Dunia yang Melesat, Kamu dimana?



Apakah anda pernah membayangkan chef Juna yang ganteng sekaligus galak, akhirnya menjadi pengangguran karena skill memasak yang dimiliki juri master chef itu, tergantikan oleh robot yang bernama koki spyce?

Begitu pula, kini banyak ibu rumah tangga di kota besar tidak perlu lagi repot kursus memasak dan menyewa asisten rumah tangga. Karena hadirnya fasilitas kulkas SmartTag yang bisa memberikan rekomendasi resep masakan berdasarkan isi di dalam kulkas.

Saya juga yakin, kedepan pemimpin sebuah kota tidak perlu repot-repot seperti Tri Rismaharini untuk turun langsung, sampai mesti marah-marah hanya untuk mengontrol lalu lintas dan situasi taman kota.

Karena kini sudah ada aplikasi Qlue yang akan memberikan laporan real-time lengkap dengan visual data yang membuat para walikota sampai gubernur, bahkan Presiden dapat mengambil keputusan yang terbaik bagi kehidupan warga tanpa perlu blusukan atau terjun dalam kali banjarsari.

Apakah kita juga sadar, kebiasaan kita berbelanja, kecenderungan berita yang kita konsumsi, sampai iklan yang selalu muncul di layar smartphone kita adalah akibat aplikasi kecerdasan buatan seperti VP Product Marketing yang senantiasa membaca kecenderungan aktivitas pribadi dan kelakuan kita di handphone.

Kini bahkan di cina, sejumlah X Mart hadir yakni mini market tanpa penjaga. Cukup dengan menempelkan QR kode, pintu otomatis terbuka dan anda bisa berbelanja dengan leluasa dan membayar tanpa kasir cashless cukup dengan uang virtual we ChatPay.

Lewat aplikasi kecerdasan buatan, kini ketika berbelanja pakaian atau kosmetik kita tidak perlu kerepotan mencari ruang ganti atau mencoba langsung kosmetik yang akan dibeli, cukup lewat fitur JD Miror memungkinkan pelanggan bisa melihat kesesuaian produk yang akan dibeli lewat kaca virtual.

Bahkan kini, bukan hanya Tony Stark sang Iron Man yang bisa memiliki kepala pelayan canggih seperti Jarvis, saya dan anda juga punya asisten.Cukup dengan google assistant aplikasi yang ada di android handphone kita masing-masing, mereka akan membantu kita membaca berita, menerjemahkan kalimat, sampai memutar musik dan video.

Dunia yang melesat

Membaca buku industry 4.0, ketika dunia dalam satu genggaman yang diterbitkan oleh Mix Marketing ini, membuat saya teringat buku yang pernah saya baca beberapa tahun lampau, dunia yang berlari karya Yasraf.

Jika boleh saya ingin menyampaikan pada Yasraf dunia kini tidak lagi berlari, tapi melesat yang membuat kita tidak lagi bisa mengenali dengan baik wajah bayangan yang datang dan pergi. Termasuk bayangan kita sendiri.

Revolusi industry 4.0 adalah revolusi yang melampaui tiga revolusi yang sudah-sudah. Ketika perubahan berkutat pada perdebatan tentang tenaga manusia digantikan oleh tenaga mesin. Kini kita memasuki abad baru, abad artificial intelligence (Ai) ketika kecerdasan buatan saling bersaing dengan kecerdasan buatan yang lain.

Perdebatan klasik seperti teknologi dan dampak pada manusia, kini rasanya kurang kontekstual. Karena, hampir tidak ada lagi aktivitas kita yang tidak melibatkan piranti teknologi dan kecerdasan buatan dari bangun tidur sampai tidur kembali, kita selalu terkoneksi dan terhubung pada dunia virtual yang kini telah jadi realitas itu sendiri.

Kemewahan Terakhir
Lantas dimanakah kini arti kita sebagai manusia? Ketika, ketergantungan akan teknologi dan kecerdasan buatan yang dibuat oleh ragam aplikasi, begitu memengaruhi kehidupan kita dari sejak bangun tidur sampai tidur kembali.

Menurut saya, jawabanya sederhana. Pada sisi yang paling fundamental dari kita sebagai manusia, yakni kehadiran. Teknologi, tidak bisa mengerti arti sebuah sentuhan ketika kulit bertemu kulit, jantung yang berdetak ketika saling memandang tanpa layar, ekspresi suka dan senang ketika bertemu dan bercakap-cakap, serta makna sentuhan secara langsung antar sesama lawan bicara.

Romantisme kehadiran fisik, kemampuan untuk membaui aroma tubuh ibu, istri dan suami serta kekasaih, belum bisa dikenali dengan baik oleh aplikasi. Demikian pula, sensasi kasar dan halusnya tangan seorang ayah tidak bisa tergantikan oleh layar datar yang kaku.

Karena memang itulah kemewahan terakhir yang kita miliki sebagai manusia di zaman dunia yang semakin melesat. Sesuatu yang saya yakini akan tetap abadi dan sulit tergantikan oleh kehadiran dunia virtual sampai kapanpun, karena sentuhan, aroma dan kecupan rasa tetaplah akan abadi.

Selamat natal dan tahun baru, perbanyak perjumpaan, karena layar tidak bisa menggantikan arti sentuhan.
    



Posting Komentar

0 Komentar