‘Bung Tony’ (Catatan Pojok, Merayakan Kekalahan)


Mulhanan Tombolotutu sumber ;https://www.flickr.com/photos/mulhanan/

Jika diminta menyebutkan siapa salah satu politisi yang  saya hormati, dengan mudah saya akan menjawab Mulhanan Tombolotutu atau yang lebih akrab disapa oleh warga kota palu dengan panggilan Bung Tony. Mengapa ? Ada satu alasan, dimana saya harus memberikan penghormatan khusus kepada beliau.

Diantara sejumlah politisi yang pernah saya kenal, Bung Tony adalah sedikit dari politisi yang mampu merayakan dua hal sekaligus ‘yakni merayakan kemenangan dan kekalahan’. Bung Tony, selalu  siap berada di dua kondisi yang harusnya menjadi komitmen dan ikrar setiap pasangan calon yang terlibat kontestasi pilkada, yakni siap kalah dan siap menang!

Saya masih ingat betul, ketika itu di pertengahan tahun 2010, saat hasil real quick count menunjukan dirinya bersama Rusdy Mastura dinyatakan memenangkan kontestasi pilkada kota palu, tak ada ekspresi berlebihan ditunjukkanya, saat semua orang yang hadir bersorak, berteriak kegirangan, beliau justru dengan tenang berbisik di telinga saya; ‘Dek, jabatan ini amanah, semoga kemenangan ini tidak membuat kita lupa diri. Tak perlu ada dendam untuk pihak lawan, tak perlu pula kita berpesta merayakan kemenangan diatas kekalahan orang lain, apalagi harus menghabisi karir dan potensi orang-orang dari pihak yang berseberangan selama pilkada, karena kemenangan ini adalah kemenangan untuk semua’.

Demikian pula baru-baru ini, ketika lewat jejaring sosial saya mendapatkan kabar bahwa beliau kalah dalam pertarungan pilkada Kota Palu. Segera saya mengkonfirmasi berita tersebut, lewat pesan singkat yang pada intinya mempertanyakan kebenaran kabar yang saya baca di media sosial.

Dengan tenang, tanpa jawaban ekspresi kesedihan, kepedihan, dramatisasi atau mencari pembenaran mengapa akhirnya kalah, beliau membalas pesan singkat saya lewat Whatsapp; ‘Mad, kekalahan ataupun kemenangan adalah ketetapanNya, kita sudah bekerja sebaik dan sebisa yang kita mampu. Kini, Tuhan sedang memilihkan jalan yang berbeda bagi kehidupan saya selanjutnya. Karena kekalahan sekalipun, harus dirayakan dengan bahagia, mungkin inilah yang terbaik bagi sisa hidup yang kita miliki, mari tetap bersyukur dan yakin ini jalan terbaik dari Takdir yang dipilihkan olehNya’.

Terus terang, sebagai manusia biasa pada awalnya batin saya bergejolak mendapatkan jawaban yang begitu pasrah. Dalam hati saya sulit menerima alasan yang diberikannya. Apalagi sebagai kandidat petahana, harusnya beliau bersama tim mampu memperoleh hasil yang lebih maksimal.

Namun setelah saya pikir kembali, mungkin demikianlah cara Bung Tony merayakan kekalahan? Yakni dengan mengembalikan segalanya kepada ketetapanNya, bahwa Tuhan tidak pernah salah dalam menentukan garis dan jalan hidup setiap hambanya.

Mungkin pula, bagi Bung Tony kekuasaan hanyalah amanah yang jika kita diberikan maka harus dijalankan dengan sebaik-baiknya, namun ketika amanah itu dicabut, maka mari menyambutnya dengan suka cita, karena Tuhan sedang mengurangkan beban yang harus dipikul.

Mata saya basah, ketika mulai mengurai kembali pelajaran berharga dari Bung Tony tersebut.  Sebuah pelajaran tentang melepaskan kesombongan dan ke-Aku-an akan kemenangan, sekaligus pelajaran menerima kekalahan dengan lapang dada tanpa amarah, pertikaian, dan sengketa.

Jika semua calon kepala daerah berpikir dan berbuat seperti Bung Tony, tentu alangkah majunya negeri ini. Karena betapa ruginya, energi anak bangsa dihabiskan hanya sekedar berkonflik untuk sebuah jabatan, mempertahankan ‘ego kebenaran’ kelompok, apalagi sekedar menunjukan kekuasaan dengan cara kekerasan.

Bukankah bangsa ini memilih jalan demokrasi, agar kekuasan tidak lagi direbut dengan cara peperangan layaknya masa kerajaan? Dan bukankah kita, sebagai orang yang katanya ber-Tuhan selalu percaya, bahwa Tuhan tak pernah salah dengan ketetapanNya?

Terima kasih, Bung Tony!


Posting Komentar

0 Komentar