Dramaturgi Pilkada Sulteng 2015 ; ‘Tak Ada Kawan yang Abadi’


Tulisan ini telah dimuat di harian Metro Sulawesi (selasa/16 februari 2016)

Politik memang tidak mengenal istilah kawan, saudara, atau musuh yang abadi. Karena politik mungkin hanya mengenal satu rumus, yakni ‘kepentingan’. Sebesar apapun usaha saya melakukan perlawanan untuk membantah adagium klasik dunia politik tersebut, semakin pula saya terhempas akan kebenarannya.

Fenomena terbaru, yang membuktikan kebenaran mantra kutukan dunia politik tersebut, adalah arena pemilihan gubernur sulawesi tengah. Banyak dari rakyat sulawesi tengah sebenarnya mahfum, dua calon yang akhirnya maju dalam pertarungan perebutan kursi gubernur sulawesi tengah, memiliki hubungan persahabatan yang begitu dekat.

Rusdy Mastura dan Longki Djanggola, dua nama yang dahulu dikenal selalu saling menopang dan berjalan beriringan dalam menapaki anak tangga kekuasaan. Bahkan, ketika akhirnya KPU hanya menetapkan dua pasangan kontestan calon gubernur, sempat muncul keraguan sejumlah pihak.

Apakah mereka benar-benar akan bertarung ? Ataukah, pertarungan gubernur hanyalah sebuah panggung sandiwara untuk menggenapkan calon? Begitulah tanya yang sering di tanyakan kepada saya, karena mungkin dipandang cukup  mengenal keduanya. Sampai  akhirnya, tanya itu terjawab sendiri ketika tensi politik selama masa kampanye semakin panas, bahkan pasca pemilihan gubernur proses tersebut tidak berhenti dan berlanjut ke arena mahkamah konstitusi.

Banyak dari kita lalu tersadar, akan ungkapan seorang dramawan dari irland, Sean o’Casey; ‘saya tidak tahu mengapa, tapi politik tampaknya memiliki kecenderungan memecah belah kita, memisahkan kita satu sama lain, sementara alam selalu berusaha menyatukan kita bersama-sama’.

Dramaturgi Ketika tak ada Kawan yang Abadi
 
Dokumentasi IDEC 2010 
Untuk membaca apa yang terjadi dibalik arena pemilihan gubernur sulawesi tengah, tak ada yang lebih baik selain menggunakan teori  ‘dramaturgi’ Erving Goffman. Sosiolog kelahiran Mannville, Alberta, Canada tersebut dalam teorinya berkeyakinan bahwa kehidupan sosial ibarat serentetan pertunjukan drama dalam sebuah pentas.

Goffman, lalu memberikan penjelasannya tentang dramaturgi. Menurutnya dalam kehidupan ini setiap orang memainkan dua ruang. Yakni bagian depan (front) dan bagian belakang (back). Front mencakup, settingpersonal front (penampilan diri), dan expressive equipment (peralatan untuk mengekspresikan diri).

Sedangkan bagian belakang adalah the self, yaitu semua kegiatan yang tersembunyi untuk melengkapi keberhasilan penampilan diri yang ada padaFront. Ketika melihat panggung depan, tentu saja sebagai rakyat dengan mudah kita menyaksikan pemilihan gubernur sulawesi tengah menyajikan dua personal front aktor, yang memiliki perbedaan yang sangat tajam.

Sosok Longki Djanggola yang merupakan gubernur petahana, merepresentasikan diri sebagai  penguasa adalah kesan yang tak bisa disangkal. Lahir dari trah darah biru, membuat expressive equipment, longki dengan daya pikat sebagai pemimpin kharismatis begitu menonjol.

Pada sisi yang berbeda, Rusdy Mastura adalah sosok yang jauh dari kesan elit walau sepuluh tahun berkuasa sebagai seorang walikota palu. Rusdy mastura, atau sering dipanggil akrab dengan sebutan cudi, adalah sosok yang merepresentasikan bagian dari rakyat kebanyakan.

Tapi disinilah daya magis seorang cudi, kemampuanya berbaur dengan rakyat biasa dan selalu tampil dengan berbagai ide yang luar biasa, membuatnya disenangi oleh banyak kalangan. Sejak awal, sebenarnya saya melihat arena front stage dua sosok tersebut sangat ideal untuk bersatu dan menjadi komposisi kepemimpinan yang tak tertandingi.

Apalagi, keduanya memiliki hubungan perkawanan yang begitu dekat. Namun, memang soalnya bukan pada dunia panggung depan atau front stage. Titik soalnya,  ada pada panggung belakang  atau backstage dari masing-masing sosok tersebut. Ruang yang dalam  penjelasan Sigmund Freud disebutkan sebagai ‘super ego’,  dimana setiap manusia memiliki standar internalisasi moral masing-masing dalam memberikan penilaian tentang baik buruk, ataupun kecocokan kepribadian.

Inilah ruang yang saya sering sebutkan sebagai ‘pagar api’ , yang membuat siapapun sulit untuk menembusnya, karena bukankah matahari tidak pernah berwajah dua dan bulan adalah bintang yang ingin selalu terang sendirian? Karena itulah, politik tidak mengenal kawan dan lawan, karena setiap orang memiliki super ego masing-masing.

Memiliki sisi Positif

Dibalik sebuah peristiwa, pasti tersimpan banyak pelajaran berharga. Pertarungan laga pemilihan gubernur sulawesi tengah yang baru saja usai, menurut saya juga memiliki sisi positif. Yakni, memberikan kesempatan bagi munculnya regenerasi politik baru di sulawesi tengah yang begitu lama dilanda ‘hibernasi politik’.

Pada panggung pemilihan gubernur yang akan datang, sudah hampir dipastikan era generasi Longki Djanggola dan Rusdy Mastura akan berakhir. Panggung politik sulawesi tengah akan diwarnai oleh mereka yang memiliki usia yang lebih muda dan jauh lebih produktif, serta tentu saja telah belajar banyak dari arena pemilihan gubernur sulawesi tengah yang baru saja usai.

Sesuatu, yang menyajikan harapan baru bagi rakyat sulawesi tengah, ditengah kemandekan dan hegemoni aktor kepemimpinan politik lokal disulawesi tengah yang selama ini berputar pada lingkaran aktor-aktor politik yang selalu sama. Sesuatu yang menjadi alasan mengapa daerah ini selalu terlambat.

Karena bukankah, perubahan selalu bermula dari pemimpinnya?
 Tabe, salandoa kita pura!



Posting Komentar

0 Komentar