"Hujan, Saya dan Ibu Kota Kita"

(Tulisan ini Telah dimuat diharian Tribun-Timur 7 Januari 2015)

Saat masih kecil, saya selalu menantikan hujan datang. Biasanya saya akan bernyanyi riang, ‘tik-tik bunyi hujan di atas genting airnya turun tidak terkira, cobalah tengok dahan dan ranting, pohon dan kebun basah semua’. 

    Hujan bagi saya kala itu, penuh makna seperti lirik lagu masa anak-anak ciptaan Saridjah Niung atau Ibu Soed di atas, membawa pesan akan berkah alam yang penuh  situasi akrab dengan manusia.

    Ketika masih kuliah, hujan juga punya banyak cerita. Tentang sekumpulan puisi cinta bagi  kekasih, drama situasi romantis sisa embun dari jejeran daun pohon yang rindang Universitas Hasanuddin atau cerita aroma tanah basah yang menyimpan rindu. Namun, kini hujan tak lagi berarti sama seperti saat saya masih kecil atau remaja.
    Setiap hujan tiba, sepertinya saya dan mungkin banyak orang lain akan menyambutnya dengan hati yang bergetar. Karena bagi saya, dan mungkin orang lain yang hidup di kota ketika hujan tiba,  kami akan  terus memutar televisi sambil menyaksikan layar dengan ketakutan yang kadang berlebihan.
    Seolah kota akan kedatangan seorang rahwana yang sedang turun dan akan memporak-porandakan kehidupan. Karena  di ibu kota, hujan tak lagi disambut dengan puisi dan kemesraan bersama alam.Tak ada lagi cerita tentang pohon dan kebun, atau kemilau ranting basah.
    Hujan di ibu kota berarti rasa awas yang semakin harus meningkat. Berita tentang tanggul katulampa, latuharhary, atau gerakan air tanggul kali cipinang sama cepatnya dengan perubahan di lantai bursa, selalu harus dilihat, diikuti, dan disimak dengan rasa cemas.
    Semuanya harus terus dipantau dengan seksama. Begitu besarnya rasa takut akan hujan, di ibu kota telah dimulai sebuah mega proyek benteng raksasa yang bernama tanggul Giant Sea Wall yang dari berita memakan nilai anggaran sampai Rp 500 triliun. Semuanya dipersiapkan sedemikian rupa, karena hujan telah dipandang sebagai bencana raksasa yang bisa menghancurkan kehidupan .
    Manusia-manusia kota yakin sebuah benteng mampu melindungi mereka dari alam. Di ilhami oleh filsafat renaissance yang salah satunya diwakil oleh francis Bacon orang-orang kota kadang begitu percaya diri, ‘bukan alam yang menjadikan manusia itu apa,  namun manusia berkat akal budinya menakdirkan alam menjadi apa’.

Jakarta-Makassar
    Saya menghabiskan pekan pertama tahun baru 2015 di kota Makassar bersama hujan. Seperti Jakarta, warga  kota Makassar menyambut hujan sama khawatirnya. Bedanya, di ibu kota negara mereka bersiap dengan sejumlah data dan kerja, seperti Bacon yang yakin pengetahuan adalah kekuasaan.
    Walau belum juga ampuh, antrean kemacetan, penyakit endemik yang menyebar akibat genangan air yang bersatu dengan limbah manusia, masih saja membawa berbagai virus penyakit ke tengah rumah-rumah warga Jakarta. Namun setidaknya Gubernur Ahok beberapa bulan sebelumnya telah memilih menjadi Bacon dengan serangkaian rencana, peringatan, dan kerja yang membuat warga kota sedikit optimis dan berharap tahun mendatang kondisi yang dihadapi akan lebih baik ketika hujan .
    Namun di Makassar, rasanya saya tidak menemukan Bacon. Wali Kota Makassar hanya menganjurkan pejabatnya untuk tidak meninggalkan kota, meminta mereka peduli kepada warga yang terkena banjir. Padahal saya mengenal dengan baik Wali kota Makassar adalah sosok manusia yang penuh dengan sejuta rencana dan senang membuat prospektus sebagai peringatan.
    Beberapa hari di Makassar, saya berkeliling dengan angkot. Dari sana saya menyimak perbicangan para ibu-ibu rumah tangga yang mengeluh mengapa pasar sentral kini banjir atau para pekerja di gerai-gerai toko di Jl Racing Center Makassar yang mulai kesulitan menuju tempat kerja. Demikian pula para  mahasiswa dan mahasiswi yang menuju kampus Tamalanrea yang sering terlambat akibat genangan banjir di jalanan yang tinggi membuat macet.
    Apakah Wali Kota Makassar sedang kehabisan rencana? Ataukah para pemimpin-pemimpin kota kita telah berubah menjadi lebih sadar akan kekuasaan alam. Lantas cukup menyikapi hujan cukup dengan prihatin? Lalu apa yang mesti kita lakukan bagi kota-kota kita yang melihat hujan sebagai bencana?

Tuhan-Kita
    Saya menikmati hujan sebagai berkah dan bahagia. Nikmat Tuhan, bagi  istri, anak, dan ibu mertua yang hidup di pinggiran Kota Makassar. Karena kalau hujan, kran air kamar mandi dan dapur  kami akan mengalir deras. Tak perlu lagi bangun dimalam hari untuk mengisi ember talangan untuk kebutuhan mandi, mencuci, atau memasak.
    Namun, hujan adalah bencana bagi  mereka yang tak bijak pada alam. Bagi manusia-manusia yang senantiasa ingin menjadikan alam sebagai miliknya sendiri. Seperti para tuan-tuan kaya yang rakus atas lahan yang membuat tanah resapan menjadi hilang lalu menggantinya menjadi pabrik.
    Para developer yang tak pernah berpikir bahwa perumahan yang mereka bangun adalah titik banjir, atau pemerintah yang selalu kehilangan rencana dan kemampuan membawa harapan untuk menata lingkungan sesuai tata ruang. Padahal Tuhan, hujan, dan kita harusnya menjadi harmoni bukan kontradiksi.
    Adalah tidak adil untuk berpikir mengalahkan alam sebagaimana kesombongan sebahagian orang-orang abad pencerahan, menggunakan alam hanya untuk pundi-pundi uang dan melupakan manusia lainya seperti manusia-manusia industri kota yang lupa akan lingkungan.
    Sudah waktunya, kita manusia-manusia kota dan utamanya para pemimpin-pemimpin kota untuk berpikir dan bekerja bersama-sama untuk menciptakan ruang kehidupan yang lebih baik. Memulainya dengan  mengontrol hasrat kepemilikan yang dimiliki, penaklukan dan tindakan zalim pada alam hanya akan membuat bencana. 
    Karena kita bukan sedang berperang melawan alam, apalagi menjadikannya sebagai sesuatu yang mesti ditaklukan. Marilah kita hidup dalam harmoni, agar hujan bukan lagi ibarat raksasa yang mengancam. Namun menjadikannya sebagai berkah Tuhan. Sebagaimana lagu Ibu Sud “cobalah tengok dahan dan ranting, pohon dan kebun basah semua’. Semoga damai di bumi. (*)

Posting Komentar

0 Komentar