Love, Life, Line : (Bukan mini Drama AADC, namun kisah Fadhli Rahim dari Gowa)

Siapa yang tidak kenal cinta (Dian Sastro) dan rangga (Nicholas saputra) ? Keduanya, bagi mereka yang masih SMU atau baru masuk kuliah di paruh tahun 2002 adalah lambang dari ‘remaja keren’. Idola generasi masa itu, generasi saya yang lahir diantara  era tahun 1980- 1990 an.



Lewat Film Ada Apa dengan Cinta (AADC) ? Cinta, rangga, dan teman-teman mereka membawa kami mengenal sastra, buku, puisi, musik, dan pemberontakan gaya remaja  dingin seperti  rangga. Baru pada akhir tahun 2014 yang lalu, kerinduan itu terbayar sudah ketika cinta ‘menggugat satu purnama janji rangga’ lewat mini drama AADC.

Mini drama ini mengisahkan, rangga dan cinta yang kembali terhubung setelah  bergabung dengan aplikasi  ‘LINE Alumni Sekolah mereka’. Bedanya, kini cinta bukan lagi anak SMU dengan seragam putih abu-abu, demikian pula rangga. Keduanya telah sama-sama menjadi pria dan wanita dewasa.

Perbedaan kedua, antara Film dan drama AADC, jika dimasa lalu rangga dan cinta terhubung lewat mading, kertas, dan puisi, kini rangga dan cinta terhubung lewat aplikasi jejaring sosial yang bernama LINE yang memang menjadi sposor utama mini drama ini.





Namun yang tetap sama dari Film AADC dan mini drama LOVE,LIFE dan LINE adalah getaran bagi para penonton  ketika rangga dan cinta kembali berciuman dibandara. Tetap dahsyat!


Bukan Mini Drama Ada Apa Dengan Cinta, namun kisah Fadhli Rahim dari Gowa


Jika kisah rangga dan cinta akhirnya berakhir bahagia karena aplikasi LINE alumni. Dalam dunia nyata kisah tragis justru terjadi pada Fadhli Rahim seorang pemuda Gowa yang tergabung dalam aplikasi  Line alumni sekolahnya, SMUN 1 Sungguminasa angkatan 99” (Salis 99) yang justru berakhir pada  persoalan hukum:


Pasalnya, tak ada yang menyangka pembicaraan di group tersebut kemudian dijadikan sebagai alat gugatan lewat pasal penghinaan dan pencemaran nama baik. Fadhli , dituntut berdasarkan  undang-undang ITE  yakni  pasal 27 ayat (3) UU Nomor 1 Tahun 2008  :


Persoalan Fadhli yang seorang PNS Gowa, bukan hanya menimpanya sendiri.  Bahkan menurut berbagai sumber media, kasusus yang menimpa Fadhli juga berpengaruh kepada ibunnya :


Inikah kisahnyata dari love, life , line ?

Kasus yang menimpa Fadhli bukanlah kasus pertama. Sebelumnya ada banyak deretan kasus yang menimpa sejumlah warga yang mesti berhadapan pada dilema antara kebebasan berpendapat, etika,  dan kekuasaan.


Undang-undang ITE utamanya pasal 27 ayat (3) memang kerap menjadi sumber perdebatan. Pada satu sisi, pasal dalam undang-undang ini memang merupakan ‘kendali atas kebebasan yang kebablasan’ namun pada bagian lain, pasal ini selalu saja dijadikan oleh pemegang ‘kekuasaan untuk memukul pendapat umum’!

Soalnya ada pada titik pijak paradigma yang digunakan, dalam melihat kasus per-kasus ? Jika menggunakan cara pandang stabilitas, keteraturan, dan pendekatan rezim, maka segala yang bertentangan dengan kepentingan pembangunan rezim keteraturan dan sikap kritis adalah hal yang mesti dibatasi.


Namun jika menggunakan cara pandang  yang lebih terbuka, maka segala kritik warga justru akan dilihat sebagai bagian dari pendapat umum. Soal selanjutnya, dalam dunia baru atau yang kita kenal era new media  apakah kita masih  mengenal pembatasan? Dunia sedang berhadapan dengan pembaharuan dan revolusi saluran komunikasi yang begitu bebas.

Menggunakan  ‘pembatasan’ dalam dunia yang serba tak terbatas adalah hal yang rasanya sudah tidak lagi masuk akal. Seperti cinta dan rangga yang sudah beralih dari menggunakan mading dan kertas,  yang kini menggunakan LINE, maka kekuasaan juga harus mulai melihat peralihan piranti komunikasi  ini secara terbuka.

Mereka yang pro rezim keteraturan mungkin bisa berdalih, apa yang dilakukan oleh Fadhli menjadi kesalahan karena mencemarkan nama baik, berbicara soal individu pengguasa, bahkan menuduhnya tanpa dasar ?

Namun jika mengacu pada pandangan kritis dan cara pandang yang terbuka, dari apa yang saya baca di transkrip wawancara yang tersebar maka yang terjadi adalah sebuah diskusi kritis warga atas kepemimpinan dan rasa kecewa atas pembangunan. Harusnya, apa yang disampaikan bukan dikriminalisasikan namun dijadikan sebagai bahan masukan bagi pengelola pemerintahan. Apalagi, dari informasi yang selama ini saya baca lewat sejumlah media, bahwa penyampaian tersebut berlangsung dalam sebuah group Line alumni yang memang bersifat terbatas.  

Pertanyaanya, apakah Fadhli memang sengaja menyebarkanya secara luas atau ada pihak lain sebagaimana kategori undang-undang ITE pasal 27 ayat 3 ?

Selain itu, perlu  juga diingat pada pasal 28 ayat E undang-undang dasar 1945,  jelas tertera pada ayat 2;  Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya. Lantas apakah kita bisa melakukan kriminalisasi kepercayaan, pikiran dan hati nurani Fadhli dengan dalih mencoreng nama baik dan undang-undang ITE ?

Seperti cinta yang akhirnya bertemu rangga lewat LINE harusnya kita juga sadar zaman sudah berubah, mengapa tak memandang apa yang dilakukan oleh Fadli yang seorang PNS sebagai bagian kecintaanya pada kampung halamannya, sebagai upaya merayakan kebebasan  lewat LOVE,LIFE dan LINE ! Agar dunia menjadi lebih damai. ..


Posting Komentar

0 Komentar