‘Fahri Hamzah; Dilema Gunung Es PKS’



Politisi mana yang  tak kenal Fahri Hamzah ? Dengan usia yang terbilang masih sangat muda, pria kelahiran 10 oktober 1971 ini sudah beberapa priode duduk sebagai anggota DPRRI. Bahkan sejak tahun lalu di saat umurnya yang baru 44 tahun, Fahri telah mencapai  anak tangga yang hampir puncak bagi seorang politisi, yakni menjadi Wakil ketua DPR-RI.

Saya sendiri mengenal bang Fahri sejak masih kuliah, walau mungkin dia tidak mengenal saya. Perjumpaan kami ketika itu, saat saya mengikuti Daurah Marhalah III (DM 3) Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Pada jenjang DM 3, bagi seorang kader KAMMI itu merupakan puncak kaderisasi untuk menjadi apa yang disebut oleh bang fahri ketika itu, kader politik nasional!

Saya masih mengingat jelas, bagaimana gaya bicara Fahri Hamzah yang mantan ketua KAMMI Pusat ketika membawakan materi. Suaranya menggelegar, intonasinya naik turun penuh gemuruh. Pilihan kata-katanya, penuh dengan semangat yang membakar, yang menandakan dirinya memang seorang aktivis gerakan.

Ketika saya selesai kuliah dan sudah  tidak aktif lagi di KAMMI, saya sering melihat Fahri Hamzah di layar kaca mapun membaca beritanya dikoran ataupun media online. Menurut saya, gaya komunikasinya memang tak juga berubah tetap lugas dan terkadang nampak begitu emosional dalam memberikan pernyataan.

Inilah yang mungkin membuat banyak lawan-lawan politiknya, ataupun publik yang tidak terlalu mengenal kurang menyenangi fahri hamzah. Di media sosial, fahri hamzah juga kerap mendapatkan serangan dari netizen. Apalagi pada masa pemilihan presiden dan pasca pilpres,  dimana fahri hamzah terus menyerang Jokowi secara terbuka yang berbuah banyak kecamanan bagi dirinya.Salah satu yang menurut saya yang begitu kejam yakni kemunculan  meme ‘mulut anjing berwajah fahri hamzah’.



Fahri Hamzah dilema Gunung Es PKS

Terlepas dari persoalan gaya komunikasi fahri yang memang menurut saya kurang sesuai dengan pakem komunikasi politik di indonesia yang sangat dipengaruhi oleh ‘politik jawa’ ,saya justru tertarik untuk melihat sisi berbeda ketika kini fahri hamzah kini mendapatkan serangan dari dalam tubuh partainya sendiri.

Ada apa dengan Fahri Hamzah, sehingga PKS hendak menjatuhkanya dari posisi sebagai wakil ketua DPR ? Mengapa fahri hamzah yang dikenal selama ini menjadi bumper bagi banyak kebijakan dilematis PKS justru seolah hendak disingkirkan oleh internal partai ?

Sebagai orang yang pernah bersentuhan dengan partai berlambang dua bulan sabit emas dan padi tersebut, menurut hemat saya apa yang terjadi atas diri Fahri hamzah adalah bagian dari puncak gunung Es persoalan PKS. Ada tiga penjelasan jika kita menggunakan Es (Iceberg Theory) yang merupakan instrument yang bisa digunakan untuk mengurai persoalan munculnya isu pelengseran fahri hamzah.


Pertama, untuk membedah persoalan Fahri Hamzah dan PKS saat ini bisa kita lihat dari sisi  nilai dasar yang menjadi  masalah fundamental PKS. Didalam tubuh PKS, ketaatan kepada pimpinan atau yang bisa disebut sebagai prinsip qiyadah wal jundiyah (ketaatan kepada pemimpin) begitu dominan. Pertanyaanya siapakah qiyadah sebenarnya dalam PKS?

Dalam tubuh PKS, qiyadah (pemimpin) tidaklah direpresentasikan oleh ketua umum maupun struktur resmi partai namun ada kendali diluar struktur resmi yang begitu dominan dalam mengambil keputusan partai. Kendali itulah yang dahulu selalu saya sebut ‘perintah dari orang-orang dibalik tirai’.

