Tolikara: Toleransi bukan Terasi…



Dalam kamus besar bahasa indonesia, toleransi berasal dari kata toleran. Sesuatu yang berarti bersifat saling menghargai, membiarkan, membolehkan pendirian, pendapat, serta kebiasaan atau kepercayaan yang berbeda dengan pendapat sendiri. Sementara terasi saya pikir kita sudah cukup mengerti bersama, bumbu penyedap dengan rasa dan bau yang khas .

Lantas apa maksud saya menghubungkan Tolikara, nama sebuah wilayah yang kini ramai dibicarakan karena idulfitri berdarah dengan toleransi dan terasi ? Jawabannya sederhana, yakni banyak dari mereka yang sibuk berkampanye tentang toleransi antar umat beragama justru seperti orang yang setelah makan terasi namun tak mau mengaku. Padahal, bau terasi pasti menyengat dihidung.

Bagi saya,  apa susahnya mengakui  bahwa di tanah Tolikara, Papua, sudah terjadi kekerasan agama yang dimotori oleh sekelompok orang tertentu dengan agama tertentu karena motif superioritas, merasa diri mereka sebagai kelompok mayoritas yang bisa bertindak arogan termasuk melakukan tindakan intoleransi antar umat beragama.

Tak perlu mencari alibi atas tindakan tersebut, maka pada saat yang sama harusnya kita juga menghukumi kegiatan tersebut sebagai prilaku teror atas kebebasan beragama di negeri ini. Pelakunya mesti ditangkap, kelompok persekutuan yang menjadi pemicunya harusnya juga kita desak untuk dibubarkan. Karena negara tak boleh melindungi kelompok teroris dengan prilaku intoleran, apapun alasan dibaliknya.

Tuhan Tak Perlu dibela, Walaupun Dia juga tak menolak dibela

Saya sepakat dengan kata-kata Gusdur, Tuhan memang tak perlu dibela walaupun dia juga tak menolak untuk dibela. Artinya, memang sebagai seorang muslim kita tak perlu bertindak reaksioner dengan alasan membela Tuhan maka melakukan tindakan yang sama dengan mereka yang melakukan teror dan kekerasan sebagaimana yang terjadi di tolikara.

Tak perlu juga kita bersikap berlebihan dengan menebar ancaman kepada mereka yang berbeda agama hanya karena kejadian yang terjadi di Papua. Tidaklah adil jika dengan alasan membela Tuhan, maka umat Islam Indonesia menjadi buta mata dan buta hati kepada mereka yang tidak melakukan apa-apa.

Karena Allah sendiri berfirman dalam al-quran surah almaidah ayat 32 :"Bahwasanya, barangsiapa membunuh suatu jiwa, padahal dia tidak membunuh jiwa atau tidak membuat kerusuhan di permukaan bumi, maka seolah-olah dia telah membunuh manusia seluruhnya".

Jelas sekali dari ayat ini pesan Tuhan, kepada kita umat Muslim dilarang menyerang mereka yang tidak mengganggu diri kaum muslimin. Bahkan Allah mengancam mereka yang membunuh mereka yang tidak melakukan kerusuhan, sebagai manusia yang telah membantai manusia seluruhnya.

Tolikara; Toleransi bukan Terasi

Sebagai seorang muslim, saya percaya Allah  yang saya yakini menekankan  kita bersikap toleran kepada mereka yang berbeda keyakinan dan iman. Oleh karena itu, dalam ajaran Islam kita mengenal penggalan ayat yang terkenal Lakum Dinukum Waliyadin yang merupakan ayat ke-6 dari surat Al Kafiiruun yang berarti: “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”.

Namun jelas, toleransi tidaklah berlaku pada mereka yang memerangi diri kaum muslimin. Mereka yang bertindak intoleran kepada ummat ini,  Karena sebagaimana pesan Tuhan yang lain, “Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwa Allah  itu beserta orang-orang yang bertakwa” (At Taubah: 36). Dari ayat ini, jelas sekali pesan Tuhan kita boleh berperang sebagaimana mereka memerangi kita.

Hendaknya pula, sebelum mengambil berbagai tindakan jihad kita juga diingatkan akan sikap tabayyun atau mendalami masalah. Di dalam al Qur’an, perintah tabayyun  terdapat pada QS. al Hujurat :6. “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang seorang yang fasik kepadamu membawa berita, maka tangguhkanlah (hingga kamu mengetahui kebenarannya) agar tidak menyebabkan kaum berada dalam kebodohan (kehancuran) sehingga kamu menyesal terhadap apa yang kamu lakukan”

Agar terhindar dari kebodahan dan kehancuran, maka hendaknya sikap kita sebagai seorang muslim adalah menyerahkan segala kasus Tolikara kepada para penegak hukum untuk melakukan tabayyun atas peristiwa tersebut. Maka hendaknya para aparatur negara tidak bermain-main atas kasus ini, jika memang motivasi yang dilakukan karena alasan intoleransi maka sebaiknya ungkapkanlah hal tersebut secara jujur.

Tindak para pelaku teror tersebut dengan hukuman yang berat, lalu bubarkan persekutuan atas nama agama tersebut karena telah mengancam kebinekaan yang kita miliki. Karena toleransi bukan terasi,  yang jadi bumbu penyedap bagi mereka kaum cerdik pandai yang selalu berlindung dengan dalih-dalih penghargaan kepada sesama dengan rasa yang enak, namun mulut mereka berbau busuk penuh kepalsuan dan ketakutan untuk adil dalam bersikap melihat masalah.

Dan, damai Indonesiaku



Posting Komentar

0 Komentar