Makassar Connection : Uang, Kuasa,dan Perempuan ?



sumber foto : http://kppnmakassar2.net/aplikasi/ 

Siapa yang tak kenal kota Makassar ? Kota yang dalam banyak literatur sejarah, telah disebutkan jauh-jauh hari bahkan sejak Kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca ditulis di era kerajaan Majapahit dari abad ke 14. Para sejarawan juga percaya, Makassar pada abad ke 16 bahkan telah membangun hubungan dengan berbagai pihak  untuk kegiatan pelayaran dan perdagangan antarpulau di Nusantara.

Sejak abad itu pula,  Makassar sudah menjadi bandar perdagangan yang penting dan memiliki relasi dengan pedagang di berbagai wilayah, dari Malaka, Johor, Pahang, Patani, serta terhubung dengan  jaringan perdagangan jalur sutera yang melintasi dunia niaga Asia dan Eropa.

Dari latar sejarah tersebut, maka tak heran Makassar banyak melahirkan para saudagar. Tak sulit untuk membuktikan bagaimana ‘kehadiran saudagar asal Bugis- Makassar’, diberbagai belahan wilayah di Nusantara. Kalau kata mertua saya, “Cukup ke pasar atau pelabuhan kamu akan bertemu orang Bugis-Makassar!

Pasar dan pelabuhan, memang dua tempat yang identik dengan uang. Pasar dalam rumusan klasik ekonomi mengambarkan tempat bertemunya para pembeli dan penjual dan disana sudah pasti ada uang. Demikian pula pelabuhan, adalah tempat aktivitas bagi perpindahan barang dan manusia yang pasti memiliki nilai ekonomi besar.

Makassar Connection dan Relasi akan Uang



Kini, transformasi Makassar connection memang bukan hanya seputar pasar dan pelabuhan. Para saudagar Makassar telah menjelajahi berbagai pasar bisnis lainya. Untuk membangun relasi yang lebih kuat, setiap tahun para saudagar Bugis-Makassar memiliki ajang untuk bekumpul yang bernama Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM).

Pada tahun 2015 saja, menurut sejumlah laporan media para saudagar yang hadir tidak kurang 1500 orang dengan beragam jenis usaha dan bisnis dari dalam dan luar negeri.  Melalui Forum-forum seperti PSBM para saudagar keturunan Bugis- Makassar ini saling berjejaring dalam membangun relasi bisnis.Tak jarang dari pertemuan tersebut, mereka bahkan membuat usaha bersama dan saling menopang antara satu dan lainya, memperkuat dan memperluas kekuasaan bisnis Makassar connection. 

Makassar Connection dan Naluri akan kekuasaan

Selain Chinatown atau sering disebut kawasan Pecinan maka hampir pasti disetiap tempat di Indonesia kita akan menemukan ‘kampung Makassar/Bugis’. Selain untuk alasan membangun kerekatan sesama perantau, dalam banyak tempat saya sering menemukan dibalik hal tersebut tersimpan motif politik.




Dimana dari kampung-kampung tersebut, para perantau asal Bugis-Makassar membangun kekuatan politik bahkan posisi politik. Karena jumlahnya dari tahun ketahun terus bertambah maka kekuaatan politik mereka juga semakin kuat. Selain itu, relasi akan kuasa ini bisa terlihat melalui Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KK-SS) dari sana warga Sulawesi Selatan dari beragam profesi bertemu dan lalu akhirnya membangun kekuatan politik di tempat dimana mereka tinggal.

Sebuah pepatah lama menjadi perekat para perantau asal Bugis-Makassar, dimana langit dijunjung disitu bumi dipijak. Kalau saya sering menambahkannya, dimana bumi dipijak disitu ada KK-SS, disana pula akan ada pijakan kekuasaaan.


Selain lewat KK-SS, sumber basis politik  Makassar connection dalam skala nasional juga terbangun oleh hubungan kampus. Sejumlah lembaga alumni universitas asal Makassar semakin memperkuat relasi tersebut, maka tak heran hampir disemua posisi sterategis pemerintahan pasti terdapat satu atau dua alumni asal Makassar.

Tengoklah dari wakil presiden, sampai pimpinan berbagai lembaga tinggi negara pasti terdapat orang Bugis- Makassar atau alumni Makassar. Ibarat sebuah sarang laba-laba, koloni Bugis- Makassar berkumpul lalu membuat sarangnya masing-masing. Siapa yang berada dipuncak akan membuat sarang baru demikian seterusnya.

Apalagi untuk posisi partai politik, jangan tanya berapa banyak Makassar connection berkuasa. Hampir disetiap partai dengan posisi sterategis terdapat jaringan Makassar connection!

Perempuan

Salah satu model klasik negosiasi para perantau bugis Makassar dalam memperluas jaringan adalah melalui pernikahan. Maka tak heran para perantau asal Bugis-Makassar dapat dengan mudah diterima di banyak tempat dan menjadi bagian dari struktur masyarakat setempat, karena politik pernikahan adalah cara yang paling efektif untuk melakukan politik asimilasi.

Sejak dahulu, para perantau Bugis Makassar begitu mahfum bagaimana mempraktekan politik asimilasi tersebut. Karena dari pernikahan tersebut, mereka dapat mulai membangun relasi bisnis ditempat mereka tinggal dan dari sana tentu saja kekuasaan dapat diraih.

Selain itu, apalagi yang dicari  setelah uang, kekuasaan didapatkan? maka sudah tentu adalah perempuan! Seperti diktum lama yang selalu berulang, harta, tahta dan wanita. 


Soal perempuan ini terkadang bisa menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat untuk menopang simbolitas kuasa Makassar connection atas sumber daya dan uang, namun terkadang persoalan perempuan juga membawa bencana seperti jatuhnya mereka yang pernah menjadi bagian dari kebanggaan Makassar connection!

Posting Komentar

0 Komentar