Kesadaran Alienasi Seorang Gadis Muda ( Catatan kecil Buat Iglima)


Bam, apa yang dicari oleh manusia ? Mengapa setiap orang mesti berjuang? apa yang mereka perjuangkan ? saya melihat di ibu kota ini, orang-orang bekerja entah untuk apa?Berbicara tentang perjuangan yang juga entah apa?

Mereka bangun disubuh hari, bergegas menuju kantor, berlomba mencari materi yang katanya akan membuat mereka bahagia, namun nyatanya menurut apa yang saya lihat, mereka bukan berjuang untuk kebahagiaan justru semakin jauh dari pencarian kebahagian dan perjuangan mereka sendiri!


***

Subuh hari, ketika baru saja selesai menunaikan kewajiban sebagai hamba,  saya dibuat terkejut ketika membuka pesan kotak  Blackberry messenger (BBM).  Apalagi ketika mula membaca isi pesan diatas. Pesan-pesan penuh tanya yang mendalam, dari seorang gadis muda yang begitu saya kenali. Keponakan yang kini telah beranjak dewasa dan telah menjadi seorang mahasiswi semester dua.

Iglima Ramadhani 
Dalam hati saya mulai berbisik, kini si gadis kecil yang walau dahulu sampai sekarang masih memanggil saya dengan panggilan Balita “ Bam” (om/paman) kini tidak lagi berpikiran kanak-kanak, dia mulai tumbuh menjadi gadis remaja yang memulai pencariannya.

Sayapun hanya menjawab singkat pesanya, ‘sore bam jawab nanti kita bertemu’

Meja sebuah kafe dibilangan senayan itu kini terisi oleh secangkir kopi dan teh hangat. Gadis berjilbab biru itu kini di hadapan saya, sudah sebulan lebih kami tidak bertemu. Saya mulai membuka pembicaraan, apa yang membuat galau mbak ?

Dengan sedikit malu-malu dan sesekali menunduk diapun mulai bicara . Kata pertama meluncur; “Begini bam, saya sedang mengalami desonansi kognitif”.

Saya hampir tertawa terbahak-bahak dibuatnya, dengan kalimat pertama yang meluncur dari bibir mahasiswi semester dua ilmu komunikasi tersebut. Namun, sebisa mungkin saya menahanya karena menurut saya dia sedang berusaha berkomunikasi sebagai seorang calon ilmuwan komunikasi dengan memilih teori yang diungkapkan oleh Leon Festinger tersebut.

Teori yang intinya menjelaskan tentang desonansi yakni ‘tekanan yang timbul karena ketidaknyamanan akibat sikap dan prilaku yang dipandang tidak konsisten’.

Apa dan siapa yang membuat desonansi mbak ? Kali ini saya membalas mengikuti cara berkomunikasinya.
Manusia-manusia ibu kota. Mereka yang katanya berjuang dan bertarung untuk hidup dan kebahagian yang ternyata mereka sedang menipu diri sendiri. Buktinya mereka meninggalkan keluarga mereka, berlomba untuk mendapatkan kenyamanan yang sebenarnya tak mereka temukan dari apa yang mereka korbankan. Bam salah satunya!

Saya kali ini terdiam.

Terus mengapa iga yang mengalami desonansi?

Karena saya dari kampung nun jauh di palu sana, saya kaget melihat ketidak konsistenan orang-orang ibu kota. Melihat mereka yang mencari bahagia namun justru semakin berlari dari kebahagiaan. Mereka yang katanya religius tapi hidup ibarat binatang yang rakus dan igin memakan manusia lain, mereka yang katanya mengaku sahabat, keluarga namun sebenarnya bisa jadi adalah musuh yang ingin menghancurkan kita.

Itu namanya, alienasi mbak. Jawab saya pendek, sambil mulai membakar batang rokok yang entah keberapa.

Apa itu alienasi Bam ?
Alienasi adalah proses menuju keterasingan. Kita sedang hidup dalam dunia kapitalisme, dimana Bam dan mungkin juga orang-orang yang iga gugat itu adalah buruh yang dipaksa oleh sistim industri untuk tunduk dan patuh pada kepentingan mereka pemilik modal. 

Manusia-manusia ibu kota ini, diberikan khayalan bahwa untuk bisa bahagia mereka harus terus memproduksi, bekerja, untuk mendapatkan hasil yang banyak namun sebenarnya hal itu tidak akan terjadi. Justru nilai lebih itu hanya akan dinikmati oleh mereka para pemilik modal itu sendiri. Sementara kita, tidak lebih dan tidak kurang hanyalah mesin-mesin penopang mereka.

Jadi, kita sedang dijajah oleh orang lain? Diperbudak oleh orang lain? Kali ini, dua mata besar keponakan saya itu mulai menyala dengan penuh rasa ingin tahu.

Yup tanpa sadar. Karena itu, bagi Bam cara keluar dari alienasi adalah menjadi tuan bagi diri sendiri. Caranya bekerjalah dengan apa yang kita senangi, kembangkan kapasitas pribadi yang bisa menghasilkan dan memenuhi kebutuhan kita. Tanpa perlu hidup bermewah-mewahan hiduplah sewajarnya.

Apakah itu akan membuat kita bahagia?
Bahagia lahir dari hati kita. Dari cara kita memandang hidup, maka lepaskanlah ketergantungan pada orang lain. Bekerjalah secara mandiri, walau jalannya memang sulit dan kadang berat namun itulah hidup seperti yang mbak iga sampaikan. Dan yang terutama adalah pasrahkan hidup kita kepada ALLAH, sebagaimana kata-kata bijak seorang guru ; “doa terbaik adalah kerja”!


Sekarang ayo kita makan dan mari berbahagia dari apa berkat Tuhan yang diberikan…

Posting Komentar

0 Komentar