Catatan Kuliah saya: ‘Privasi dan hak untuk Tahu’


Ini adalah hari terakhir perkuliahan semester , materi kuliahnya seputar ‘media, politik, dan kebebasan warga negara’. Saya, sengaja mengajak kelas yang saya ampu untuk berbincang satu  tema sederhana, namun menurut saya sangat menarik dan penting untuk didiskusikan soal ‘privasi dan hak untuk tahu’.

Kali ini, saya membuka kelas dengan mengajukan dua pertanyaan. Pertama, pentingkah seorang tokoh politik yang kemudian menjadi pejabat publik,  hal-hal yang berhubungan dengan privasinya di beritakan ke media dan menjadi konsumsi publik? Kedua, apakah yang dimaksud ‘hak untuk tahu’dan bagaimana batasannya?

Kelas terdiam sejenak, lalu seperti biasa satu persatu mahasiswa dan mahasiswi saya yang cerdas-cerdas, wangi, lagi tampan dan cantik-cantik tersebut, mulai angkat tagan untuk mejawab.

“Menurut saya, penting pak.  Jawab seorang mahasiswi berambut panjang yang duduk pada kursi deretan pertama. “Seorang pejabat publik memiliki tangung jawab kepada publik menyangkut latar belakang mereka, keluarga mereka, atau singkatnya trade record siapa mereka.
Kedua, soal hak untuk tahu saya rasa tak perlu ada batasan, karena ketika seseorang sudah memilih menjadi pejabat publik atau tokoh politik, mereka sudah harus paham konsekuensinya, bahwa mereka adalah berita!

Saya hanya mengangguk, lalu mempersilahkan seorang lelaki dengan sweater hitam deretan kursi ketiga mulai berbicara;

“Kalau saya, berpendapat sebaliknya. Bagi saya tidak penting, karena privasi adalah hal yang berhubungan dengan pribadi seseorang dan tidak berhubungan dengan pekerjaan. Sekalipun mereka adalah tokoh politik atau pejabat, kita harus tetap memberikan penghargaan kepada hak-hak individu, misalnya saja soal anak mereka, istri atau suami dan kehidupan pribadi.

Contohnya saja, pada kasus menteri susi, bagi saya tidak penting untuk mengetahui suaminya ada berapa? anaknya gimana?atau hal-hal lain yang tidak berhubungan dengan tugasnya sebagai seorang menteri kelautan.


Media, menurut saya kadang dengan dalih kepentingan publik malah menjadikan hal-hal yang berhubungan dengan pribadi seseorang menjadi konsumsi publik, lalu akhirnya menjadikannya sebagai konsumsi politik untuk menjatuhkan seseorang. Nah, hak untuk tahu menurut saya adalah persoalan kinerja bukan soal pribadi seseorang!

Lalu, tepuk tangan menjadi riuh setelah mahasiswa dengan sweater itu selesai berbicara. Sepertinya banyak dari peserta kelas yang bersepakat dengan komentarnya. Sampai wanita dengan kacamata disudut kelas, meminta saya mengizinkannya berbicara setelah mengangkat tangan;

“Saya tidak sepakat dengan pernyataan teman saya tadi”! ungkapnya dengan nada yang tegas. Kelas yang riuh segera hening kembali. Saya melihat wajah mahasiswa sweater yang tadi penuh senyum bangga, kini berganti sedikit memerah.

Silahkan, apa yang tidak disepakati ? kali ini saya mencoba menengahi suasana yang mulai nampak memanas. 

“Soalnya seperti ini pak, seorang pemimpin ataupun pejabat adalah mereka yang harusnya menjadi contoh yang baik. Mereka adalah sosok yang harusnya ideal, karena itulah mereka dipilih menjadi pemimpin. Kalau mereka memberikan contoh yang buruk akan kehidupan pribadinya, misalnya suka mabuk-mabukan, bertato, dan kehidupan keluarga yang kacau, bagaimana mungkin mereka bisa menjadi pemimpin sementara memimpin keluarga saja mereka tidak mampu ?

Nah, disitulah kita butuh pengetahuan akan latar belakang kehidupan mereka dan disitulah kita menilai layakkah mereka menjadi pemimpin atau tidak? Kedua, soal batasan privasi bagi saya sekarang tidak ada lagi dan tidak perlu lagi, karena apa yang mesti disembunyikan selama hidup mereka baik-baik saja. Apalagi kini kita hidup di era jejaring sosial dan media sosial yang serba terbuka…

Kali ini, gadis dengan rambut panjang yang pertama kali berbicara menganggukan kepala tanda setuju pada si kacamata. Lelaki sweater kembali angkat tangan, lalu bisa diduga perdebatan panjang kembali terjadi. Pendapat kelas terbagi menjadi dua, ada yang sepakat dengan mahasiswi berkacamata dan si rambut panjang, dan banyak pula yang tetap mendukung pendapat si mahasiswa dengan sweater.

Tak terasa dua jam kuliah hampir berakhir, saya hanya tersenyum menyaksikan perdebatan mahasiswa dan mahasiswi saya itu. Sampai akhirnya mereka semua kembali menoleh kepada saya, lantas serempak bertanya jawaban bapak apa ?




Posting Komentar

0 Komentar