Belajar dan Jose Mourinho






Saya sangat menyenangi Jose Mourinho. Mengapa? karena pria kelahiran Portugal  yang dijuluki "sang istimewa" (The Special One) memang punya segudang prestasi. Sebagai seorang pelatih sepak bola, berbagai gelar pernah diberikannya kepada klub-klub yang dilatihnya.

Selain piawai dalam meracik tim, Mourinho juga dikenal sebagai pelatih dengan kepribadian yang kuat dan mampu menanamkan mental juara di setiap tim yang ditangani. Meski strateginya acapkali dikritik karena memainkan sepak bola negatif, dia adalah jaminan prestasi yang pasti.

Tidak jarang Mourinho disebut " pelatih spesialis piala " karena tim-tim besutannya acap kali tampil menjadi juara. Tengoklah apa yang dilakukanya saat ia melatih Inter Milan, di klub tersebut Mourinho berhasil meraih treble winners, demikian pula saat memegang Porto dan Chelsea,  Mourinho mengantarkan gelar Liga Champions dan Piala UEFA bagi kedua klub tersebut.

Namun, bukan hanya soal kemenangan dan trofi yang membuat saya kagum kepada The Special One. Justru saya senang akan sisi berbeda yang dimilikinya yakni pancaran keperibadian yang kuat. Saya  menyaksikan lewat layar kaca, bagaimana sikap Mourinho ketika intermilan untuk pertama kalinya  meraih Treble Winners.

Setelah menaklukan Bayern 2–0  yang mengantarkan inter menjadi juara Liga Champions pada tahun 2010, saat semua pendukung intermilan, pemain, official berpesta kemenangan Jose justru hanya tersenyum biasa saja, tanpa sikap yang berlebihan, bahkan tak lama setelah itu dirinya memilih pindah ke  Real Madrid mencari tantangan baru.

Demikian pula saat nasib buruk datang menimpa anak asuh The Special One, beberapa kali saya menyaksikan sikapnya tidak berlebihan ketika mengalami kekalahan,  dirinya segera merangkul dan memberikan mereka semangat bahwa mereka telah berbuat yang terbaik.

Belajar dari The Special One

Sepak bola dan politik menurut hemat saya adalah sama. Keduanya, membutuhkan sterategi yang matang, kemampuan managemen tim yang baik, serta semangat yang besar,  namun pada akhirnya setiap orang yang terjun didalamnya harus menyadari keberpihakan takdirlah yang menentukan.

Kadang semua hal terbaik sudah kita lakukan, upaya dan daya telah dikerahkan namun ada “ The Luck Factor” yang memang sangat menentukan.Saya adalah orang yang sangat percaya bahwa ilmu pengetahuan adalah cara terbaik bagi kita untuk melihat masa lalu dan meneropong masa depan, namun ilmu pengetahuan juga memiliki sisi keterbatasan sehinga dalam matematika dikenal bilangan tak terhingga dan statistik hanyalah alat mengukur probabilitas (kemungkinan sebuah kejadian).

Tugas ilmu pengetahuan adalah upaya memperkecil kesalahan yang ada dan merangkum kemungkinan yang akan terjadi, diluar faktor tersebut takdirlah yang menjadi penentunya. Soal ini, sering sekali saya ungkapkan kepada adik-adik di lembaga kami; bahwa ketika kita sudah melakukan hal yang terbaik dari batas kemampuan yang dimiliki, pasrahkanlah hasilnya pada Tuhan.

Saya belajar hal tersebut dari dua orang, sosok pertama dari guru saya dan kedua dari prilaku Mourinho yang senantiasa memandang kemenangan sebagai hal yang biasa dan kekalahan juga hal yang biasa. Selama kita sudah berusaha menyajikan kepada penonton hal yang terbaik yang bisa kita lakukan, sambutlah hasilnya dengan lapang dada karena pertandingan lain masih ada dan kehidupan masih harus terus berlanjut ? Mari belajar dari Jose Mourinho!



Posting Komentar

0 Komentar