Pemberontakan!

(Catatan Kecil Menyambut Hari Kebangkitan Nasional)



Benarlah kata Albert Camus, memang pemberontakan senantiasa bermula dari kata ‘tidak’. Karena filsuf  prancis kelahiran aljazair ini yakin, seorang budak yang selama hidupnya selalu berbicara ‘iya’ kepada sang majikan, harus memulai pemberontakan dirinya dari kata ‘tidak’. Karena kemerdekaan hanya akan bermula dan terjadi dari kata ‘tidak’.       


Kita tentu pernah membaca,  apa yang terjadi 107 tahun yang silam, ketika Dr. Soetomo bersama  para pelajar sekolah kedokteran  STOVIA, memulai kata ‘tidak’ mereka  bagi kolonialisasi dan penjajahan yang menguasai bumi nusantara, melalui sebuah organisasi yang bernama Budi Utomo yang kelak menjadi penanda hari ‘kebangkitan nasional’.     

Dua puluh tahun kemudian, tepatnya pada 28 oktober 1928  para pemuda lagi-lagi menegaskan kata tidak, kali ini disertai dengan sumpah sebagai tanah air, bangsa, dan bahasa yang satu yakni indonesia! Mereka berani berkata “tidak sebagai tanah yang dijajah, tidak untuk  bangsa yang dikoyak, serta tidak bagi  bahasa kaum kolonial belanda”.     

Tujuh belas tahun berselang dari 1928,  tepatnya 17 Agustus 1945 kata tidak itu terus  menggema  dan berubah menjadi pekik bagi para pemuda-pemuda yang tidak sabar untuk mendesak kata  ‘MERDEKA’! Mereka menculik Soekarno-Hatta, melalui peristiwa yang kita kenal sebagai rengasdengklok, menjadikan dua tokoh itu atas nama bangsa dan rakyat indonesia, untuk berani berkata pada  dunia KAMI BANGSA INDONESIA TIDAK LAGI DIJAJAH!



Saya tak bisa membayangkan andaikan Soetomo, Soepomo, Yamin, Soekarno, Sukarni, pemuda Syahrir dan Hatta serta sejumlah anak muda lainya tidak berani untuk memberontak dan berkata ‘tidak untuk dijajah’, tentu kita belum merasakan kemerdekaan yang kita nikmati seperti saat ini.

Demikian pula, andaikan large page dan sergey brin  dua orang pemuda penemu google, atau mark zuckerberg, tidak berani berkata tidak pada keterbatasan akses informasi dunia, kebebasan untuk membangun jejaring bersama melalui media sosial, mungkin kita tidak bisa merayakan kemerdekaan abad informasi seperti sekarang.

Kata ‘tidak’, adalah bagian dari sikap sesuatu yang khas dari seorang anak muda. Karena para pemuda dan pemudi selalu harus yakin bahwa dibalik kata tidak, tersimpan energi besar perubahan dan kemerdekaan. Kata ‘tidak’ adalah sahabat para pemuda yang mencintai kebaikan dan mereka yang memiliki cita-cita besar perubahan.

Sedangkan para pemuda-pemudi, yang telah terbiasa berkata ‘iya’ adalah ciri mereka yang bermental budak, mereka yang tidak percaya diri dan tidak mencintai perubahan. Para pemuda good boy, ibarat hewan peliharaan yang tunduk dan patuh pada kekuasaan dan tidak berani melakukan hal-hal besar dalam hidup mereka.

Mereka terbiasa berkata ‘iya’ kepada penguasa yang senantiasa membodohi, seperti para mahasiswa-mahasiswa yang masuk istana dan bertemu dengan presiden baru-baru ini yang dengan bangga berkata ; ‘iya kami bisa memahami masalah bapak presiden dan kami akan berhenti ke jalan’.


Apa jadinya jika pemuda kita telah bermental seperti para aktivis BEM tersebut ? Mereka yang selalu berkata iya kepada kekuasaan, mereka terbiasa menjadi anak-anak muda yang patuh dan akhirnya perlahan setelah selesai dari kampus duduk sebagai budak-budak politik atau buruh dari para kapitalis industri.

Pemuda dan pemudi yang bermental kemapanan dan terlalu cepat tua dan bijak, tak akan mampu menjadi apa-apa dan merubah apa-apa. Karena bukankah perubahan senantiasa terjadi dari para pemuda yang tak sabar? Mereka yang senantiasa mendesak terjadinya perubahan dan senantiasa memelihara kata ‘tidak’ dalam pikiran dan bibirnya?

Merayakan kebangkitan Nasional

Merayakan hari kebangkitan nasional, menurut tafsir saya mesti dilakukan dengan merawat kata ‘tidak’ didalam alam berpikir pemuda dan pemudi negeri ini. Sebagai pemuda, saya yakin dengan terus memepersenjatai diri dengan ‘kata tidak’ adalah hal yang paling minimalis dari merawat kemerdekaan berpikir.

Dengan kata tidak, dealektika akan terjadi. Dengan kata tidak, kita senantiasa merawat pikiran sehat dibandingkan dengan selalu berkata ‘iya’. Karena mereka yang terlalu sering berkata ‘iya’ adalah mereka yang telah kehilangan pikiran dan nalar sehat.

Kemerdekaan, kebebasan, kebangkitan, semuanya pasti bermula dengan kata TIDAK. Bukankah penolakan adalah cara yang ampuh untuk melahirkan zaman baru dan cara hidup baru ? dan pemberontakan adalah jalan untuk mengubah masa depan ?

Tanpa pemberontakan kita akan kehilangan kemerdekaan, tanpa kata Tidak mungkin kita tak pernah akan merayakan hari kebangkitan nasional!





Posting Komentar

0 Komentar