“ Perang Kurusetra di Pilkada Gowa”













Saya teringat kisah Perang Kurusetra, ketika membaca data hasil survei  tentang persaingan calon bupati kabupaten Gowa. Ada dua alasan, mengapa saya  terbawa dalam ingatan akan tempat berlangsungnya perang dahsyat kisah Mahabarata tersebut dan hubunganya dengan pemilihan Bupati Gowa.

Pertama, Kurusetra dalam catatan sejarah adalah sebuah tempat yang dikisahkan merupakan arena berlangsungnya berbagai peristiwa besar yang berujung  pada perang hebat dua garis keturunan Prabu Barata, yakni keluarga Pandawa dan Kurawa dalam perebutan kekuasaan Hastinapura.

Dalam kisah yang berbeda, jika melihat hubungan historis titik sentral kesultanan Gowa masa lalu yang memiliki pengaruh yang begitu besar  dalam percaturan politik nusantara, mengigatkan saya akan daerah Kurusetra yang kini telah menjadi distrik negara bagian Haryana India Utara.

Kedua, peristiwa persaingan antar calon kandidat bupati  Gowa yang kini sedang terjadi justru  mengingatkan akan cerita perebutan kekuasan dalam kisah Mahabarata itu sendiri. Dimana antar  keturunan Prabu Bharata yakni Kurawa dan Pandawa terlibat pertarungan kekuasaan.

Hal yang hampir sama kini terjadi di Kabupaten Gowa. Dimana antar keluarga kandidat petahana terlibat kontestasi politik. Kabupaten Gowa yang selama beberapa priode pemerintahan merupakan bagian dari daerah yang selama ini identik dengan ‘Klan Yasin Limpo’  mesti mengalami persaingan kekuasaan, seperti kisah Prabu Barata, Kurawa dan Pandawa.

Gowasetra; Persaingan Kurawa, Pandawa dan Bhisma

Jika kisah mahabarata berfokus pada pertarungan antara Kurawa dan Pandawa. Maka Gowasetra punya cerita yang sedikit berbeda dengan menyajikan satu tokoh yang juga memiliki kekuatan politik yang tak boleh dipandang remeh. Tokoh yang mengingatkan saya akan sosok Bhisma yang secara garis keturunan sebenarnya menjadi pewaris sah kerajaan Hastinapura.

Namun Bhisma, dalam cerita Mahabarata akhirnya takluk pada panah Srikandi yang sebenarnya adalah jelmaan dari sosok Amba. Pertanyaannya, apakah Bhisma-nya Gowa mampu membuat kisah yang berbeda dengan mengalahkan Kurawa dan Pandawa sekaligus Srikandi? Ataukah, Bhisma lebih memilih sebagaimana dalam cerita Mahabarata bergabung dengan Kurawa?

Dari gambaran hasil survei yang saya baca, memang kisah Gowasetra hanya akan berfokus pada persaingan tiga tokoh yang menjadi representasi dari Kurawa, Pandawa, dan Bhisma. Namun hal yang tidak bisa dilupakan seperti dikisahkan dalam epos Mahabarata, dibalik kemenangan pihak Pandawa dalam Perang Kurusetra sangat dipengaruhi oleh kehadiran sosok Kresna.

Sosok Kresna, dalam kisah Mahabarata dipercayai sebagai jelmaan dari Wisnu yang memiliki kekuatan menghancurkan musuh, keberanian, dan yang terutama kelihaian strategi peperangan. Apakah Sri Krisna akan ikut bertempur ? ataukah hanya memilih diam melihat pertarungan antar sesama keluarga ?

Gowastera; antara mitos dan rasionalitas

Politik tanpa mitos, ibarat sayur tanpa garam. Karena sebuah pristiwa politik, atau cerita tentang seorang tokoh politik menjadi menarik karena berbagai mitos yang melingkupinya. Presiden Soekarno, sampai saat ini masih hidup dalam alam pikir jutaan rakyat indonesia, menurut hemat saya lebih karena berbagai mitos yang dilekatkan dalam kehidupan pribadi Soekarno.

