KAA dan # "Panggung Presiden yang Tertukar”

Terlepas berita yang ramai  dijejaring sosial dengan hashtag ‘#presiden yang tertukar’ oleh seorang turis jerman, apakah sekedar berita hoax atau memang fakta?  namun bagi saya  perhelatan puncak konfrensi Asia Afrika (KAA) yang digelar di bandung telah melahirkan seorang bintang baru. Sosok yang bisa jadi benar-benar akan menukar posisi sang Presiden lima tahun lagi...        

Ridwan Kamil nama orang itu, walikota muda dengan segudang karya. Terus terang dibandingkan Joko Widodo ketika menjadi walikota solo, menurut hemat  saya secara pribadi, apa yang dilakukan oleh dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) itu sungguh jauh lebih menginspirasi dibandingkan Jokowi di masa lalu.     




Wajahnya tampan, perangainya lembut, tutur katanya halus namun dengan karya yang banyak dan luar biasa. Itulah sosok Ridwan kamil yang saya perhatikan. Ketika ke bandung baru-baru ini, saya melihat sendiri satu persatu wajah kota kembang berbenah dengan berbagai perubahan yang dilakukan oleh Walikota muda dan inspiratif tersebut.

Pelan-pelan dirinya berusaha mewujudkan kota yang manusiawi, kota yang tidak sibuk berpacu dengan indeks pertumbuhan ekonomi namun bekerja untuk  indeks kebahagian.Kolong jembatan jalan pasupati yang dahulu saya kenal sebagai tempat perkumpulan sampah liar, tempat para preman dan pengemis berkumpul, di ubahnya menjadi taman kota yang menarik dan menjadi sarana bagi anak-anak muda berolahraga,rekreasi, serta ruang publik bagi rakyat untuk saling bercengkrama dan menyapa satu sama lain.

Karena Ridwan kamil percaya, ukuran kebahagian sebuah kota tercermin dari tiga hal. Pertama, ketika rakyatnya sering tersenyum. Kedua, interaksi yang terjalin akrab antar warga yang saling menyapa. Ketiga, ketika warga terbiasa bergotong royong dan bekerjasama. Sebuah indikator yang jarang digunakan untuk perencanaan kota-kota kita.

Kini di bandung dikenal sebuah kegiatan yang bernama kuliner night. Kegiatan dimana pada malam tertentu warga berkumpul dan makan malam bersama untuk membangun interaksi sosial. Ridwan ingin menghapus kebiasaan kota yang identik dengan kecurigaan dan semangat individualistik.

Namun jangan berpikir Ridwan kamil walikota dengan gaya kepemimpinan yang tidak tegas, Kang Emil justru sosok yang berani dan tak takut memberikan sangsi bagi mereka yang melanggar. Sejumlah Perda dibuat agar warga bekerjasama merawat fasilitas kota dan tidak segan-segan memberikan denda dan hukuman bagi mereka yang melanggar…

Ridawan bukan tipe pemimpin yang bekerja  dengan ancaman, umpatan, dan kata-kata kotor layaknya Ahok Gubernur Jakarta yang terkenal suka marah-marah. Dirinya menunjukan ketegasannya dengan turun langsung dijalan raya, menasehati para pelanggar dengan menggunakan pilihan bahasa sunda yang halus namun dengan pesan dan sangsi.    
Kang emil, yang pernah tinggal di amerika itu juga tidak kehilangan identitas dan akar budaya. Dia selalu menggunakan  totopong   dikepala lengkap dengan  jadwal rutin berbahasa sunda. Namun alumnus  universitas of california berkeley itu juga punya mimpi besar dikepalanya seperti cita-citanya melahirkan bandung tekno polis sebagaimana Silicon Valley di amerika.           


KAA dan Panggung Presiden yang Tertukar          

Bagi saya, Konfrensi Asia Afrika (KAA) adalah pangung yang sempurna bagi Ridwan kamil untuk tampil sebagai tuan rumah. Walau mungkin tidak akan berperan besar dalam pembicaraan antar kepala negara dan sekedar sebagai panitia pelaksana dengan peran tambahan sebagai pembaca naskah dasasila bandung, namun inilah titik mula kemunculan Ridwan Kamil sebagai tokoh nasional dan internasional.    

Ada beberapa alasan mengapa Ridwan Kamil akan tampil dan mengambil panggung. Pertama sebagai tuan rumah pelaksanaan kegatan tersebut, Ridwan Kamil menjadi sorotan perbincangan media. Kemampuan Ridwan dalam menyulap bandung sebagai kota yang layak didatangi oleh 21 kepala negara adalah hal yang luar biasa.

Sebagaimana Ali Sastroamidjojo yang  berperan besar dalam menggagas penyelenggaraan acara KAA pertama, momentum ini telah dicuri dengan baik oleh Ridwan kamil. Kali ini dengan membangun ikon mengulang keberhasilan sang perdana menteri ke delapan masa soekarno tersebut.

Kedua, dengan kemampuan komunikasi yang dimiliki Ridwan kamil yang juga seorang media darling, momentum KAA adalah momentum penting untuk memperluas relasi media dan jaringan internasional, hal ini terbukti dengan inisiatif  pertemuan walikota se Asia-Afrika yang bertajuk smart city, Ridwan sedang membangun panggungnya sendiri!

Ketiga, dari apa yang saya lihat di acara KAA yang menggunakan biaya tidak sedikit tersebut, Jokowi belum mampu menghadirkan sebuah isue yang kuat bagi kebangkitan negara-negara Asia- Afrika. Jokowi terlalu datar dalam menyampaikan ide dan belum mampu membawa getar Bung Karno yang pada masa lalu, mampu tampil menjadi tokoh  untuk membangun solidaritas bangsa-bangsa Asia dan afrika yang baru saja lepas dari kolonialisme dan imprealisme!


Ada kesan canggung dan tanggung dari berbagai pikiran dan gerak yang dibawa oleh Jokowi pada acara KAA. Misalnya saja,  Pembahasan tentang palestina rasanya belum membawa getar yang menggelegar, namun lebih bernada pemberian surat dukungan kemerdekaan bukan pesan-pesan perjuangan kemerdekaan.

Padahal jika presiden Jokowi benar-benar ingin mengambil panggung pada pertemuan sebesar KAA. Harusnya Presiden Jokowi berbicara untuk menghadirkan poros ekonomi politik baru bagi kebangkitan bangsa Asia Afrika, pasca bekurangnya kekuatan blok barat dan terhempasnya blok timur.  

Jokowi harus berani berkata ; New era, New power, New Asia Afrika ! Namun Apa yang kita saksikan bersama dari KAA ? Jokowi lebih berperan sebagai panitia bukan deklarator besar layaknya bung Karno dan akhirnya panggung Konfrensi Asia Afrika adalah milik Ridwan Kamil, walikota masa depan yang bisa jadi akan mengantikan jokowi dalam benak rakyat indonesia. Sebagaimana kata turis jerman tersebut,  ”Yourpresident is very handsome, cool and looks clever, wearing black tradition hat and eye glases… he looks young…how old is he?”




Posting Komentar

0 Komentar