“Kita, Media, dan Sesuatu yang Melapaui Marxisme”



Tiga hari lalu, seorang kawan mengirimkan broadcast message kepada saya, ‘maaf bro  
ledakan apa tadi itu ? besarnya ’?

Saya yang bingung justru balik bertanya, ledakan ?

Maaf saya tidak mendengarnya disini, kebetulan saya masih di Jakarta bro ? jawab saya.


Kawan saya lantas menjelaskan, baru saja antara pukul 9-10 pagi, dirinya mendengar suara dentuman keras  disekitar tempat tinggalnya yang berada di jalan sultan alaudin Makassar.
Karena penasaran saya kemudian segera melakukan searching di internet, dengan memasukan kata kunci ‘ledakan di Makassar’. Saya temukan sebuah berita dari sebuah situs harian yang memang terkenal selalu update
;http://www.tribunnews.com/regional/2015/01/20/dikira-petir-ternyata-gunung-di-gowa-meledak.

Oh, gunung meletus bisik saya dalam hati.  Namun karena saat itu sedang diperjalanan menuju kampus pikiran saya segera berpindah menyangkut bahan kuliah yang akan saya ajarkan. Lagi pula pasti kawan saya yang bertanya, pasti sedang melakukan hal yang sama dengan yang saya lakukan bersama smartphonenya dan sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaanya.

Sore harinya, saat dalam perjalan pulang dari mengajar saya kembali teringat berita dari kawan saya tadi . Kalau benar gunung erupsi,  pasti akan mengeluarkan debu? Lava panas atau minimal asap ? Saya jadi teringat berbagai berita soal erupsi gunung berapi yang sering saya tonton dari televisi, karena memang pengetahuan saya seputar dunia geologi terbatas.

Lantas rasa khawatir segera muncul dalam hati saya, berbagai tanya segera berurutan di kepala. Bagaimana dengan jagon kecil saya dirumah, apakah dia baik-baik saja? Namun kalau benar ledakan gunung di gowa itu sangat parah, pastilah bunda  sudah menelpon dari tadi ? Atau mungkin karena tempat tinggal kami di sudiang, efek dari erupsi gunung di gowa tidak terasa ?

Karena penasaran kembali saya mencari informasi dan hasilnya saya menemukan halaman ini  ; http://makassar.tribunnews.com/2015/01/20/mengapa-ada-dentuman-dan-getaran-tadi-pagi-ini-penjelesan-angkatan-udara dan setelah mencari sumber pembanding dari sejumlah media lainya, hasilnya memang bukan  ledakan gunung, ledakannya bersumber dari sonic boom dari latihan militer angkatan udara. Saya tertawa sendiri lalu berbisik dalam hati, ini bukan soal geologi ternyata ini soal kerja media dan jurnalisme!

Kita dan Media Baru
  
Apa yang saya alami dari cerita diatas, mungkin sering sekali dialami oleh orang lain. Saya menyebutnya paranoid audience! Dimana dengan mudah kita menjadi cemas secara berlebihan akibat sebuah berita. Lantas mungkin banyak dari kita segera menimpakan kesalahanya pada media online tersebut, ketika kita mendapatkan informasi baru dari berita yang disajikan. Lalu dengan gampangnya kita segera menulis di status jejaring sosial ; ‘media pembohong, penyebar hoax, tidak akurat, pemburu bombastisitas, tidak verifikatif dan berbagai caci maki lainya.

Padahal sebelum kita menemukan keterangan yang pasti , kita begitu bergairah mencari apa yang sebenarnya terjadi ? Bahkan mungkin, sangat berterima kasih pada media tersebut karena informasi yang dibawanya.  Karena saat itu,  kita begitu dahaga akan informasi dalam tempo sesingkat-singkatnya dan secepat-cepatnya.

Inilah dilema besar kerja  industri  media baru. Mereka begitu mengerti bahwa audience yang mereka hadapi adalah mereka yang butuh ‘aktualitas instan’. Karena itulah ‘pasar mereka’, pasar dari audience yang selalu ingin tahu sesegera mungkin yang dalam bahasa jurnalisme online disebutkan sebagai, event on the making!

Berita adalah soal aktualitas, karena para audience yang haus segera mesti diberikan minum. Apakah minuman itu sehat atau justru racun itu soal nomor dua. Karena toh yang paling penting,  sekali lagi adalah jawaban dari hasrat ingin tahu itu sendiri!

Lagi pula, kalaupun informasi tersebut salah maka dengan mudah bisa melakukan ralat lewat berita selanjutnya. Karena tak perlu waktu lama untuk mengubahnya. Berbeda dengan Koran yang butuh waktu terbit, media baru bisa melakukan verifikasi dalam hitungan detik.

Penopang Kapitalisme

Karena itulah, bisa jadi kesalahanya tidak sepenuhnya ada pada media, namun ada pada hasrat diri kita sendiri yang mengklaim sebagai manusia-manusia moderen. Kita terbiasa menjadi manusia yang serba instan, manusia yang ingin dilayani segera, sekarang, dan saat ini juga!

Padahal, bagaimanapun para pekerja media juga adalah manusia biasa, mereka butuh waktu untuk menuju sumber liputan, mencari kebenaran akan informasi yang terjadi, karena mereka bukan Tuhan yang Maha Tahu, Superman yang bisa terbang, atau Doraemon yang punya pintu kemana saja.

Namun masihkah dalam dunia yang serba cepat ini kita ingin mengenal kata sabar ? Kita terus saja mendesak diwaktu bersamaan dengan sejumlah keyword di mesin pencari, menulis status di jejaring sosial sambil tak berhenti bertanya apa yang terjadi ? Lewat hasrat kita sendiri, kita telah menciptakan diri kita sebagai konsumen aktif yang membuat liur para pemilik media meleleh.

Karena semakin banyak kata kunci yang kita tuliskan di mesin pencari  atas sebuah topik yang menjadi trend pembicaraan , maka itu berarti potensi pembaca akan berdatangan, yang juga sama artinya adalah undangan bagi para pengiklan untuk memasang prodaknya pada media tersebut.

Ya, tanpa sadar kita telah menjadikan diri kita sebagai audience yang patuh, ibarat segerombolan manusia yang mengantri di restoran cepat saji yang sedang lapar kita datang dengan kepasrahan penuh, saya ingin perut segera terisi tak perlu tahu apakah ini sehat atau tidak, asal rasa haus dan lapar segera hilang !

Itulah saya dan mungkin juga banyak orang lain di abad ini. Ketergantungan akan relasi informasi telah membuat banyak orang menjadi pasar dan menjadi audience aktif yang bekerja bagi para pemilik media tanpa gaji, tunjangan, dan struktur relasi produksi dengan pemiliknya.

Sebagaimana kata-kata Dallas W.Smythe tentang ‘konsumen berbakti’. Kita yang mudah takut oleh berita, sekaligus selalu tergantung atasnya, demi dan atas nama kecepatan, kebaruan dan kekinian telah menjadi bagian dari industri pikiran yang desebar oleh berbagai media.

Karena sesungguhnya penopang utama industri media yang kita kritik selama ini adalah adalah hasrat dalam diri kita sendiri, dan kitalah agen-agen utama pencipta kemapanan kapitalisme media baru tanpa relasi dengan kepemilikan media, sesuatu yang mungkin melampaui ramalan Karl Marx sendiri tentang ketergantungan ‘relasi produksi’!


Posting Komentar

0 Komentar