'Politisi'


Politisi tidak akan pernah percaya akan ucapannya sendiri. Mereka justru terkejut jika rakyat mempercayainya.
-Charles degaulle-

Beberapa hari lalu, saat di ruang tunggu Bandara Mutiara Sis Aljufri Kota Palu sambil menantikan penerbangan kembali ke Jakarta saya terlibat sebuah renungan panjang. Ini memang kesenangan saya, sesuatu yang saya sebut sebut sebagai ‘jeda kesadaran’. Waktu ketika saya mulai kembali merefleksikan sejumlah aktivitas yang telah saya  lalui.

Momen jeda kesadaran, sering terjadi pada diri saya ketika  dalam perjalanan naik pesawat atau dalam  Bus yang menghabiskan waktu yang panjang. Kali ini pergulatan dialog dengan diri sendiri, dari ruang tunggu dan selama dalam pesawat terbang berpusat pada tiga sosok politisi yang  telah saya kenal cukup lama. 

Ketiga sosok tersebut, bahkan telah saya pandang sebagai kakak sendiri, dimana saya belajar banyak dari mereka bertiga akan berbagai realitas politik lokal.Dua diantaranya, adalah sosok politisi senior di kampung halaman saya, mereka telah matang oleh berbagai  arena pertarungan  politik. 

Beberapa bulan lagi, dua sosok itu kembali akan berlaga dalam dua arena yang berbeda. Sementara sosok yang ketiga, baru saja akan melangkahkan  kaki untuk terjun dalam arena politik praktis yakni menjadi calon bupati disebuah kabupaten pemekaran yang dahulu diperjuangkannya.

Saya mencoba merenung tentang ketiga sosok tersebut, menyusun persamaan dan perbedaan diantara mereka. Sampai akhirnya, saya menemukan satu kesimpulan tentang kesamaan masing-masing. 
Bahwa ketiganya, sama-sama meyakini bahwa dengan menjadi politisi maka ‘jalan membentuk sejarah besar tentang kehidupan mereka akan terbuka lebar'. Sesuatu yang mengingatkan saya, pada ungkapan seorang seniman terkenal  jepang Tatsumi Hijikata; ‘Dalam tubuh kita, sejarah berbunyi’.

Namun sebenarnya, perbedaan diantara mereka lebih banyak dibandingkan persamaannya. Dalam renungan saya, sosok kakak pertama adalah politisi layaknya seorang Napoleon Bonaparte yang pemimpi, pemimpin, sekaligus pembeli harapan’. Setiap hari mimpinya bertambah, gagasannya mengalir, dan oleh karena itu dirinya mampu membeli harapan rakyat yang begitu banyak . 

Beberapa mimpi dan gagasanya menjadi nyata, namun banyak pula yang hanya berakhir menjadi harapan dan sekedar mimpi. Lalu oleh waktu harapan-harapan tersebut menguap dan terlupa olehnya, demikian pula oleh pemilih yang dahulu memilihnya. Karena  memang terkadang ingatan pemilih akan janji-janji politik saat masa kampanye begitu pendek.

Sosok kakak kedua, adalah seorang politisi berkepala dingin  yang tindak tanduknya mengingatkan saya pada apa yang di ungkapkan oleh Oscar Ameringer ; ‘politik adalah seni halus mendapatkan suara orang miskin dan mendapatkan dana kampanye dari orang kaya, dengan menjanjikan melindungi satu sama lain.

Karakter politisi kedua ini, memang senantiasa percaya akan harmoni, keseimbangan, dan mampu memanfaatkan setiap celah untuk keluar dari  kesulitan. Karena itulah, dirinya selalu memiliki cara tak terduga untuk tetap bertahan di arena politik lokal yang terkadang begitu kasar dan keras untuk orang setenang dirinya.

Sementara sosok ketiga, bukanlah sebagaimana  layaknya diktum umum sosok seorang ‘politisi’ seperti yang diungkapkan oleh charles de gaulle ; Politisi tidak akan pernah percaya akan ucapannya sendiri. Mereka justru terkejut jika rakyat mempercayainya! Karena sosok ketiga, selalu berusaha untuk percaya ucapanya adalah beban yang harus diselesaikan, oleh sebab itu beliau menolak memikul beban yang dalam pandanganya  tak mampu dijalankan.

