"Peran seorang Ayah"


Pagi tadi adalah pagi ke-tiga saya mengantar ali ke sekolah, setelah hampir empat bulan dirinya resmi menjadi murid taman kanak-kanak TK Rezki Mulia Sudiang. Sejak semalam, memang Ali telah membuat petisi mengajukan protes akan mogok sekolah kalau tidak diantar oleh saya.

Karena sudah janji akan memenuhi petisinya, maka saya bangun dan mandi lebih pagi dari biasanya. Tepat pukul 7.30, saya mulai menenteng tas sekolah  yang bergambar salah satu superhero kegemaran Ali, siapa lagi kalau bukan ‘Batman’.

Sembari  mengandeng tangannya. Karena jarak sekolah yang tidak terlalu jauh dengan kompleks rumah kontrakan kami, maka saya  memilih mengantarnya sambil berjalan kaki. Selama perjalanan yang kurang dari lima menit, saya berbisik dalam hati ini kesempatan untuk kami sebagai sesama lelaki untuk saling bertukar cerita tanpa bunda.

Berjalan dibawah cerahnya matahari pagi makassar, saya mulai mengajukan beberapa pertanyaan kepada ali untuk memulai sebuah percakapan.

Kenapa harus diantar oleh papa,bukankah ali selalu diantar oleh bunda ?

Pokoknya, ali mau papa. Jawabnya tegas degan suara yang mulai meninggi.

Iyah, tapi kenapa harus papa ? Tanya saya masih penasaran.

“Karena papa tau, teman-temanku diantar bapaknya”!

Kata-katanya mulai terbata-bata, lalu suaranya melemah dan tanpa pernah saya prediksi sebelumnya air mata dan tangis putraku itu pecah. Segera saya memeluknya sembari mengusap rambutnya.

Lalu dengan suara yang serak dan mata yang berkaca-kaca, ali meneruskan kata-katanya saat dalam pelukan saya, namun kali ini dengan suara yang lebih pelan.

Papa, ali mau kasih tau teman-teman ini papaku,
karena mereka tanyaika’ dibilang ali anak mama dan mereka tanya mana bapakmu ?

Kali ini rasanya air mata saya yang ingin tumpah. Lalu dalam hati saya mulai berdialog dengan diri sendiri.  Apakah anak sekecil ini, di usia belum genap lima tahun sudah bisa merasakan hal yang sedemikian dalam ? Inikah yang dirasakan oleh sejumlah ayah  yang pernah saya jumpai ?



Mereka yang jauh lebih tua dari saya, lebih sibuk dan tentu saja lebih berhasil namun masih menyempatkan paginya untuk mengantar dan menjemput anaknya ke sekolah. Mereka meluangkan waktunya dengan baik untuk hadir dalam ‘percakapan dari rumah menuju sekolah’.

Pagi ini, saya akhirnya belajar lagi satu hal tentang makna kehadiran dan percakapan. Ada banyak hal yang tidak kita pahami dari dunia anak-anak  yang mungkin kita pandang terlalu sederhana dan belum mengenal arti penting kehadiran dan belum paham makna percakapan.

Tanpa sadar sebagai ayah, saya telah membangun jarak dunia yang sedemikian lebar. Dengan mengacu pada mekanisme struktur sosial bahwa tugas seorang ayah adalah bekerja dan tugas ibu memberikan kasih sayang dan pendidikan.

Saya alpa, bahwa seorang anak juga membutuhkan ayah sebagai figur pelindung bagi dirinya sekaligus menjadi kebanggan untuknya dihadapan kawan-kawannya. Karena kehadiran bukan hanya bermakna perjumpaan, mungkin selama ini saya hanya sering berjumpa dengan ali sebagai ayah, dan bukan benar-benar hadir dan bercakap-cakap sebagai ayah apalagi menjadi pelindung bagi dirinya.

Tanpa terasa kami telah sampai digerbang sekolah,  Ali mengusap matanya yang sembab bekas tagis di perjalanan.  Saya lalu berbisik ditelinganya, papa sayang ali. Dengan cekatan matahari kecilku itu lepas dari pelukan dan berlari menuju kerumunan kawan-kawannya yang sedang sibuk bermain, terdengar teriakannya ‘teman-teman itu papaku’.


Lalu sejumlah jagoan kecil menoleh kepada saya yang sedang berdiri kikuk dengan mata yang tentu saja hampir basah. Sementara mata Ali berbinar-binar!

Posting Komentar

0 Komentar