Atta halilintar, Nadiem Makarim dan keluarga kami





Selepas hajatan kecil-kecilan ulang tahun ke-9 putra saya Ali Ridha kemarin, perbincangan panjang di sepertiga malam terjadi antara saya dan istri.

Pa, apa yang berbeda dengan ulang tahun Ali kali ini? Tanya Endang membuka percakapan dengan mata yang masih menyala. Padahal, jam sudah menunjukkan hampir pukul dua dini hari.

Banyak, misal Ali tidak mau lagi hadiah ulang tahun kostum superhero ala Marvel atau DC. Justru minta jaket hoodie ala Atta Halilintar. Jawab saya yang sebetulnya, hendak segera tidur dan rasanya tidak terlalu kuat lagi, melayani diskusi tengah malam seperti ini.

“Atta Halilintar dan Nadiem Makarim memang adalah candu generasi Ali”. Kali ini, suara perempuan yang saya nikahi lebih dari 10 tahun lalu itu terdengar tegas.Bola mata mulai berputar, tanda dia sedang berpikir keras.

Maksud Mama?

Saya yang kini justru balik bertanya, rasa penasaran kemana arah perbincangan istri saya itu, membuat saya beranjak dari kasur ke kursi dan meja tulis, tempat saya sering menumpahkan ide kala sedang bertapa di kamar tidur.

Jadi begini, coba papa bayangkan bagaimana Atta Halilintar dan Nadiem masuk dalam kehidupan keluarga kita. Pertama, Atta telah menjadi idola baru bagi Ali. Padahal sebelum itu, dia bermimpi menjadi Jess No Limit yang seorang gamer, kini anak kita, mengidolakan seorang Youtuber.

Kedua soal Nadiem, beberapa hari lalu Ali menonton pidato Menteri Pendidikan milenial itu soal penghapusan ujian. Lalu, Ali bilang kepada saya, mama saya tidak mau lagi belajar karena ujian sudah di hapus.

Rasa haus langsung menyergap saya.  Segelas air putih di meja tulis itu segera habis dalam hitungan detik. Kantuk saya hilang, saya mulai benar-benar tertarik meladeni diskusi tentang generasi di subuh yang hampir pagi itu.

Jadi begini Ma, generasi Ali dan generasi kita berbeda. Generasi kita, tumbuh besar oleh cerita boneka Suzan dan Ria Enez yang kalau ditanya, besar mau jadi apa? Pasti akan menjawab jadi dokter, guru, insinyur, polisi atau tentara.

Apalagi cita-cita generasi sebelum era kita, ya Jadi PNS, punya gaji rutin dan mati masuk surga. Ini soal, kita hidup pada zaman apa. Silahkan saja, Ali mau jadi Youtuber seperti Ata Halilintar atau gamers seperti Jess No Limit, bagi saya bebas-bebas saja.

Tugas kita sebagai orang tua dari generasi Ali, hanya mengarahkan pada nilai-nilai abadi yang kita yakni sebagai prinsip keluarga kita. Seperti, lima prinsip yang selalu saya sampaikan. Yakni, kejujuran, keberanian, kemandirian, tanggung jawab, serta kasih sayang untuk sesama manusia.

Soal kelak Ali mau jadi apa, saya meyakini seperti ini. “Orang yang jujur dia akan berani, orang yang berani dia tidak bergantung pada siapapun, maka dia akan mandiri, mereka yang mandiri akan belajar tangung jawab, ketika dia biasa bertanggung jawab maka dia akan belajar akan kasih sayang”.
Kedua, Saya setuju dengan bapak Menteri milenial. Belajar itu bukan untuk demi hasil ujian semata. Apalagi hanya demi tanda bukti kelulusan ijazah dan angka-angka di transkrip nilai.

Kita berdua, sangat paham akan hal ini. Kita sama-sama dosen, kita mengerti bahwa nilai-nilai hasil ujian bukan ukuran mutlak kemampuan setiap orang. Walau saya sejak sekolah dasar terbiasa juara dan kuliah selalu cumlaude. Tapi itu tidak menjamin saya punya kapasitas yang cukup akan ilmu yang saya pelajari.

Kali ini, cubitan halus istri saya itu segera mendarat di lengan saya. Membuat jeda sejenak dari akhir ceramah subuh itu.

Pada intinya, saya dan mama paham bahwa skill dan kompetensi individu itu menjadi penting dimiliki, bukan sekedar mengejar nilai raport atau transkrip.

“Aneh bukan, seorang arsitek kalau tidak bisa menggambar, sarjana komunikasi tidak mengerti ilmu teknis PR atau dasar-dasar menjadi Jurnalis, sarjana politik tidak paham bagaimana riset politik dan kelembagaan politik bekerja”.

Karena itu, kampus dan sekolah harus mampu mendidik generasi selain kemampuan teori juga kemampuan aplikatif. Apalagi, kini kita hidup di era revolusi 4.0 yang menuju 5.0, dimana kemampuan adopsi teknologi baru mutlak di miliki setiap orang.

Gelar-gelar dan angka-angka itu, sekali lagi bukan jaminan akan kompetensi setiap orang. Karena yang terpenting adalah kerendahan hati untuk terus menjadi pembelajar seumur hidup. Saya sendiri tidak pernah malu belajar dari mereka yang junior bahkan mahasiswa saya.

Begitu pula Ali, tidak ada yang salah dari menjadi Atta Halilintar atau Jess No Limit apalagi jadi Nadiem Makarim yang terpenting dia mampu menjaga prinsip-prinsip hidup yang kita punya dan punya skil yang cukup dan kerendahan hati untuk menjadi pembelajar seumur hidup. Sekali lagi belajar bukan demi raport dan angka-angka di transkrip nilai.

Bertepatan dengan kalimat terakhir saya, terdengar suara dengkuran halus. Rupanya, istri saya sudah tertidur pulas.

Posting Komentar

0 Komentar