalah dengan melakukan riset yang serius, mendorong sejumlah perusahaan nasional untuk tumbuh dan berkembang dengan serangkaian riset pasar yang mendukung.

Alumni Sekolah Riset IDEC & Para Sahabat

Maka tahun 2015, adalah tahun bagi IDEC menuju era professional menjadi konsultan professional, apalagi dalam menyambut Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). IDEC mesti bisa bersaing mencapai itu semua, menjadi perusahaan jasa riset dan konsultan yang terdepan secara nasional, bahkan ASEAN, karena sudah terlalu banyak air mata yang tumpah, sudah terlalu banyak sedih yang datang, tawa bahagia dan senyum getir kecewa, semakin meyakinkan bahwa show must go on!

Posting Komentar

0 Komentar