‘Head to Head’ (Catatan Pojok IDEC; jelang Pemilihan Gubernur sulawesi Tengah)



Saya kembali diingatkan, sebuah  pepatah lama; ‘Oleh Pergesekan pendapat, terbitlah matahari kebenaran’! Kalimat itu kembali keluar dari bibir sesepuh IDEC, bung Arthur Pangemanan ketika kami mulai berdiskusi tentang kondisi aktual sulawesi tengah jelang pemilihan gubernur.

Bagi para peneliti dan kader-kader lembaga Indonesia Development Engineering Consultant (IDEC), kondisi aktual pilgub sulawesi tengah yang sampai hari batas akhir pendaftaran yang hanya diikuti oleh dua pasangan calon yang saling ‘head to head’, yakni bapak Longki Djanggola dan Rusdy mastura pada awalnya sempat membawa kami semua terlibat pada situasi psikologis atau dalam bahasa yang sederhana kami larut dalam ‘permainan rasa’.


Bagaimana tidak, kedua tokoh tersebut bagi kami adalah kakak, guru, bahkan sahabat yang  selama sepuluh tahun terakhir telah memberikan dorongan moral dan material bagi IDEC, untuk terus mengembangkan diri melakukan berbagai hal yang berhubungan dengan bidang yang menjadi fokus kami ‘penelitian dan pengembangan sumber daya manusia kawasan timur’.

Head to head bukan perang, tapi adu gagasan!

Sebagai direktur riset IDEC, secara pribadi dan lembaga saya banyak  terlibat melakukan penelitian dalam berbagai kontestasi politik lokal dan terakhir kemarin pada  pemilu presiden. Satu hal yang menjadi kesimpulan saya, bahwa pertarungan politik memperbutkan kursi kepala daerah sampai presiden selalu saja membawa kondisi  ‘perang’.

Dimana setiap calon menggunakan berbagai cara untuk menang, saling menyerang, bahkan tak jarang melakukan mobilisasi pemilih bahkan preman  untuk menekan pihak lawan. Namun pada pemilihan gubernur sulawesi tengah kali ini, oleh kedua tokoh sulawesi tengah tersebut saya sedang belajar tentang politik sebagai ‘ajang adu gagasan’.

Oleh kak’cudy, begitu sapaan akrab kepada walikota palu dua priode tersebut, berulang kali beliau menyampaikan ‘bahwa sudah waktunya politik kita bawa kembali sebagai sarana mewujudkan kebaikan yang luas’. Kita harus memberikan pendidikan politik kepada rakyat, tentang tujuan demokrasi langsung sebagai jalan memilih mereka yang gagasan dan idenya terbaik bagi rakyat, bukan mereka yang sekedar paling banyak membayar suara pemilih.

Untuk itu, jangan kita jadikan pemilihan gubernur kali ini sebagai ajang fitnah dan menyerang pribadi seorang Longki Djanggola. Dalam kacamata yang sama, oleh bapak Gubernur yang juga sering saya panggil dengan panggilan akrab yang sama, kak’ Longki saya juga sering disampaikan oleh beliau pada setiap kesempatan diskusi, menjadi pejabat publik tujuanya adalah bekerja bagi rakyat, memberikan karya terbaik bagi kemajuan rakyat, bukan mencari keuntungan dari rakyat.

Berulang kali kak’longki menegaskan, bahwa apa yang beliau lakukan selama menjadi bupati parigi moutong, lalu menjadi gubernur sulawesi tengah pada priode yang lalu, muaranya hanya satu, ‘saya ingin sulawesi tengah menjadi sejajar dengan daerah lain di sulawesi bahkan indonesia’.

Mendapatkan penjelasan dari dua sahabat yang kini saling beradu gagasan pada pemilihan gubernur sulawesi tengah tersebut, apalagi penegasan dari keduanya bahwa ‘ini bukan perang, namun ini adalah sebuah ajang adu gagasan akhirnya membuat kami menjadi lebih tenang’.

Pasalnya, bagi kami dan mungkin banyak kelompok lainya di propinsi ini jika pemilihan gubernur sulawesi tengah menjadi ‘ajang perang’ lantas kami sebenarnya sedang melawan siapa, mesti berpihak kemana ? Namun jika ini ajang adu gagasan, maka silahkan bagi setiap pribadi untuk memilih gagasan mana diantara keduanya yang terbaik bagi jalan kemajuan rakyat sulawesi tengah.

Sulteng bukan daerah konflik

Momentum pemilihan gubernur serentak dengan tujuh kabupaten/kota di sulawesi tengah kali ini, juga adalah ajang pembuktian bahwa propinsi sulawesi tengah bukanlah daerah konflik. Kedua calon gubernur tersebut, telah memberikan contoh bagaimana karakter dan mental seorang pemimpin dalam berdemokrasi.

Bahwa proses demokrasi yakni pemilihan kepala daerah, sekali lagi hanyalah ‘ajang pertarungan gagasan’, bukan peperangan layaknya kisah kerajaan. Inilah mental sejati pemimpin yang tumbuh dan menyadari esensi sebuah proses berdemokrasi yang sehat.

Hendaknya, mentalitas yang sama juga tertular bagi para calon bupati dan wakil bupati, serta para calon walikota dan wakil walikota yang akan bersaing dalam pilkada serentak pada desember nanti disulawesi tengah. Sekaligus menjadi contoh yang baik, bagi para kontestan kepala daerah lain yang ikut pada pilkada serentak 9 desember 2015 di seluruh indonesia.

Dari pemilihan gubernur sulawesi tengah, kita semua berharap akan jadi sebuah proses pembelajaran politik yang baik bagi negeri ini, sebagaimana kutipan kata-kata bijak yang disampaikan oleh penasehat kami Arthur Pangemanan ; ‘Oleh Pergesekan pendapat, terbitlah matahari kebenaran’!

Maka silahkan pilih matahari kebenaran kita masing-masing, karena ini adalah laga head to head persahabatan dan bukan perang!








Posting Komentar

0 Komentar