Entrepreneur




Saya banyak bertemu orang di kota besar yang menyebut dirinya seorang enterprenur, wirausahawan, atau cukup menyebut profesinya sebagai swasta. Setiap bertemu dengan mereka, satu ciri yang tak bisa lepas ‘semangat yang menyala-nyala’. Seolah masa depan hanyalah menjadi  miliknya sendiri.

Mereka terus berbicara tentang ide, inovasi, dan kesadaran akan perubahan. Waktu mereka dihabiskan untuk bekerja, berbagi gagasan, dan berlibur. Rata-rata jika usia mereka masih muda, segala hal dikerjakan sendiri mulai dari menyusun proposal project sampai memasarkan produknya sendiri.

Dikampung saya, di jantung sulawesi semangat ini detakannya sudah sampai juga. Di warung-warung kopi, sekumpulan anak-anak muda berbicara tentang bisnis property, dunia pertambangan, atau memulai jasa  perdagangan komoditi. Dari mata mereka, saya menemukan semangat yang sama.

Terus terang, saya bangga kawan-kawan saya dikampung halaman mulai berpikiran maju, mereka tak lagi fokus bicara tentang gossip politisi, hubungan dengan kepala dinas yang membaik atau memburuk, atau keluhan besaran rente yang diminta oleh kalangan birokrat yang mencekik para kontraktor.

Namun, rasanya ada yang kurang dari para enterprenur kampung saya itu. Rata-rata mereka belum terbiasa mengerjakan segalanya sendiri, mereka selalu butuh orang terlalu banyak, dan kadang kurang  ide kreatif untuk membuat sesuatu yang baru. Dapat diprediksikan beban membesar, sementara hasil tak mampu menampung beban, disisi lain inovasi baru terlalu cepat datang dan walhasil lagi-lagi semuanya tertinggal.

Belum lagi persoalan mental lama, ketika baru memulai usaha kebiasaan ingin segera dilayani dilihat sebagai orang sukses dan menjadi bos, telah membuat kemandirian menjadi berkurang. Tuntutan fasilitas dan gaya hidup terlalu cepat berubah, membuat enterprenur-enterprenur ini kadang lupa memisahkan mana modal mana untung.

Mungkin saya, adalah generasi baru dengan cara berpikir lama. Beristrikan seorang perempuan bugis dengan mental baja yang terbiasa mengerjakan segalanya sendiri, kami terlalu percaya pada doktrin nilai-nilai lama, keberhasilan adalah soal menjalani proses bersakit-sakit dahulu, kesuksesan adalah hidup mulia dengan rasa malu yang besar untuk berharap kepada orang lain selain kepada Tuhan.

Menjadi enterprenur dalam kesimpulan sederhana kami, bahwa kami bisa mengerjakan pekerjaan kami dengan segala keterbatasan. Naik angkot, jalan kaki, ataupun naik taksi, segalanya adalah soal bagaimana mencapai tujuan yang bersifat fungsional semata.

Kadang, bahkan saya berpikir sungguh kasihan menjadi istri saya untuk mengerjakan thesis mesti ke warnet, untuk mengajar ke kampus naik angkot  atau ojek. Tapi tak juga ada keluh dari bibirnya, hanya senyum tegar yang saya jumpai. Ketika saya bertanya, mengapa dia begitu tabah ?

Dengan santai dia menunjukan sejumlah buku biografi di lemari kami, tengok Hatta, liat Alex Ferguson atau Margaret Thatcher mereka adalah orang-orang yang memulainya dengan segala kesulitan dan mencapai keabadian, karena kemuliaan cara mencapainya.

Istri saya selalu bilang kepada saya, kami tak punya tempat untuk merengek kepada siapa-siapa. Tak punya nama yang bisa disebutkan kepada orang lain yang  bisa menjadi pintu ajaib yang bernama koneksi, sebagaimana para anak-anak pejabat dikampung saya dengan nama belakang.

Hidup adalah soal memberi makna, lantas membawanya menuju perubahan dari ide yang kita bawa menuju sesuatu yang nyata.  Dari istri saya, sebenarnya saya belajar bahwa para enterprenur adalah mereka yang berani mengambil resiko dalam hidupnya, mereka bukan anak-anak cengeng yang mengeluh karena patah jalan, mereka berjuang dengan keras dengan keyakinan penuh setelah gelap pasti ada terang, setelah tersesat pasti ada jalan baru.

Para enterprenur tak butuh sekolah bisnis yang mentereng, mereka hanya butuh kepercayaan diri untuk tabah menghadapi segalanya sendiri, menerjang persoalan berbekal Tuhan selalu ada. Memang hidup seperti ini, adalah hidup yang penuh resiko, hidup yang bisa saja begitu cepat berubah dalam sekian menit, karena seperti cuaca kita tak pernah tau apakah mendung berarti hujan atau Tuhan sedang berbaik hati menutupi kita dari matahari.

Enterpernur bukan para manager, birokrat, atau pejabat yang mencintai hidup yang tenang. Mereka adalah sosok yang mesti selalu siap sedia menghadapi perubahan, apalagi dalam zaman yang kini serba cepat, informasi baru selalu datang dan membentuk dunia selalu dalam keadaan baru.

Karena mungkin dunia lebih cepat berubah dari mimpi semalam. Karena itulah seorang enterprenur sejati adalah mereka yang terbiasa akan kemandirian, mampu adaptif dengan segala kondisi dan peluang, dan pada akhirnya tak pernah lari dari resiko sambil selalu percaya , Tuhan selalu ada!





Posting Komentar

0 Komentar