Kehidupan politik indonesia, memang tak bisa lepas dari berbagai mitos. Lihatlah lambang negara kita, burung garuda yang secara faktual sulit diidentifikasikan sebagai jenis burung apa? Penetapan hari kesaktian pancasila, sampai cerita dibalik perjuangan kemerdekaan yang melawan senjata dengan bambu runcing. Semuanya adalah hal yang sangat sulit diterima oleh rasionalisme moderen.

Membaca hasil survei Gowa, saya yakin yang terjadi adalah pertarungan antara sejumlah mitos politik. Mitos yang dibangun tentang diri individu, keluarga, dan sedikit gagasan rasionalitas tentang bagaimana harusnya menata pemerintahan Kabupaten Gowa dimasa akan datang.

Pola pencitraan moderen, sebagaimana lazimnya teknik marketing politik yang selama ini dipelajari oleh para konsultan politik ataupun manager kampanye seperti ‘teknik card stacking’ ataupun model ‘Plain folks’ menjadi tidak kontekstual diterapkan pada pilkada gowa yang masih sangat kental akan mitologi kepemimpinan.

Kemampuan membaca Tipologi Pemilih

Tipologi pemilih Gowa menurut hemat saya, terbagi menjadi dua bagian. Pertama pemilih yang masih mementingkan mitos individu dari para calon kepala daerah dan yang kedua pemilih yang mulai rasional dalam membaca kondisi pemerintahan daerah. Dari catatan etnografi peneliti yang saya baca, lingkup mitos kepemimpinan tersebut berfokus pada  personal history calon bupati.

Sedangkan, pemilih yang mencoba rasional lebih berfokus pada kemampuan setiap calon dalam merasionalisasikan gambaran pencapaian program dan ide mereka untuk menata pemerintahan yang berhubungan dengan penempatan aktor-aktor birokrasi yang bersih dan jauh dari kesan kolusi jabatan.

Sayangnya, tim sejumlah kandidat, para konsultan politik, dan lembaga survei politik yang terlibat pada arena Gowasetra masih kurang melakukan ekspolarasi atas data etnografis tentang pemilih Gowa. Padahal, dengan memahami tipologi pemilih tersebut merupakan jalan bagi sterategi kampanye yang efektif kandidat mereka.

Apalagi secara geografis, kabupaten Gowa sendiri dalam pola keseharian masyarakat sering dibagi dalam dua tipologi ruang, dataran tinggi dan dataran rendah yang bisa saya artikan antara mereka yang mendewakan berbagai mitos individu dan mereka yang mencoba merasionalisasikan fungsi kepemimpinan dalam tata pemerintahan.

Dari berbagai  eksplorasi survei dan catatan etnografis pilkada Gowa tersebut, saya hanya ingin mengingatkan ‘jarak elektabilitas yang kini masih saling berdekatan antara tiga representasi kekuatan politik yang saling bersaing, lebih disebabkan belum terbangunnya polarisasi, deferensiasi, dan fokus isue kandidat’.

Karena itu, ketajaman kandidat dan keterampilan tim dan konsultan politik yang sedang beradu dalam Perang Gowasetra  untuk mengolah berbagai hal menyangkut diferensiasi personal setiap calon sampai pada sterategi membangun mitos pribadi adalah hal yang tidak boleh di lupakan.

Sekali lagi, menurut hemat saya kisah perang  gowasetra kali ini,  adalah perang mitologi, antara tokoh-tokoh Kurawa, Pandawa, Bhisma, dan juga Srikandi. Dan yang terpenting dan  jangan sampai dilupakan, kemanakah akhirnya Krisna versi Gowasetra akan berpihak ? Mari menantikan episode selanjutnya.


* Tulisan ini sudah dimuat di http://sulsel.pojoksatu.id/read/2015/09/06/analisis-perang-kurusetra-di-pilkada-gowa/



Posting Komentar

0 Komentar