“Golkar dan Desakan Generasi Baru”

Tulisan ini sudah di muat pada harian fajar (1 Desember 2014)



Jika ada partai politik yang paling mapan dan mampu bertahan dalam pusaran utama politik nasional, maka golkarlah partainya. Sejak mengikuti pemilu pertama dimasa orde baru pada tahun 1971 sampai pemilu 2014, golkar selalu berada pada posisi papan atas.

Ketika rezim orde baru runtuh sekalipun, soeharto sebagai akar utama penopang partai beringin tercabut kekuasaannya dari tanah indonesia, beringin tetap kokoh menjadi kekuatan politik utama nasional. Bahkan, 5 tahun kemudian setelah golkar didesak ingin dikuburkan pada tahun 1998 bersama kekuasaan orde baru, justru secara mengejutkan partai beringin tampil kembali menjadi pemenang pemilu pada tahun 2004.

Sebagai sebuah partai politik, golkar adalah sebuah kekuatan politik yang sudah melewati berbagai zaman. Mengalami berbagai dinamika internal maupun eksternal, dan senantiasa mampu menemukan jalan untuk keluar dari berbagai krisis.

Kini, setelah lebih dari 50 tahun mewarnai panggung politik nasional , golkar kembali diperhadapkan pada situasi yang kurang menguntungkan. Konflik internal dalam tubuh golkar yang biasa berlangsung tenang dan cenderung tak tampak ke permukaan, kini terlihat begitu heboh dan bombastis. Ada apa dengan Golkar ?

Zaman sudah Berubah

Zaman sudah berubah, namun Golkar rasanya belum berubah. Jika ditanyakan partai mana yang politisinya terlihat sudah begitu tua dilayar kaca, dengan mudah kita bisa menyebutkan maka pasti politisi golkar. Bukan hanya ditingkatkan pusat, fenomena dominasi generasi tua bahkan begitu terasa pada level daerah baik DPD I sampai pada tingkatan DPD II.

Bahkan di salah propinsi di kepulauan sulawesi, seorang ketua golkar provinsi usianya sudah hampir mencapai 80 tahun. Sebuah kondisi yang tentu saja sangat tidak ideal dalam membaca konteks perubahan zaman. Karena itulah, maka tak heran disejumlah daerah yang dahulu menjadi basis golkar kini perlahan tapi pasti pengaruh golkar meredup.

Padahal kini, prilaku pemilih sudah sangat berubah dari masa 20 atau 30 tahun yang lalu. Kecepatan teknologi informasi, pengaruh jejaring sosial,  dan model pendekatan kepada pemilih mengharuskan partai politik untuk dapat melakukan perubahan dan reformasi aktor dan struktur politik.

Kedua hal tersebut, reformasi aktor dan struktur hanya bisa dilakukan jika partai  Golkar memang memiliki keinginan untuk membuka diri, melakukan peremajaan pada aktor-aktor politik golkar, dan tentu saja mempersiapkan struktur dan infrastruktur politik yang lebih mampu menjawab konteks zaman.

Perlu diingat, kini indonesia sedang berada pada gelombang masyarakat informasi yang tidak lagi hanya bisa dibangun dengan kemampuan figuritas politik yang mengandalkan basis  pengalaman politik. Pemilihan presiden yang lalu, membuktikan bahwa mengandalkan patron tokoh tidaklah cukup dalam dalam menarik simpati publik.

Dalam masyarakat informasi yang cenderung menggunakan strata komunikasi yang setara, world is flat pendekatan patron ketokohan tidak lagi dapat diandalkan. Maka momentum munas golkar saat ini hendaknya bukan hanya berorentasi pada perebutan posisi ketua golkar, namun harusnya dijadikan sebagai sarana melakukan reformasi total dan modernisasi politik dalam tubuh partai golkar.   

Golkar dan Desakan Generasi Baru

Terlepas dari berbagai kondisi yang kini dialami oleh partai golkar namun sekali lagi partai politik yang paling mumpuni, memiliki struktur dari pusat sampai dasa yang paling rapi, dalam  pengamatan saya selama ini hanyalah partai golkar. Namun ibarat macan tidur, kini golkar justru terlelap oleh segala fasilitas yang dimiliki.

Para elit-elit politik golkar dari pusat sampai daerah masih dihuni oleh mereka anak-anak pejabat atau mereka yang menjadi bagian dari kroni elit politik. Mereka yang menjadi penggurus partai bukan mereka yang memang memiliki kapasitas, namun mereka yang memiliki hubungan dengan jejaring kekuasaan.

Sudah menjadi rahasia umum pula, golkar juga seolah adalah tempat selanjutnya bagi para pensiunan birokrat negara. Sementara, potensi para kader-kader muda yang tidak memiliki relasi genetis dengan kekuasan dan bukan bagian dari birokrat mapan akan cenderung disepelekan.

Daftar antrian yang panjang, standar ketokohan, modalitas sosial dan kapital yang mesti dimiliki, membuat sejumlah kader-kader muda potensial partai golkar banyak yang frustasi menantikan dirinya untuk dikaryakan dalam panggung polik yang luas.

Apalagi kalaupun ada kader-kader golkar muda yang muncul, maka akan dengan mudah dikenali bahwa dirinya adalah anak dari elit politik atau pejabat birokrat. Sehingga mengharapkan Golkar sebagai sarana untuk melahirkan kader-kader kepemimpinan politik yang berorentasi pada kemampuan personal, bukan kedekatan rasanya sangat sulit dalam golkar saat ini.

Sementara zaman sudah berubah, Golkar belum berubah. Sesuatu yang sangat disayangkan dengan segala potensi besar yang dimiliki golkar sebagai sebuah partai politik yang paling mampu bertahan dengan berbagai zaman, era dan orde di indonesia !


Posting Komentar

0 Komentar