70 Tahun Indonesia dan Ramalan Terbagi Dua




Sepanjang tahun 2014, kita menyaksikan wajah indonesia terbagi dua. Dua poros koalisi besar, dua calon presiden, dua kekuatan yang saling bersitegang yakni DPR dan Eksekutif,  dua televisi berita berbeda cerita, sampai dilantiknya presiden nomor dua yang berjanji tak akan menaikan BBM, namun justru akhirnya menaikan dua ribu rupiah.

Partai-partai politik juga terbagi dua, bahkan kini parahnya di ibu kota negara gubernurnya menjadi dua. Haruskah fenomena mendua ini mesti disikapi dengan serius?  Ataukah hal ini hanyalah kita pandang sebagai dagelan yang berkembang dari perseteruan dua kekuatan elit-elit politik yang seakan tak juga hendak bersatu ?

Dalam sebuah diskusi, seorang sahabat saya bertanya apakah ini pertanda indonesia akan terbagi dua ? Saya kemudian teringat sebuah ramalan yang dikemukakan oleh Djuyoto Suntani pada tahun 2007 tentang fenomena 7 abad indonesia yang berarti akan terjadi pada tahun 2015.

Dalam ramalannya, Suntani mengambil contoh Kerajaan Sriwijaya yang berkuasa pada abad 6-7 M di mana waktu itu rakyat di kawasan Nusantara bersatu di bawah kepemimpinannya. Memasuki usia ke-70 tahun kerajaan itu mulai buyar dan muncul banyak kerajaan kecil yang mandiri berdaulat. Alhasil, di awal abad ke-9 nama Kerajaan Sriwijaya hanya tinggal sejarah.

Tujuh abad kemudian (abad 13-14 M) lahir Kerajaan Majapahit di Trowulan, Jawa Timur sekarang. Kerajaan besar itu berhasil menyatukan kembali penduduk Nusantara. Namun, kerajaan ini pun bernasib sama dengan Sriwijaya. Memasuki usia ke-70 pengaruhnya mulai hilang dan bermunculanlah kerajaan-kerajaan kecil di Nusantara. Nama Majapahit pun hilang ditelan bumi. Tujuh abad pasca-jatuhnya Majapahit, di tahun 1945 (abad 20) rakyat Nusantara kembali bersatu dalam suatu ikatan negara bangsa bernama Republik Indonesia (abad 20-21). Tahun 2015 akan bertepatan RI merayakan HUT-nya yang ke-70″.

Indonesia yang terbagi dua

Apakah indonesia akan terbagi dua ? dalam analisis suntani indonesia bukan hanya akan terbagi dua, justru negara ini akan terbagi menjadi 17 negara-negara kecil. Lantas mestikah kita percaya pada ramalan ini ? Bisa ya, bisa tidak. Tergantung pada prespektif apa yang kita pakai.

Jika menggunakan prespektif politik “elite theorist” seperti Gaetano Mosca, Vilfredo Pareto, Guido Dorso, Robert Putnam, dan lainnya maka kita akan menemukan kebenaran analisis suntani tersebut. Pasalnya, dalam sudut pandang elit theorist memandang kekuasaan sebagai modal elitis yang dimiliki oleh sekelompok kecil orang atas mayoritas.

Jadi jika minoritas yang disebut sebagai elit terlibat konflik, maka bisa dipastikan mayoritas pengikutnya (massa) akan pula terlibat dalam pusaran konflik, itu artinya jika KMP dan KIH tidak juga berdamai maka indonesia bisa saja akan benar-benar terbagi dua karena  polarisasi elit telah terbelah dua.

Namun, jika menggunakan prespektif kritis, dimana antara elit dan massa adalah dua bidang yang terpisah dimana elit belum tentu dapat menguasai secara mayoritas pikiran dan hati mayoritas rakyat, maka ramalan suntani bisa jadi akan salah. Apalagi jika melihat fenomena politik indonesia, dimana pengaruh elit politik atas publik tidaklah begitu kuat, bahkan cenderung diwarnai tawar-menawar antara elit dan massa.

Buktinya, hampir semua partai politik, calon kepala daerah dari kepala desa, bupati, gubernur sampai presiden mengeluhkan besarnya tawar-menawar antara mereka dengan pemilih, bahwa pemilih saat ini tidak lagi terlalu terpengaruh pada ideologi partai atau ideologi tokoh.

Mereka memilih lebih dikarenakan, apa yang menjadi tawaran partai atau para politisi itu sendiri baik dalam bentuk program ataupun money. Jadi apakah indonesia akan terbagi dua ? jawabanya tergantung situasi yang akan terjadi beberapa bulan kedepan, mana yang lebih kuat apakah polarisasi elit ataukah polarisasi publik sendiri.

Singkatnya semua tergantung pada rakyat dan elit politik negeri ini, apakah masih percaya bahwa NKRI adalah harga mati, atau NKRI hanyalah kontrak politik semata.

Jalan Ketiga dan Poros Ketiga

Jika konflik antara dua poros elit politik tak juga berakhir dan polarisasi ini terus berjalan maka korbanya sekali lagi adalah rakyat banyak. Apalagi jika posisi masing-masing masing-masing poros koalisi masih sama kuat, maka negosiasi yang akan terbangun semakin ketat.
Karena pemerintah tak mungkin bisa menjalankan programnya jika DPR tak mendukung,  demikian pula sebaliknya, tak akan mungkin pula DPR memaksakan kehendaknya jika eksekutif tak mau melaksanakan. Untuk itu hanya ada tiga  jalan untuk memecah kebuntuan ini.

Pertama, melakukan negosiasi pembagian sumber daya kekuasaan dari masing-masing kekuatan politik. Baik KIH yang menguasai eksekutif ataupun KMP yang mengguasai legislatif. Masing-masing pihak harus rela memberikan peran dan sumber daya kepada pihak lainya.

Namun nampaknya opsi pertama ini sulit terjadi,  jika melihat kondisi yang ada dimana mayoritas kabinet pemerintahan Joko Widodo di eksekutif tidak memberikan peran bagi pihak KMP, demikian pula mayoritas komisi di DPR di kuasai oleh pihak KMP dan tidak ingin berbagi dengan koalisi KIH.

Kedua, jika  kedua poros koalisi masih sama kuatnya maka yang dilakukan adalah memecah ke dalam dari masing-masing kekuatan. Nampaknya inilah yang terjadi kini, ketika partai-partai mulai terbagi menjadi dua, antara kubu yang mendukung pemerintah dan kubu yang memilih berada diluar pemerintahan.

Fenonema ini terjadi pada partai Golkar maupun PPP, dimana nampak jelas ketika kedua poros antara KMP dan KIH berusaha tetap mempertahankan dominasinya di kedua partai dengan starategi politik pecah belah. Jalan ketiga, adalah membentuk poros baru yang mampu menjadi pemecah dari dua kekuatan sehingga polarisasi melemah.

Pertanyaanya kelompok manakah yang akan menjadi inisiator poros ketiga, apakah akan ada parpol yang melakukan inisiasi ini ? ataukah poros ketiga adalah militer ? bagaimana dengan poros ketiga yang dibangun oleh kekuatan sipil ? selama niatnya tetap satu bangsa, satu negara, dan bukan untuk memecah indonesia menjadi dua atau 17 negara kecil mari kita dukung!








Posting Komentar

0 Komentar