“ Pesan Della Delila, Untuk Om Anies Baswedan”




Saya tak bisa menahan diri, untuk tidak ikut berkomentar soal Della Delila personil JKT48 yang kini jadi trending topik karena ciutanya di twitter tentang arti ‘tut wuri handayani’. Karena menurut saya, kehebohan yang kini dibuat oleh Della justru adalah sebuah momentum yang baik bagi semua pihak, untuk melihat kembali gambaran pondasi dunia pendidikan nasional kita.

Pertama, dalam pandangan saya tidak adil untuk menghukumi adik Della hanya karena tidak bisa bahasa jawa. Tidak mengerti arti Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani ('Di Depan sebagai panutan', 'Di Tengah sebagai pelopor' dan 'Dari belakang berupaya penuh memberi dorongan dan arahan')

Sebagai seorang anak yang lahir dari pasangan guru, sejak kecil saya sudah cukup akrab dengan kalimat Tut Wuri Handayani. Pada baju batik ibu saya yang seorang guru smp, atau disetiap pin emblem kemeja ayah saya yang PNS departemen pendidikan, kalimat tut wuri handayani senantiasa saya temukan.

Bahkan pernah pada suatu ketika, kalau tidak salah sekitar kelas dua  SMP saya begitu penasaran lantas bertanya kepada ibu apa arti tut wuri handayani? Ibu, lalu menjelaskan arti dan maknanya sebagaimana semboyan pendidikan yang diperkenalkan oleh ki hajar dewantara diatas. 

Karena masih  penasaran, lalu saya melanjutkan pertanyaan kepada almarhumah ibu mengapa harus pakai bahasa jawa ?

Ibu saya terdiam sejenak, lalu menjawab  karena Ki Hajar Dewantara menteri pendidikan pertama republik ini, yang meletakkan pondasi pendidikan kita kebetulan juga orang jawa.

Waktu itu, karena masih lugu saya menerima jawaban ibu sebagai sesuatu yang bersifat final. Namun  kini, setelah sekian tahun rasanya saya ingin kembali berdialog dengan almarhumah  ibu.

Saya ingin menjelaskan, bahwa dari pengetahuan yang saya dapatkan ‘bahasa’ bukanlah sesuatu yang bersifat netral. Dibalik sebuah kata, senantiasa tersimpan relasi kekuasaan simbolik, dan bisa jadi merupakan sarana bagi berlangsungnya dominasi dan hegemoni politik tertentu.

Karena pada masa orde baru, seluruh cara kerja mengelola pemerintahan termasuk dalam menjalankan dunia pendidikan memang dibangun diatas frame jawa minded ? Sementara ibu dan bapak saya adalah guru di pulau sulawesi, apa hubunganya setiap pakaian, buku, dan termasuk bahan ajar mereka diberi label tut wuri handayani?

Mengapa tidak menggunakan bahasa persatuan saja, bahasa yang kita mengerti bersama yakni bahasa indonesia. Sekali lagi, tidak adil rasanya menghukumi adik della hanya karena dirinya tidak mampu membedakan arti tut wuri handayani dan semboyan bhineka tunggal ika.

Justru, menjadi tugas om Anies Baswedan menteri pendidikan kita, untuk perlu melahirkan kembali berbagai semboyan pendidikan yang lebih dapat merangkul semangat ke indonesiaan. Karena bukankah yang disebut sebagai indonesia adalah dari sabang sampai merauke, dari miangas sampai pulau rote ?

Pelajaran kedua,  dari peristiwa Della Delila dan tut wuri handayani membuat kita rasanya perlu memahami akan konteks transformasi generasi.Sebagai dosen saya sering sekali menemukan sosok-sosok seperti della. Mereka yang tumbuh dan besar dari kebudayaan net generation yang serba cepat dan instan.

Sebuah generasi yang kehilangan kedalaman namun senantiasa mengkonsumsi kebaruan. Bagi della dan generasi JKT48, ekspresi lebih penting dari esensi. Karena postingan mereka  di twitter mungkin hanyalah ekspresi emosional atau bisa jadi sekedar keisengan dan lintasan pikiran sementara.

Maka jangan berharap, apa yang mereka akan berbicarakan di jejaring sosial adalah hal-hal yang esensial atau dipandang penting oleh generasi sebelumnya. Nah, inilah soal kedua  yang harusnya dijawab oleh dunia pendidikan nasional kita. Bagaimana menyesuaikan gap antar generasi ?

Ketiga, suka tidak suka  della juga adalah produk dari sistim pendidikan nasional kita ? menyalahkan atau membully della sama artinya turut menyalahkan guru, sekolah, yang akhirnya dunia pendidikan nasional kita sendiri, karena saya yakin adik della juga adalah bagian dari sistim tersebut?

Bapak menteri pendidikan, sudah sewajarnya dan seharusnya mulai memikirkan model formulasi pendidikan yang lebih sesuai dalam menghadapi generasi baru seperti della. Sebuah generasi yang lahir dari industri kebudayaan baru yang serba cepat, mereka yang mengkonsumsi informasi setiap waktu.

Tantangannya, memang terletak pada bagaimana menyeimbangkan antara akses akan informasi yang tak terbatas dan upaya menciptakan kedalaman pemahaman. Jangan sampai, apa yang pernah disampaikan Rhenald kasali menjadi kebenaran, bahwa  generasi ini adalah generasi smartphone, dumb people (handphone yang cerdas, orang yang bodoh). Saya yakin adik della tidak bodoh,hanya khilaf ?




Posting Komentar

0 Komentar