Sebagaimana diketahui, PKS sebagai sebuah partai dalam melakukan rekrutmen kader-kadernya mayoritas bersumber dari kampus. Nah, darah segar kader-kader PKS dari kampus terbagi atas dua poros yakni Lembaga Dakwah Kampus (LDK) dan kedua yakni dari KAMMI.

Biasanya mereka  yang lahir dari rekrutmen LDK kemudian masuk dalam tubuh partai cenderung megedepankan karakter PKS sebagai sebuah gerakan dakwah dan murni tarbiyah, dimana ketaatan kepada taklimat (arahan/perintah) dari orang-orang dibalik tirai tadi sangat kuat.

Corak ini sangat berbeda dengan mereka yang masuk ketubuh partai dengan pendekatan gerakan yang bersumber dari KAMMI atau dalam bahasa kader jamaah PKS sebagai kader harakah (gerakan), dimana Fahri Hamzah menjadi bagian penting sebagai simbol kader gerakan tersebut.

Kader gerakan yang kemudian masuk ke jaringan PKS yang melalui jalur KAMMI biasanya cenderung memperdebatkan banyak hal, dan sering dipandang kurang patuh terhadap keputusan para  qiyadah dibalik tirai. Hal ini, terkesan wajar bagi saya karena kader-kader gerakan tersebut sering berhadapan dan berinteraksi dengan berbagai elemen gerakan yang cenderung lebih cair dan dinamis.

Bagi orang-orang yang setia dalam tubuh PKS pasti akan berpandangan dua hal tersebut tidak bisa dipisahkan, bahkan mereka akan berargumen  antara harakah dan gerakan dakwah  adalah dua hal yang satu padu. Namun menurut saya disinilah persoalanya. Tidak semua kader harakah seperti fahri hamzah bisa dengan mudah dikendalikan oleh perintah para murabbi (guru), para ustadz, yang berada dibalik ‘tirai politik PKS’.

Inilah yang menyebabkan  dalam PKS, tradisi dialog, diskusi, perdebatan sebelum mengambil keputusan terkadang menjadi sangat tabu. Karena semuanya dikendalikan oleh para ‘ustadz yang ada dibalik tirai’ yang terkadang bagi banyak kader PKS tak pernah tau, bagaimana cara serta dasar dalam mengambil sebuah keputusan bagi jamaah maupun partai.

Kedua, karena tidak terbukanya ruang dialog didalam tubuh PKS,  dimana adanya doktrin keharusan untuk taat dan Tsiqoh (mengikuti) segala keputusan qiyadah tanpa mempertanyakan apalagi memperdebatkanya, telah menyebabkan ruang komunikasi antar qiyadah wal jundiyah (pemimpin dan pasukan) sulit berlangsug.

Secara aktual jika dilihat, muara utama dari upaya pelengseran fahri hamzah sebenarnya berasal dari adanya pertemuan sejumlah petinggi PKS dengan presiden Jokowidodo beberapa waktu yang lalu. Fahri hamzah mungkin dipandang, sebagai kerikil yang menghambat bagi mulusnya keinginan sejumlah qiyadah PKS untuk segera dapat merapat pada kekuasaan.


Faktor inilah yang menurut saya menyebabkan fahri harus ditarik ke bangku cadangan oleh para pemimpin dibalik tirai, karena dipandang terlalu setia pada Koalisi Merah Putih (KMP) yang sudah hampir bubar,  termasuk sikap Fahri Hamzah yang terkesan terus membela Setya Novanto. Sementara ruang dialog, dibalik keputusan para qiyadah tidak dapat dimengerti dan tentu saja tidak dapat diperdebatkan oleh Fahri Hamzah.

Ketiga, sebagai sebuah partai kader yang mengedepankan institusi diatas individu. PKS senantiasa berusaha menghindari kehadiran dominasi patron pada sosok personal. Oleh sebab itu, tidak heran jika kita tidak melihat lahirnya sosok kader PKS yang menonjol, semuanya berlalu seperti angin.

Karena itulah, ketika Fahri Hamzah mulai bergerak dengan nalarnya sendiri, dengan sikapnya sebagai seorang aktivis gerakan yang mempunyai cara berpikir sendiri tentang langkah politik yang terbaik, maka pada saat yang sama para pengendali ‘dibalik tirai’ segera bertindak, mungkin akhirnya Fahri Hamzah berlalu seperi angin?

  

Posting Komentar

0 Komentar