Sosok ketiga, mengigatkan saya pada ungkapan sosok Joseph schumpeter mantan menteri keuangan austria yang  juga seorang ekonom dan sekaligus ilmuwan politik. Salah satu pandangan schumpter yang terkenal tentang tugas seorang  politisi ; ‘tugas seorang politisi sebenarnya melaksanakan kehendak rakyat’. 

Namun, sebagaimana lanjutan pandangan Schumpeter tentang menjadi politisi, dan saya berharap hal ini tidak terjadi pada dirinya; ‘namun pada akhirnya politisi justru mementingkan dirinya sendiri’! Karena terkadang, semangat yang terlalu berlebihan bagi cita-cita politik akan berakhir dengan kecewa oleh situasi politik yang penuh transaksi, dan akhirnya membuat politisi lupa akan cita-citanya dan memilih mengamankan diri sendiri.

Politisi antara Kesadaran dan Kegilaan

Menjadi politisi yang  hidup di alam politik seperti indonesia, akan menjadikan seseorang berada pada dua tepian mental yakni ‘kesadaran dan kegilaan’. Mental kesadaran, adalah situasi  dimana politisi tersebut harus  meyakini bahwa mereka mesti berkontribusi bagi cita-cita ideal negara, yakni mewujudkan kesejahteraan rakyat secara luas.

Namun, pada sisi yang lain seorang politisi di negeri ini dalam alam realitas terkadang di paksa  harus pula memiliki prilaku abnormal agar dapat di pilih. Saya sering melihat, bagaimana seorang politisi baik secara sukarela, maupun terpaksa, menjanjikan dan melakukan hal-hal yang berada jauh diluar kewenangan dan batas kemampuan wajar mereka. 

Misalnya saja, bagaimana mungkin seorang yang masih berstatus calon bupati yang belum memiliki kewenangan atas anggaran pemerintahan, dipaksa membiyai pembangunan jembatan, memperbaiki jalan yang rusak puluhan kilo meter, sampai pembenahan puluhan rumah ibadah sementara mereka masih berstatus sebagai calon dan sebelumnya bukan kandidat petahana.

Tak hanya itu, dengan mata kepala saya sendiri melihat bagaimana tekanan psikologis seorang calon kepala daerah yang memiliki program dan niat yang baik, mesti berhadapan dengan lawan politik yang menjadi populer hanya karena mengandalkan program ‘bagi-bagi uang’ tanpa gagasan dan visi apapun bagi pemerintahan yang kelak akan dijalankan.

Inilah situasi paradoks yang senantiasa dihadapi oleh para politisi yang memiliki kesadaran. Mereka selalu diperhadapkan pada situasi dilematis, antara mengandalkan pikiran sehat atau mengikuti kegilaan situasi politik. Karena terkadang psikologi massa politik, tidak senang mendengarkan hal-hal yang rasional dan terukur.

Para politisi, oleh ‘massa politik’ senantiasa dipaksa untuk membuat sejumlah janji yang tak rasional, tak terjangkau, lalu diminta melakukan serangkaian tindakan abnormal seperti sogokan dan membeli suara. Sementara itu, oleh massa yang meminta sogokan itu,mereka diharapkan kelak untuk tidak melakukan korupsi ?

Inilah  realitas politik yang  secara nyata dihadapi oleh banyak politisi,  lalu pada akhirnya membuat mereka sendiri harus percaya pada kebohongan yang mereka ciptakan. Sesuatu yang membuat tujuan dan niat awal mereka masuk ke dunia politik dan memilih jalan menjadi politisi sebagai upaya meninggalkan jejak sejarah yang besar bagi kebaikan rakyat secara luas,  justru melenceng jauh dan bahkan berakhir tragis. 

Diakhir renungan saya, di ujung penerbangan palu-jakarta saya mengirimkan doa kepada ketiga orang tersebut, semoga tiga sosok politisi yang sudah saya pandang sebagai kakak tersebut tidak terjebak oleh ‘kegilaan politik’.  Dan semoga pula, mereka tetap percaya bahwa janji seorang politisi harusnya adalah sumpah untuk mewakafkan dirinya bagi upaya mewujudkan kebaikan yang luas ditengah rakyat, bukan percaya akan kebohongan.





















Posting Komentar

0 Komentar