Komunikasi ?



Apa itu komunikasi ? Mahasiswa atau mahasiswi semeter satu yang baru kuliah di jurusan ilmu komunikasi dengan lancar bisa menjawab seperti ini;  ‘komunikasi adalah proses penyampaian pesan  dari seorang komunikator kepada komunikan yang berlangsung baik secara verbal maupun non verbal,  menggunakan pertukaran  lambang  maupun  simbol’ serta bla..bla...bla...dan bla...bla...

Namun apakah komunikasi sesederhana definisi tersebut ? Semakin saya belajar tentang ilmu komunikasi,  saya semakin sadar bahwa ilmu komunikasi tidaklah semudah seperti bayangan saya ketika pertama kali kuliah  di jurusan ilmu komunikasi. Karena komunikasi adalah hal yang begitu luas, melingkupi seluruh aktivitas kehidupan manusia dan seluruh mahluk semesta! 

Saking pentingnya ilmu komunikasi, hampir seluruh bidang studi di universitas mengambil bagian-bagian dari ilmu ini. Bahkan mereka yang sudah tamat dari universitas  dan sudah bekerja masih terus tertarik belajar ilmu komunikasi. Contohnya seorang teman saya yang kini telah menjadi dokter dan bekerja pada sebuah rumah sakit, justru sedang  giat-giatnya belajar tentang ‘psikologi komunikasi’.

Ketika saya tanyakan alasanya? Kawan saya itu, lantas menjelaskan secara lugas ada apa dibalik keinginan dirinya belajar psikologi komunikasi. Ternyata impianya sederhana, “kelak  ketika menyampaikan hasil diagnosa penyakit kepada pasien, dirinya berharap mampu menghilangkan ketakutan psikologis berlebihan dari pasien -pasien” yang dihadapi.

Dengan belajar psikologi komunikasi, kawan saya itu berkeyakinan akan membuat perasaan postif akan tumbuh dan semangat pasien akan bangkit kembali, sehingga penyembuhan dapat berlangsung lebih cepat atau setidaknya membuat pasien lebih nyaman dan tidak berpikiran negatif yang justru akan membuat penyakit baru. 

Lain lagi, kawan baru saya yang seorang developer. Beliau adalah lulusan arsitektur jebolan dari sebuah universitas ternama di negeri ini. Pada suatu kesempatan, bercerita kepada saya bahwa beliau sangat tertarik dan sangat berambisi, untuk melahirkan sebuah buku “semiotika komunikasi pesan-pesan arsitektural bagunan-bagunan tradisional di indonesia”.

Alasanya, ‘dirinya percaya ada banyak pesan yang ingin dikomunikasikan dibalik berbagai bangunan tradisional masa lalu dari setiap suku bangsa yang hidup di negara ini. Sesuatu yang menurutnya adalah jejak-jejak peradaban yang sangat berharga bagi bangsa dan negara ini yang harusnya kita pelajari! 

Bahkan yang terbaru, tetangga kamar kosan saya seorang sarjana kehutanan yang juga bekerja di kementerian kehutanan beberapa malam lalu mengetuk pintu kamar saya. Dengan membawa sebuah proposal kantor, dirinya mengaku ingin belajar tentang strategi komunikasi pemberdayaan masyarakat.

Rupanya oleh atasannya, tetangga saya tersebut diberikan tugas untuk menyusun rencana kerja desain dan sterategi komunikasi, untuk memberikan pemahaman agar penduduk sekitar hutan tidak lagi melakukan kegiatan perladangan berpindah pindah yang merusak lingkungan hutan diberbagai daerah. 

***
Ilmu komunikasi, memang bukanlah sebuah ilmu yang bisa terbatasi pada satu ruang kategorik ataupun rumpun ilmu tertentu. Apalagi sekedar pembatasan oleh tembok fakultas  sebagaimana yang dilakukan di universitas. Karena ilmu  komunikasi dan kegiatan komunikasi itu sendiri adalah sesuatu yang bersifat universal, melingkupi berbagai bidang ilmu bahkan bisa jadi adalah dasar dari ilmu pengetahuan itu sendiri.

Karena bukankah proses transfer ilmu pengetahuan maupun pengalaman, baik empiris maupun mistis pasti melibatkan kegiatan komunikasi.  Tengoklah  praktek kehidupan keseharian kita,  dari bangun tidur sampai tidur kembali kita pasti terlibat oleh berbagai kegiatan komunikasi.  

Bahkan ketika tidur dan bermimpi, bagi para penganut tafsir mimpi sigmund freud akan percaya bahwa  kita sedang berkomunikasi dengan alam bawah sadar diri kita. Demikian pula bagi para penganut mistisme, juga meyakini bahwa mimpi adalah salah satu jalan ber komunikasi antara manusia dengan Tuhan, sebagaimana nabi Ibrahim yang diberikan petunjuk lewat  mimpi untuk menyembelih Ismail putra tersayang..

Komunikasi dan Ilmu Komunikasi

Memang, komunikasi adalah sesuatu yang bersifat fitrawi dari manusia dan mungkin seluruh mahluk semesta. Ibarat kebutuhan untuk bernapas demikian pula setiap aktivitas manusia dipenuhi oleh berbagai kegiatan komunikasi yang melibatkan berbagai simbol, lambang, pesan, bahasa, kata, bahkan gerak dan diam sekalipun pasti senantiasa melibatkan unsur-unsur komunikasi.

Jadi semua orang sebenarnya adalah mahluk komunikasi. Namun soalnya,  tidak semua orang belajar dan mampu memperaktekan ilmu komunikasi. Inilah sumber berbagai persoalan  dan konflik selama ini. Tengok saja beberapa pekan lalu, ketika headline hampir seluruh surat kabar nasional mencantumkan judul besar “Presiden harus memperbaiki komunikasinya dengan Rakyat dan Partai Pendukung”

Seorang presidenpun, bahkan dipandang masih gagal berkomunikasi yang berujung pada lahirnya kegaduhan tidak penting bagi negara ini. Padahal seorang presiden indonesia adalah orang yang dipilih secara langsung oleh jutaan rakyat,  yang artinya adalah manusia indonesia yang paling baik komunikasi politiknya dibandingkan calon-calon yang lain.

Namun, disinilah letak perbedaan yang sebenarnya antara komunikasi sebagai kegiatan “keseharian dan ilmu komunikasi sebagai sebuah hal yang bisa dipelajari bahkan cenderung dimanipulasi”! Karena bisa jadi mereka yang belajar ilmu komunikasi adalah manusia-manusia yang paling mampu melakukan manipulasi komunikasi.

Karena dalam ilmu komunikasi yang bersifat postivisme, teknik manipulasi komunikasi ini diajarkan dengan sangat apik mulai dari cara membentuk kesan, mengelola pesan, strategi saluran pesan dan kesan, sampai pada upaya membentuk gerak tubuh, mengelola dan membaca mimik atau gesture. Semuanya adalah bagian keseharian pendidikan komunikasi ala chicago school yang terus di doktrikan dikampus-kampus kita.

Maka tak heran, kita akhirnya bertanya-tanya mengapa presiden yang dipilih oleh jutaan rakyat tersebut justru dipandang gagal dan gagap berkomunikasi ketika setelah menjadi presiden? Kamana dirinya yang dahulu menarik itu yang setiap kata yang keluar dari mulutnya selalu dikutip oleh media ? 

Mengapa kini media justru menyebutkan Presiden gagal dalam berkomunikasi ? Apakah para konsultan komunikasinya telah meninggalkanya ? atau bisa jadi begitulah gaya komunikasi presiden yang sebenarnya dan sejujurnya, hanya saja ketika masa kampanye kita yang tertipu oleh para akhli komunikasi. 

Sebagaimana saya yang harusnya juga anda curigai,  mungkin sedang memanipulasi kebenaran ilmu komunikasi lewat teks-teks tulisan ini. Lalu apa itu komunikasi ?




   







Posting Komentar

0 Komentar